"Orang mulai memperhatikanku. Tapi tidak seperti perhatian mereka saat Abah masih ada. Kini mereka memperhatikanku sebagai janda muda."
Kalimat tersebut mungkin merupakan salah satu bagian paling menyakitkan dalam cerpen Nyai Sobir karya A. Mustofa Bisri. Bukan karena menggambarkan kehilangan seorang suami, melainkan karena menunjukkan bagaimana masyarakat sering kali gagal memahami duka seorang perempuan.
Alih-alih memberi ruang untuk berduka, perhatian justru beralih pada status barunya: janda.
Di sinilah Nyai Sobir menjadi lebih dari sekadar cerita tentang kehilangan. Cerpen yang termuat dalam kumpulan Konvensi ini menghadirkan kritik yang masih terasa relevan hingga hari ini.
Gus Mus tidak hanya berbicara tentang kematian seorang kiai besar, tetapi juga tentang cara masyarakat membentuk, mengawasi, bahkan mengendalikan kehidupan perempuan melalui berbagai konvensi sosial yang dianggap wajar.
Setelah Kiai Sobir wafat, ribuan orang datang melayat. Mereka menangisi seorang guru, pemimpin, dan tempat bersandar. Namun di tengah lautan pelayat itu, Nyai Sobir justru merasa sendirian.
Tidak ada yang benar-benar datang untuk memahami apa yang sedang ia rasakan sebagai seorang istri yang kehilangan pasangan hidup. Kesedihannya tenggelam di antara kesedihan kolektif masyarakat terhadap sosok Kiai Sobir.
Yang menarik, perhatian masyarakat tidak berhenti setelah masa berkabung selesai. Namun perhatian itu berubah bentuk. Jika sebelumnya Nyai Sobir dihormati sebagai pendamping seorang kiai besar, kini ia dipandang sebagai seorang janda muda yang harus segera dicarikan solusi.
Lamaran mulai berdatangan. Masyarakat mulai membicarakan siapa yang pantas menjadi suaminya. Bahkan masa depan pesantren lebih sering dibahas daripada keinginan Nyai Sobir sendiri.
Pertanyaannya, mengapa masyarakat begitu sibuk memikirkan siapa yang akan mendampingi Nyai Sobir, tetapi jarang bertanya apakah ia sudah siap untuk membuka lembaran baru?
Fenomena ini sesungguhnya tidak hanya terjadi dalam dunia pesantren. Di era modern, perempuan yang kehilangan pasangan sering kali masih menghadapi situasi serupa.
Ketika seorang laki-laki menjadi duda, perhatian biasanya tertuju pada bagaimana ia menjalani hidup setelah kehilangan. Namun ketika seorang perempuan menjadi janda, perhatian publik kerap bergeser pada statusnya.
Pertanyaan yang muncul bukan lagi tentang perasaannya, melainkan tentang kapan ia menikah lagi, dengan siapa ia akan menikah, atau bagaimana ia akan menjalani hidup tanpa laki-laki di sisinya.
Tanpa disadari, masyarakat sering mengubah perempuan yang sedang berduka menjadi objek diskusi sosial. Kesedihannya tidak diberi cukup ruang karena orang lain lebih tertarik membicarakan masa depannya. Seolah-olah status janda merupakan persoalan yang harus segera diselesaikan.
Di sinilah kritik sosial Gus Mus terasa sangat tajam. Melalui tokoh Nyai Sobir, ia memperlihatkan bagaimana konvensi sosial bekerja secara halus. Tidak ada tokoh yang secara terang-terangan menindas Nyai Sobir.
Tidak ada larangan atau paksaan yang disampaikan secara langsung. Namun, tekanan sosial hadir melalui percakapan, harapan, dan asumsi-asumsi masyarakat tentang bagaimana seorang janda seharusnya hidup.
Ironisnya, Nyai Sobir bukan perempuan yang lemah atau tidak berdaya. Ia hafal Al-Qur'an, aktif mengelola pesantren, memiliki kemampuan berdakwah, dan dihormati oleh para santri.
Namun, semua kapasitas itu seolah kalah penting dibandingkan statusnya sebagai janda. Masyarakat lebih sibuk mencari laki-laki yang dianggap layak mendampinginya daripada mengakui kemampuan yang telah ia miliki.
Cerpen ini mengajak kita mempertanyakan sesuatu yang sering dianggap normal. Mengapa perempuan yang kehilangan suami selalu diasumsikan membutuhkan pengganti? Mengapa kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya sering kali tidak cukup untuk membuat masyarakat percaya bahwa ia mampu berdiri sendiri? Dan mengapa keputusan tentang masa depan perempuan masih kerap menjadi urusan banyak orang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Nyai Sobir terasa sangat dekat dengan realitas Indonesia hari ini. Di tengah kemajuan pendidikan, meningkatnya partisipasi perempuan dalam berbagai bidang, dan semakin terbukanya ruang publik, masih ada konvensi-konvensi lama yang terus hidup dalam cara kita memandang perempuan.
Bentuknya mungkin tidak lagi sekeras dahulu. Namun, jejaknya masih dapat ditemukan dalam komentar, nasihat, atau ekspektasi sosial yang mengiringi kehidupan perempuan setelah kehilangan.
Karena itu, Nyai Sobir layak dibaca bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai cermin sosial. Cerpen ini mengingatkan bahwa empati tidak cukup diwujudkan melalui rasa iba.
Empati juga berarti memberi seseorang ruang untuk menentukan hidupnya sendiri. Termasuk ruang untuk berduka tanpa diburu pertanyaan tentang masa depan yang belum siap ia jawab.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan Nyai Sobir bukanlah orang-orang yang sibuk menentukan siapa suaminya kelak. Yang ia butuhkan adalah kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri: seorang manusia yang sedang kehilangan, sedang belajar bertahan, dan berhak memilih jalan hidupnya tanpa tekanan dari siapa pun.
Barangkali, lebih dari dua puluh tahun setelah cerpen ini ditulis, pesan tersebut masih relevan untuk kita renungkan. Sebab dalam banyak kasus, masyarakat memang sudah belajar menghormati perempuan. Namun belum tentu belajar mendengarkan mereka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


