ternyata familymart pertama di indonesia ada di depok di daerah mana - News | Good News From Indonesia 2026

Ternyata FamilyMart Pertama di Indonesia Ada di Depok, Di Daerah Mana?

Ternyata FamilyMart Pertama di Indonesia Ada di Depok, Di Daerah Mana?
images info

Dok. @familymartid (Instagram)


Bagi yang tinggal di kota-kota besar di Pulau Jawa, pemandangan gerai FamilyMart di tengah kompleks perumahan atau di persimpangan jalan dekat rumah sudah jadi hal yang biasa. Merek ritel asal Jepang ini sering kali jadi pilihan saat kita memberli camilan malam atau sekadar ingin jajan es kopi susu.

Menariknya, kalau dirunut ke belakang, bayangan soal FamilyMart sebagai "toko dekat rumah" itu memang tepat secara historis, khususnya di Indonesia.

Mungkin, sebagian dari Kawan mengira waralaba ini pertama kali buka di pusat bisnis Jakarta, di antara gedung perkantoran yang penuh pekerja kantoran. Padahal, kenyataannya tidak begitu. Perjalanan FamilyMart di Indonesia justru dimulai dari pinggiran Depok pada 16 Oktober 2012.

Lokasi persisnya ada di kawasan Cibubur, tepat di depan gerbang masuk perumahan Raffles Hills, Jalan Alternatif Cibubur, Depok. Di sana, mereka membuka toko seluas 312,5 meter persegi melalui kerja sama dengan PT Fajar Mitra Indah (anak usaha Wings Group).

Warga sekitar saat itu langsung disuguhi konsep toko yang memadukan tempat belanja kebutuhan dan tempat untuk sekadar duduk-duduk atau bahkan berkumpul bersama teman-teman.

 

Pertimbangan di Balik Kompleks Perumahan

Pilihan FamilyMart untuk membuka gerai pertama di koridor Cibubur-Depok alih-alih pusat kota Jakarta jelas punya alasan tersendiri. Kalau kita lihat situasinya pada 2012, pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sedang tumbuh positif di atas 5%. Angka ini agak berbeda dengan kondisi pasar domestik mereka di Jepang yang cenderung stagnan.

Daerah pinggiran seperti Depok dipilih karena merupakan kantong utama bagi kelas menengah baru dan para komuter yang bekerja di ibu kota. Struktur populasi masyarakat pun didominasi oleh usia muda dan produktif yang memiliki mobilitas tinggi, menyukai kepraktisan, dan adaptif terhadap tren gaya hidup modern.

Pasar ritel saat itu sedang mengalami transisi, di mana konsumen mulai beralih dari sekadar belanja bulanan di supermarket besar ke toko modern yang lebih dekat, cepat, dan menyediakan makanan siap saji untuk konsumsi harian.

Daripada langsung berebut lahan mahal di pusat Jakarta, mendekati ekosistem tempat tinggal konsumen adalah siasat yang dinilai lebih aman untuk uji coba. Logistik mereka pun jadi lebih mudah karena didukung penuh oleh infrastruktur Wings Group yang memiliki jaringan logistik matang serta pemahaman mengenai selera pasar tanah air.

 

Semakin Merambah Berbagai Sudut Jalan

Keberhasilan eksperimen di gerbang perumahan Depok ini yang kemudian memicu keberanian manajemen untuk mulai merambah pusat kota. Tepat sebulan setelah gerai pertama berjalan, atau pada 17 November 2012, mereka membuka cabang kedua di Jalan Bulungan, Jakarta Selatan.

Ekspansi ini langsung menggelinding cepat ke wilayah Pejaten, Kelapa Gading, hingga Apartemen Thamrin Residence, yang membuat jaringan ini mengoperasikan enam outlet pertama pada awal 2013.

Pertumbuhan yang awalnya organik ini mendadak melompat jauh pada awal 2016 lewat langkah korporasi yang cukup agresif. PT Fajar Mitra Indah memutuskan mengambil alih 57 gerai Starmart milik Hero Group dengan nilai investasi Rp50 miliar.

Toko-toko hasil akuisisi tersebut langsung direnovasi total menjadi wajah FamilyMart, yang disusul pula dengan pengambilalihan belasan eks-gerai Seven Eleven yang kala itu kolaps. Strategi ini sukses mengantarkan mereka merayakan pencapaian gerai ke-100 pada Juli 2018 di Gedung Gran Rubina, Kuningan. Momen ini sekaligus menjadi awal masuknya merek ini ke wilayah perkantoran dan hub transportasi komuter.

Memasuki era digital, mereka tidak lagi sekadar mengandalkan jualan barang pabrikan, melainkan bertumpu pada lini F&B lewat payung FamiCafé. Sajian seperti Kopi Susu Keluarga menjadui penggerak baru, ditambah berbagai kudapan hingga makanan beratnya.

Model bisnis inilah yang akhirnya dibawa keluar Jabodetabek hingga menjangkau kota besar seperti Surabaya, Malang, dan Bali.

Menariknya, meski sudah menguasai pusat bisnis, mereka tidak pernah benar-benar meninggalkan akar permukimannya. Saat konsumen melangkah ke gerai yang berada di lingkungan perumahan warga, isi tokonya akan disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari yang lebih lengkap.

Sebaliknya, gerai di gedung kantoran akan memangkas space kebutuhan rumah tangga tersebut demi memperluas konter makanan siap saji.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.