belanja online makin mudah tetapi bagaimana keamanannya - News | Good News From Indonesia 2026

Belanja Online Makin Mudah, tetapi Bagaimana Keamanannya?

Belanja Online Makin Mudah, tetapi Bagaimana Keamanannya?
images info

Waspada terhadap seller yang diam-diam mencuri datamu (src: Copilot AI)


Pukul sepuluh malam, seseorang masih terjaga sambil menggulir layar ponselnya, memilih satu per satu barang yang masuk ke keranjang belanja.

Tak butuh waktu lama, pesanan selesai dan tinggal menunggu kurir mengantarkannya keesokan hari. Begitulah gambaran kebiasaan belanja online masyarakat Indonesia masa kini, di mana toko tak lagi punya jam buka dan tutup.

Kemudahan ini menjadi salah satu pencapaian besar transformasi digital Indonesia. Namun di balik kemudahan tersebut, penting bagi Kawan untuk tetap memahami sisi keamanannya, karena kasus penipuan, kebocoran data pribadi, hingga peretasan akun terus bermunculan seiring berkembangnya teknologi.

Untungnya, semakin ke sini semakin banyak pula cara dan kesadaran yang berkembang untuk membuat aktivitas belanja online tetap aman dan nyaman bagi semua orang.

Mengapa Belanja Online Semakin Diminati?

Daya tarik utama belanja online terletak pada kepraktisannya. Transaksi bisa dilakukan kapan saja tanpa perlu mengantre atau menghadapi kemacetan di jalan. Tinggal beberapa kali sentuhan di layar, barang yang diinginkan sudah dalam perjalanan menuju rumah.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh dua pakar perilaku konsumen, Harahap dan Amanah pada tahun 2018 lalu, keputusan konsumen untuk berbelanja online dipengaruhi oleh dua kelompok faktor.

Faktor eksternal datang dari luar diri konsumen, seperti harga yang ditawarkan, reputasi toko, dan ulasan pengguna lain. Sementara faktor internal berkaitan dengan motivasi pribadi, kondisi emosional, hingga latar belakang sosial konsumen itu sendiri.

Kombinasi keduanya membuat keputusan berbelanja terkadang bersifat impulsif, namun di lain waktu bisa juga rasional dan terencana matang.

Persaingan antarplatform e-commerce yang semakin ketat turut memperkuat fenomena ini. Setiap platform berlomba menawarkan promo, gratis ongkos kirim, dan kemudahan metode pembayaran demi menarik perhatian konsumen. Pada akhirnya, situasi ini menguntungkan konsumen dan membuat belanja online terasa jauh lebih menarik dibandingkan cara belanja konvensional.

baca juga

Mengenali Risiko agar Tetap Waspada

Di balik segala kemudahannya, belanja online tentu memiliki sejumlah risiko yang baik diketahui agar Kawan bisa lebih siap menghadapinya.

Salah satu yang umum terjadi adalah toko fiktif yang menawarkan harga jauh di bawah pasaran untuk menarik calon pembeli, lalu menghilang begitu pembayaran masuk tanpa pernah mengirimkan barang yang dijanjikan.

Satria Nur Fauzi, peneliti hukum dari Universitas Sebelas Maret, dalam penelitiannya pada tahun 2018 mengidentifikasi tiga bentuk penipuan yang umum terjadi dalam transaksi e-commerce. Pertama, penipuan diskon palsu, yaitu harga asli dinaikkan terlebih dahulu sebelum diberi label diskon besar agar tampak lebih murah dari sebenarnya.

Kedua, barang yang diterima tidak sesuai dengan deskripsi atau gambar yang ditampilkan di etalase toko online. Ketiga, penjual fiktif yang sama sekali tidak memiliki barang dan hanya bertujuan mengumpulkan uang dari calon korban.

Selain modus di atas, ada pula penipuan yang berkedok customer service resmi sebuah platform belanja, di mana pelaku menghubungi korban lewat telepon atau pesan singkat lalu mengarahkannya mengikuti prosedur tertentu.

Meski begitu, kabar baiknya, semakin banyak masyarakat dan platform e-commerce yang kini lebih sigap mengedukasi dan melaporkan modus semacam ini, sehingga makin banyak pula korban yang berhasil terselamatkan sebelum kerugian terjadi.

Langkah Aman Sebelum Bertransaksi

Seperti yang ditulis Pamungkas dalam artikel yang diterbitkan KiriminAja pada tahun 2023, memahami cara belanja online yang aman kini menjadi bekal penting bagi setiap orang, terutama di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Tanah Air.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa Kawan lakukan untuk meminimalkan risiko tersebut. Pertama, memeriksa reputasi penjual melalui ulasan pembeli sebelumnya dan jumlah transaksi yang telah berhasil dilakukan.

Kedua, bertransaksi melalui platform resmi yang menyediakan sistem rekening bersama, sehingga dana tidak langsung diteruskan ke penjual sebelum barang diterima dan dikonfirmasi dalam kondisi baik.

Ketiga, membandingkan harga dari beberapa toko serta memeriksa detail produk secara teliti sebelum memutuskan untuk membeli.

baca juga

Keempat, menyimpan bukti transaksi seperti konfirmasi pesanan dan resi pengiriman, yang akan sangat berguna apabila terjadi sengketa di kemudian hari.

Dari sisi hukum, konsumen Indonesia juga sudah terlindungi melalui beberapa regulasi, di antaranya Pasal 378 KUHP tentang penipuan, Pasal 28 ayat 1 UU ITE, serta Pasal 9 ayat 1 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Regulasi ini menjadi bukti bahwa negara turut hadir melindungi konsumen di tengah pesatnya pertumbuhan transaksi digital.

Bijak Berbelanja, Aman Bertransaksi

Belanja online adalah salah satu kemajuan yang membuat aktivitas sehari-hari masyarakat Indonesia menjadi lebih praktis dan efisien.

Dengan semakin banyaknya edukasi, regulasi, dan kesadaran yang berkembang, kemudahan ini bisa terus dinikmati secara lebih aman dari waktu ke waktu.

Kuncinya sederhana, yaitu menjadi konsumen yang lebih cermat: memilih platform yang terpercaya, meneliti reputasi penjual sebelum membeli, melindungi data pribadi, dan memanfaatkan mekanisme perlindungan yang sudah tersedia.

Dengan begitu, Kawan bisa terus menikmati kemudahan berbelanja online tanpa harus mengorbankan rasa aman.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IL
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.