hari krida pertanian merayakan petani di tengah tantangan regenerasi yang mendesak - News | Good News From Indonesia 2026

Hari Krida Pertanian: Merayakan Petani di Tengah Tantangan Regenerasi yang Mendesak

Hari Krida Pertanian: Merayakan Petani di Tengah Tantangan Regenerasi yang Mendesak
images info

Free to use under the Unsplash License by Sandy Z


Kawan GNFI, setiap 21 Juni, Indonesia memperingati Hari Krida Pertanian, sebuah momentum tahunan untuk menghormati jasa para petani, peternak, nelayan, dan seluruh pelaku sektor pertanian yang menjaga ketahanan pangan bangsa.

Namun, di balik seremoni yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad ini, ada satu pertanyaan besar yang patut kita renungkan bersama: siapa yang akan meneruskan profesi mulia ini di masa depan?

Mengapa Tanggal 21 Juni yang Dipilih?

Penetapan tanggal 21 Juni sebagai Hari Krida Pertanian didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria Nomor SK/88/Pts/Mentan/1963, dengan peringatan pertama kali digelar pada 1972.

Pemilihan tanggal ini bukan tanpa alasan ilmiah. Berdasarkan sistem penanggalan tradisional Pranata Mangsa, yang telah digunakan masyarakat Jawa sejak akhir abad ke-19 untuk menentukan aktivitas bercocok tanam, tanggal 21 Juni menandai pergantian siklus musim sekaligus dimulainya musim kemarau pertama.

Kata "krida" sendiri berasal dari bahasa Indonesia yang berarti tindakan, perbuatan, atau karya. Karena itu, Hari Krida Pertanian dimaknai sebagai bentuk penghargaan atas tindakan nyata para pelaku pertanian dalam menyediakan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia, sekaligus ajakan untuk terus meningkatkan produktivitas demi mewujudkan ketahanan pangan nasional yang mandiri.

baca juga

Sektor yang Masih jadi Tulang Punggung Ekonomi

Kawan perlu tahu, meski sering dianggap sektor "tradisional", pertanian justru masih menjadi penopang penting perekonomian nasional hingga hari ini. Berdasarkan data BPS, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,12 persen secara tahunan pada triwulan II 2025.

Kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap Produk Domestik Bruto nasional berada pada kisaran 13,83 persen. Bahkan, angka ini terus meningkat hingga mencapai 14,35 persen pada triwulan III 2025. Menjadikannya sektor kedua terbesar penyumbang PDB setelah industri pengolahan.

Angka ini menegaskan satu hal penting: pertanian bukan sektor yang ketinggalan zaman, melainkan tulang punggung ekonomi yang nyata, terutama bagi jutaan keluarga di wilayah perdesaan Indonesia.

Krisis yang Sering Terlewatkan: Siapa yang Akan menjadi Petani Esok Hari?

Namun, di tengah kontribusi besar ini, ada persoalan serius yang sering luput dari perhatian publik. Berdasarkan Hasil Sensus Pertanian 2023 yang dirilis BPS, jumlah petani di Indonesia tercatat sebanyak 27,8 juta orang, dengan rata-rata usia petani mencapai 55 tahun dan 79 persen di antaranya berusia di atas 40 tahun.

Yang lebih mengkhawatirkan, jumlah petani berusia 19 hingga 39 tahun hanya sebanyak 6.183.009 orang, atau sekitar 21,93 persen dari total petani di Indonesia.

Dengan kata lain, kurang dari seperempat petani Indonesia saat ini berasal dari kalangan muda. Jika tren ini terus berlanjut tanpa intervensi yang serius, regenerasi petani akan menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan ketahanan pangan nasional dalam beberapa dekade mendatang.

baca juga

Mengapa Anak Muda Enggan jadi Petani?

Persoalan ini bukan semata soal minat, melainkan persoalan struktural yang kompleks. Banyak anak muda menganggap profesi petani sebagai pekerjaan berat, kurang bergengsi, dan berpenghasilan rendah dibanding sektor industri atau jasa.

Ditambah lagi, harga lahan pertanian yang terus meningkat membuat generasi muda kesulitan memiliki atau mengelola lahan sendiri, sementara akses terhadap modal dan perbankan kerap terhambat karena keterbatasan jaminan aset.

Faktor lain yang turut berkontribusi adalah kesenjangan pendidikan vokasi. Banyak sekolah atau perguruan tinggi pertanian yang belum sepenuhnya menyesuaikan kurikulumnya dengan perkembangan teknologi modern. Dengan begitu, anak muda yang sebenarnya tertarik pada dunia pertanian sering kali tidak mendapat dukungan atau lingkungan yang mendorong inovasi.

Harapan dari Transformasi Digital

Kawan GNFI, di tengah tantangan tersebut, ada secercah optimisme yang patut diapresiasi. Kemunculan komunitas-komunitas petani muda organik, startup agrotech, dan koperasi digital menunjukkan bahwa generasi muda sesungguhnya siap berperan aktif dalam sektor pertanian, asalkan diberi ruang dan dukungan yang memadai.

Pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things, drone mapping, precision farming, dan sistem irigasi pintar dinilai mampu meningkatkan produktivitas pertanian hingga 30 persen, sekaligus menekan biaya produksi hingga 20 persen.

Teknologi digital juga mempermudah pemasaran hasil pertanian melalui platform e-commerce dan media sosial, membuka akses pasar yang jauh lebih luas dibanding cara konvensional.

Regenerasi petani pun bukan sekadar soal kuantitas semata, melainkan juga transformasi citra. Petani hari ini tidak lagi sekadar "tukang cangkul", tetapi bisa menjelma menjadi agropreneur, inovator teknologi, dan penggerak ekonomi desa yang sejajar dengan profesi modern lainnya.

Merayakan dengan Aksi Nyata, Bukan Sekadar Seremoni

Perayaan Hari Krida Pertanian biasanya diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari doa bersama sebagai wujud syukur, gelar hasil pertanian, pemberian penghargaan kepada petani berprestasi, hingga pameran teknologi dan diskusi pengembangan pertanian berkelanjutan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Namun, Kawan, peringatan ini idealnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan belaka. Hari Krida Pertanian seharusnya menjadi momentum refleksi yang lebih dalam, untuk benar-benar mempertanyakan: sudahkah kita, sebagai bangsa, memberikan dukungan yang cukup agar profesi petani kembali menjadi pilihan karier yang menarik, menjanjikan, dan dibanggakan oleh generasi muda Indonesia?

Sebab pada akhirnya, ketahanan pangan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas lahan yang kita miliki, tetapi oleh seberapa banyak anak muda yang berani dan mau melanjutkan perjuangan para petani yang selama ini menjaga isi piring kita setiap hari.

Selamat Hari Krida Pertanian, Kawan GNFI. Mari jadikan momentum ini sebagai pengingat untuk terus mendukung dan menghargai mereka yang bekerja keras menjaga ketahanan pangan negeri ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.