Nama Mario Kempes menempati posisi istimewa dalam sejarah sepak bola dunia. Penyerang kelahiran Bell Ville, Argentina, itu dikenal sebagai sosok yang membawa negaranya meraih gelar juara dunia pertama pada Piala Dunia 1978. Dalam turnamen yang berlangsung di tanah kelahirannya tersebut, Kempes tampil luar biasa dengan mencetak enam gol dan keluar sebagai pencetak gol terbanyak.
Karier internasional Kempes membentang dalam tiga edisi Piala Dunia, yakni 1974, 1978, dan 1982. Namun, pencapaiannya pada 1978 menjadi puncak kejayaan yang sulit ditandingi. Selain mengangkat trofi juara dunia bersama Argentina, ia juga meraih penghargaan Golden Boot dan Golden Ball. Popularitasnya semakin meningkat ketika kemudian mendapatkan Ballon d’Or sebagai salah satu pemain terbaik dunia pada masanya.
Di level klub, Kempes pernah memperkuat sejumlah tim ternama, termasuk Valencia di Spanyol. Ketajamannya sebagai penyerang membuat dirinya disegani di berbagai kompetisi. Akan tetapi, seperti halnya setiap atlet profesional, usia perlahan mulai membatasi performanya. Memasuki pertengahan dekade 1990-an, Kempes berada di penghujung perjalanan panjang sebagai pesepak bola profesional.
Petualangan Tak Terduga Bersama Pelita Jaya
Saat banyak pemain seusianya memilih menikmati masa pensiun, Kempes justru mengambil keputusan yang tidak biasa. Pada 1996, legenda Argentina itu menerima tawaran dari Pelita Jaya untuk berkiprah di Indonesia. Keputusannya mengejutkan banyak pihak karena saat itu usianya sudah menginjak 42 tahun dan kondisi fisiknya tidak lagi seperti masa kejayaannya.
Kedatangan Kempes ke Indonesia langsung menyedot perhatian publik. Nama besarnya sebagai juara dunia menjadikan Liga Indonesia mendapatkan sorotan, tidak hanya dari media nasional tetapi juga internasional. Kehadirannya dianggap sebagai simbol meningkatnya daya tarik kompetisi sepak bola Indonesia pada era tersebut.
Pelita Jaya mengontrak Kempes selama 10 bulan dengan peran ganda sebagai pemain sekaligus pelatih. Banyak yang meragukan kemampuannya karena faktor usia. Namun, keraguan itu perlahan terjawab di lapangan. Meski tak lagi secepat dulu, Kempes masih menunjukkan insting mencetak gol yang tajam dan pemahaman permainan yang luar biasa.
Dalam 15 pertandingan bersama Pelita Jaya, ia berhasil mengoleksi 10 gol. Catatan tersebut membuktikan bahwa kualitas seorang pemain kelas dunia tidak mudah hilang meski usia terus bertambah. Pengalaman dan kecerdasannya dalam membaca permainan menjadi modal utama yang membuatnya tetap kompetitif.
Tak hanya sebagai pemain, Kempes juga berkontribusi dari sisi taktik. Pengalaman panjang yang dimilikinya membantu Pelita Jaya dalam menjalani kompetisi yang semakin kompetitif pada masa itu.
Menutup Karier di Tanah Air dan Warisan yang Ditinggalkan
Indonesia menjadi babak terakhir dalam perjalanan panjang Mario Kempes sebagai pesepak bola profesional. Setelah semusim membela Pelita Jaya, ia memutuskan untuk benar-benar menggantung sepatu pada 1997. Keputusan tersebut diambil karena dirinya ingin lebih fokus membangun karier sebagai pelatih.
Meski langkah Pelita Jaya terhenti di babak 8 besar pada musim terakhirnya, kiprah Kempes tetap meninggalkan kesan mendalam. Ia berhasil menunjukkan bahwa dedikasi, pengalaman, dan mental juara mampu mengimbangi keterbatasan usia. Kehadirannya juga memberikan nilai lebih bagi perkembangan sepak bola Indonesia yang kala itu sedang berusaha meningkatkan kualitas kompetisi.
Setelah pensiun, Kempes melanjutkan karier di dunia kepelatihan. Namun, perjalanan barunya tidak semegah saat masih menjadi pemain. Ia lebih banyak menangani klub-klub dari liga yang kurang populer di berbagai negara. Meski demikian, statusnya sebagai legenda sepak bola dunia tidak pernah pudar.
Hingga kini, nama Mario Kempes masih dikenang oleh para pencinta sepak bola Indonesia. Bukan hanya karena prestasinya bersama Argentina, melainkan juga karena Indonesia menjadi tempat terakhir yang ia pilih untuk menutup karier profesionalnya.
Sebuah kisah unik yang menghubungkan legenda Piala Dunia dengan perjalanan sepak bola nasional, sekaligus menjadikan Kempes sebagai salah satu pemain terbesar yang pernah merumput di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


