masjid agung banten akulturasi 5 budaya dalam salah satu masjid tertua di nusantara - News | Good News From Indonesia 2026

Masjid Agung Banten, Akulturasi 5 Budaya dalam Salah Satu Masjid Tertua di Nusantara

Masjid Agung Banten, Akulturasi 5 Budaya dalam Salah Satu Masjid Tertua di Nusantara
images info

Dok. djkn.kemenkeu.go.id


Di kawasan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, berdiri sebuah masjid yang usianya sudah melampaui empat abad. Masjid Agung Banten pertama kali dibangun pada 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin, sultan pertama Kesultanan Banten yang juga merupakan putra pertama Sunan Gunung Jati.

Masjid ini adalah salah satu dari sedikit peninggalan yang masih bisa ditemui dari bekas Kota Kuno Banten, pusat perdagangan yang pernah menjadi salah satu yang paling ramai di Nusantara.

Setiap hari masjid ini dikunjungi peziarah dari berbagai penjuru Pulau Jawa, bukan hanya dari Banten dan Jawa Barat. Mereka datang untuk beribadah sekaligus menziarahi makam para sultan Banten yang berada di dalam kompleks yang sama.

 

Sekilas Mengenai Masjid Agung Banten

Pembangunan Masjid Agung Banten tidak selesai dalam satu masa pemerintahan. Bangunan utama dengan atap tumpeng bersusun lima dirancang oleh Cek Ban Cut, seorang Tionghoa, pada masa Sultan Maulana Hasanuddin.

Pada masa Sultan Maulana Yusuf yang memerintah antara 1570 hingga 1580, serambi masjid di sisi timur ditambahkan dengan atap limasan bersusun dua. Pawestren atau aula khusus perempuan juga ditambahkan pada periode ini.

Menara setinggi 24 meter yang kini menjadi penanda paling khas dari masjid ini dibangun pada 1632. Menara ini dirancang oleh Hendrik Lucaasz Cardeel, seorang warga Belanda yang masuk Islam.

Bentuknya yang menyerupai mercusuar membuatnya mudah dikenali dari kejauhan dan menjadi salah satu yang paling unik di antara menara-menara masjid tua di Indonesia. Pada periode yang sama, bangunan tiyamah dua lantai bergaya Baroque Eropa juga ditambahkan ke kompleks, mengikuti desain Cardeel yang sama.

Selama berdirinya hingga 1987, Masjid Agung Banten sudah mengalami delapan kali pemugaran, dari yang dilakukan Dinas Purbakala pada 1923 hingga penggantian cungkup makam Sultan Hasanuddin dengan marmer pada 1987. Masjid ini berkapasitas sekitar 2.000 orang dan masih aktif digunakan untuk ibadah sehari-hari.

 

Daya Tarik Utama Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten menarik bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai objek yang memperlihatkan bagaimana berbagai peradaban bersentuhan di Banten pada abad ke-16 dan 17.

Yang membuat Masjid Agung Banten berbeda dari masjid-masjid tua lainnya di Indonesia adalah perpaduan pengaruh budaya yang begitu beragam dalam satu bangunan.

Dalam kompleks masjid ini bisa ditemukan atap tumpeng bersusun lima bergaya Jawa, menara yang mirip mercusuar bergaya Mughal, bangunan tiyamah dua lantai bergaya Belanda, sentuhan arsitektur Tiongkok pada tiang penyangga, hingga sisa tradisi Hindu-Buddha pada konsep pembagian halaman kompleksnya.

Semua itu tidak berdiri terpisah, melainkan berbaur menjadi satu kesatuan yang tetap terjaga hingga sekarang.

Bangunan utamanya memiliki atap tumpeng bersusun lima yang menjadi ciri khas arsitektur Jawa kuno. Di dalamnya ada ruang ibadah utama dan pawestren yang juga bergaya Jawa. Serambi selatan kemudian diubah menjadi area pemakaman yang berisi sekitar 15 kuburan.

Di sini tersimpan makam beberapa sultan besar Banten, yakni Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar, Sultan Maulana Muhammad, dan Sultan Zainul Abidin. Bagi banyak peziarah, menziarahi makam-makam ini adalah tujuan utama kedatangan mereka.

Menara masjid yang dirancang Cardeel menjadi yang paling mudah dilihat dari luar kompleks. Tingginya 24 meter dengan bentuk yang tidak ditemukan pada menara masjid lain di Nusantara. Di dekat menara juga terdapat taman bergaya Indis yang dibangun atas perintah Sultan Abdul Kahhar sebagai tempat bermusyawarah dan berdiskusi masalah agama, sehingga memadukan unsur Eropa dan lokal dalam satu ruang terbuka.

Elemen arsitektur dari Islam, Hindu, Buddha, Tiongkok, dan Belanda yang berpadu di sini mencerminkan betapa ramainya arus perdagangan dan budaya yang melewati Banten di masa kejayaannya.

Cardeel bahkan menggabungkan fitur arsitektur Baroque Eropa awal pada menara, tiyamah, dan dinding masjid, sehingga kompleks ini menjadi saksi akulturasi yang tidak banyak tersisa di Indonesia.

 

Akses Menuju Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten terletak di kawasan Banten Lama, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten. Dari pusat Kota Serang, perjalanan menuju kawasan Kasemen bisa ditempuh sekitar 10 hingga 15 menit menggunakan kendaraan bermotor.

Kawasan Banten Lama ini juga menjadi rumah bagi situs-situs bersejarah lain seperti Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, dan Pelabuhan Karangantu, sehingga kunjungan ke masjid ini bisa sekaligus digabungkan dengan wisata sejarah lainnya dalam satu rute.

Kendaraan pribadi adalah pilihan paling praktis, meskipun angkutan umum dari pusat Kota Serang menuju kawasan Kasemen juga tersedia. Jalan menuju lokasi sudah tertata dan ramah untuk berbagai jenis kendaraan roda dua maupun roda empat.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Masjid Agung Banten buka setiap hari dan tidak memungut tiket masuk alias gratis. Pengunjung yang datang untuk beribadah maupun berziarah bisa masuk kapan saja sesuai waktu yang memungkinkan.

Fasilitas di kawasan ini sudah cukup memadai untuk mendukung kenyamanan pengunjung dalam jumlah besar, mengingat masjid ini memang terbiasa menerima ribuan peziarah setiap harinya.

 

Ayo Berkunjung ke Masjid Agung Banten!

Masjid Agung Banten layak dikunjungi baik untuk Kawan GNFI yang datang dengan tujuan wisata religi maupun yang tertarik pada sejarah arsitektur. Kalau datang ke kawasan Banten Lama, luangkan waktu lebih karena situs-situs di sekitarnya juga menyimpan cerita yang tidak kalah menarik untuk ditelusuri dalam satu kunjungan.

Jadi, kapan Kawan mau berkunjung ke Masjid Agung Banten?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.