ngeregah pakhar tradisi potluck masyarakat suku ranau yang penuh hikmah reliji - News | Good News From Indonesia 2026

Ngeregah Pakhar, Tradisi Potluck Masyarakat Suku Ranau yang Penuh Hikmah Reliji

Ngeregah Pakhar, Tradisi Potluck Masyarakat Suku Ranau yang Penuh Hikmah Reliji
images info

Instagram pemkab_okuselatan


Kawan GNFI, ternyata sejak sekitar abad ke-15, masyarakat suku Ranau, OKU Selatan, Sumatra Selatan sudah familiar dengan budaya potluck loh, tetapi tentunya dengan khas kearifan lokal.

Pada masa lampau sebagian besar masyarakat Ranau mencari nafkah dengan cara menangkap ikan, bertani, berkebun, dan berburu, sehingga terkadang membuat mereka berjauhan disebabkan kebutuhan membuka lahan-lahan baru di perbukitan. Jadi agar selalu ingat dengan kampung kelahiran, terbentuklah tradisi ngekhegah pahakh ini supaya para warga Ranau dapat berkumpul kembali merasakan kehangatan silaturahmi.

Ngeregah Pakhar atau Ngekhegah Pahakh secara literal jika diterjemahkan satu-persatu, Ngekhegah berarti Turun/Menurunkan, dan Pahakh adalah Tempayan yang berbentuk bundar dengan tatakan penyanggah dari bahan kuningan.

Acara adat Ngekhegah Pahakh ini masih lestari hingga sekarang khususnya di 4 pekon tuha (desa tertua) suku Ranau yaitu Desa Surabaya, Desa Banding Agung, Desa Sugih Waras, dan Desa Suka Negeri.

baca juga

Persiapan Ngekhegah Pahakh

Pelaksanaan ngekhegah pahakh dilakukan 3 kali dalam setahun yaitu pada saat 2 hari sebelum bulan Ramadan (ruah-an), hari ke-2 Idul Fitri, serta hari ke-2 Idul Adha. Pada momen-momen tersebut, masyarakat yang bekerja di perbukitan biasanya turun dari bukit, dan para perantau di daerah atau pulau-pulau lain pun kembali mudik, dengan demikian mereka turut berpartisipasi dalam acara ngeregah pakhar.

Lazimnya, para perwakilan tokoh adat, tokoh masyarakat, serta tokoh agama dari masing-masing desa akan berkumpul untuk melakukan musyawarah menentukan giliran tempat, hari, dan jam acara. Sebagai contoh; 2 hari sebelum puasa Ramadan, acara pertama dilaksanakan di Desa Sugih Waras sehabis ba'da dzuhur. Selanjutnya Desa Suka Negeri mendapat giliran sesudah ba'da ashar. Lalu keesokan hari (1 hari sebelum Ramadan), acara dilaksanakan pagi hari di Desa Banding Agung dan di Desa Surabaya untuk acara sore hari nya.

Para pemuda desa kemudian mengumumkan ke warga-warga setempat melalui pengeras suara di masjid dan surau, serta dengan datang langsung ke rumah-rumah.

Warga-warga di desa yang menjadi tuan rumah acara akan bahu-membahu sejak sehari sebelum pelaksanaan, ada yang membeli bahan-bahan masakan serta bumbu dapur, ada yang menyapu dan mengepel lantai surau, ada yang mengelap jendela-jendela surau, baik tua muda, laki-laki maupun perempuan semua ikut tolong-menolong sampai ke proses akhir persiapan yang memasak masakan untuk dibawa dengan pahakh keesokan harinya.

Tata Cara Prosesi Ngekhegah Pahakh

Pada saat hari H, para pria di desa tuan rumah akan bergegas mengangkat pakhar dengan cara ditopang ke depan dada atau di atas kepalanya dan dibawa ke surau sebelum para tamu undangan hadir.

Saat pahakh telah di-khegah-kan (diturunkan) dan disiapkan di dalam surau, maka para tuan rumah yang diwakili oleh perangkat desa, tokoh agama, serta tokoh adat menyambut para tamu undangan di depan surau.

Inilah rundown dari acara ngeregah pakhar; pembukaan dipimpin oleh pembawa acara, lalu disambung dengan sambutan dengan pemerintah setempat, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan perwakilan para tamu undangan. Dalam sedekah ruah-an menyambut Ramadan, prosesi berikutnya adalah pembacaan yasin, tahlil, serta dzikir bersama dipimpin oleh tokoh agama atau kyai. Jika dalam rangka Idul Fitri dan Idul Adha, maka acara yasinan diganti menjadi tausyiah dan siraman rohani olah kyai atau tokoh agama. Setelah itu dilakukan makan bersama, dan diakhiri dengan do'a penutup.

Cara menyantap hidangan dari pakhar pun cukup unik, para peserta duduk bersila mengitari pakhar, 1 pakhar untuk dimakan sharing oleh 3 sampai 4 orang, kemudian bisa juga saling bertukar makanan dengan pakhar yang ada di sebelah kanan dan kiri.

Oh iya, Kawan GNFI, ada aturan penting tak tertulis yang selalu dipatuhi oleh seluruh partisipan loh, yaitu tidak boleh ada makanan dari pakhar yang tersisa, hal ini tentu sangat menyenangkan hati tuan rumah yang telah memasak dan mempersiapkan acara. Namun bagaimana jika para undangan sudah kekenyangan dan tidak sanggup menghabiskan hidangan? Tenang, para tamu boleh kok membawa pulang isi pakhar yang tidak habis, karena tuan rumah juga menyediakan kantung pembungkus apabila diperlukan.

baca juga

Norma Agama serta Nilai dan Simbol Pelaksanaan Ngeregah Pakhar

Tradisi turun-temurun masyarakat Ranau ini memberikan ruang untuk berkumpul dan tidak membeda-bedakan antara rakyat biasa dan pemimpin, baik miskin maupun kaya, semua dapat hadir untuk berbagi cerita akan pengalaman yang telah mereka lalui. Tidak ada paksaan pula dalam pelaksanaannya, sehingga bagi yang berhalangan untuk berpatisipasi pun tidak akan mendapatkan sangsi.

Manfaat dan kebaikan dari ngeregah pakhar yang dirasakan oleh para warga adalah tali silaturahmi selalu terjaga dengan erat, serta menjadi sarana bersyukur atas kesehatan, rezeki, dan waktu yang diberikan oleh Allah SWT Sang Maha Pencipta.

Pakhar sendiri adalah simbol kekuatan dan persatuan masyarakat Ranau yang tidak hancur dimakan zaman, berwarna kuning emas melambangkan kesuburan dan kemakmuran dari hasil bumi dan kekayaan alamnya. Tudung dari pakhar menjadi lambang pemimpin atau pemangku desa setempat yang mengayomi dan menegakkan keadilan untuk seluruh masyarakat, sedangkan warna merah dari kain tudung menandakan ukhuwah dan solidaritas para umat muslim.

Ngeregah Pakhar pun dalam praktiknya menjadi simbol bersedekah, tanda syukur, dan harapan akan pencerahan serta pengingat akan kehidupan di dunia dan akhirat melalui tausyiah agama serta do'a-do'a yang dipanjatkan.

Kawan GNFI, Di tengah zaman yang semakin sibuk dan serba cepat, Ngekhegah Pahakh mengingatkan bahwa pulang bukan sekadar kembali ke tempat asal, melainkan kembali merawat hubungan yang membuat kita merasa memiliki rumah.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.