Ada daerah yang dikenang karena pemandangannya. Ada pula yang tinggal lebih lama di ingatan karena rasanya.
Pernahkah Kawan pulang dari sebuah perjalanan, lalu yang paling dirindukan justru bukan tempat wisatanya? Bukan gedung bersejarahnya. Bukan pula spot fotonya. Melainkan semangkuk makanan hangat yang disantap sambil mendengar percakapan orang-orang lokal.
Mungkin memang begitu cara kuliner bekerja. Ia tidak sekadar mengenyangkan, tetapi menyimpan cerita tentang tanah tempat ia berasal. Dan Borneo atau Kalimantan punya banyak cerita yang bisa dicicipi.
Di pulau terbesar ketiga di dunia ini, makanan lahir dari sungai yang memberi kehidupan, hutan yang menyediakan bahan pangan, serta perjumpaan beragam budaya Dayak, Banjar, Melayu, Tionghoa, hingga Bugis. Hasilnya adalah kuliner yang tidak hanya lezat, tetapi juga mengandung identitas.
Makanan Khas di Meja Makan Borneo
Nasi Bekepor, Kehangatan dari Tanah Kutai
Jika Jawa punya nasi liwet, masyarakat Kutai di Kalimantan Timur memiliki nasi bekepor. Sekilas terlihat sederhana: nasi yang dimasak bersama rempah, ikan asin, daun kemangi, cabai, dan perasan jeruk nipis. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuatnya istimewa.
Dahulu, hidangan ini kerap disajikan dalam lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara sebelum akhirnya menjadi santapan masyarakat luas.
Menurut IDNTimes, aroma khas nasi bekepor berasal dari perpaduan ikan asin, daun kemangi, dan jeruk nipis yang dimasak bersama nasi sehingga menghasilkan cita rasa gurih yang berbeda dari nasi berbumbu di daerah lain. Mungkin itu sebabnya nasi bekepor terasa akrab. Seperti rumah yang selalu tahu cara menyambut kepulangan.
Soto Banjar, Semangkuk Kehangatan Berempah
Bergeser ke Kalimantan Selatan, ada soto Banjar yang hampir selalu masuk daftar kuliner wajib coba. Kuahnya bening. Tetapi jangan tertipu.
Di balik tampilannya yang sederhana, ada aroma kayu manis, kapulaga, pala, dan cengkih yang perlahan memenuhi indera penciuman.
DetikKalimantan mencatat bahwa kekuatan soto Banjar memang terletak pada racikan rempah-rempah tersebut yang membedakannya dari soto di daerah lain. Soto Banjar mengajarkan bahwa sesuatu tidak harus tampak mencolok untuk meninggalkan kesan mendalam. Kadang, yang sederhana justru paling lama dikenang.
Pengkang, Kecil-Kecil Bikin Kangen
Di Kalimantan Barat, ada camilan bernama pengkang. Makanan ini terbuat dari beras ketan yang diberi isian udang ebi, dibungkus daun pisang, lalu dipanggang di atas bara api. Ukurannya mungil, tetapi aromanya sulit dilupakan.
Menurut Okelihat, pengkang biasanya disantap bersama sambal kepah yang menghadirkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan sedikit manis.
Mungkin begitulah kenangan bekerja. Tidak selalu hadir dalam porsi besar. Kadang cukup sebesar genggaman tangan.
Manday, Bukti Kreativitas Orang Borneo
Siapa sangka kulit cempedak bisa berubah menjadi hidangan lezat? Manday adalah jawabannya. Kuliner khas Kalimantan Selatan ini dibuat dari kulit cempedak yang difermentasi menggunakan garam, kemudian dimasak atau digoreng hingga menghasilkan rasa gurih dengan sedikit sentuhan asam.
IDNTimes menyebut manday sebagai salah satu kuliner paling unik dari Kalimantan karena lahir dari kebiasaan masyarakat mengolah bagian buah yang sering dianggap limbah agar tidak terbuang sia-sia. Jauh sebelum istilah zerowaste menjadi tren, masyarakat Borneo ternyata telah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kalumpe, "Rasa Hutan" dalam Semangkuk Sayur
Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, kalumpe bukan sekadar sayur. Hidangan ini dibuat dari daun singkong yang ditumbuk halus, dimasak dengan santan dan rempah-rempah. Teksturnya lembut. Rasanya gurih.
IDNTimes mencatat bahwa keunikan kalumpe terletak pada proses penumbukan daun singkong hingga menghasilkan tekstur yang berbeda dari sayur daun singkong biasa. Setiap suapan seolah mengingatkan bahwa alam bukan sekadar sesuatu yang diambil manfaatnya. Ia juga perlu dihormati.
Kuliner sebagai Cara Mengenal Indonesia
Sering kali kita menganggap makanan hanya sebagai pelengkap perjalanan. Padahal, lewat makanan kita bisa memahami banyak hal. Tentang bagaimana masyarakat beradaptasi dengan alam. Tentang nilai kebersamaan. Tentang kreativitas menghadapi keterbatasan.
Kuliner khas Borneo memperlihatkan bahwa identitas tidak hanya tersimpan dalam buku sejarah atau museum. Ia hadir di meja makan. Dalam resep yang diwariskan dari nenek kepada cucu hingga aroma dapur yang memenuhi rumah menjelang sore. Tentunya juga, dari tangan-tangan yang masih setia memasak seperti leluhurnya dulu.
Jangan Pulang dengan Perut Kosong
Mungkin mencintai Indonesia tidak selalu berarti menjelajahi tempat-tempat jauh. Kadang, cukup dengan berani mencicipi sesuatu yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Karena dari satu suapan, kita bisa belajar tentang sejarah. Dari satu aroma, kita bisa memahami budaya.
Dan dari satu meja makan, kita bisa menyadari bahwa Indonesia terlalu kaya untuk hanya dinikmati lewat layar ponsel. Jadi, jika suatu hari langkahmu sampai di Borneo, jangan buru-buru pulang.
Duduklah lebih lama. Pesan semangkuk soto Banjar, sepiring nasi bekepor, atau sepotong pengkang yang baru diangkat dari bara. Lalu biarkan lidahmu melakukan apa yang sering gagal dilakukan peta: mengenal sebuah tempat dengan lebih dekat, lebih jujur, dan lebih manusiawi.
Sebab kadang, cara terbaik memahami Indonesia bukan dengan bertanya, Ke mana kita pergi? Melainkan, Apa yang pernah membuat orang-orang di sana berkumpul di satu meja?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


