Setiap Jumat hingga Minggu malam, Gang Warung di kawasan Pecinan Semarang berubah menjadi satu jalur panjang berisi deretan tenda makanan, kursi meja berjejer, dan lampion yang menyala di sepanjang jalan. Itulah Pasar Semawis, atau lebih dikenal dengan nama Waroeng Semawis, salah satu pasar malam paling ramai dan paling konsisten bertahan di Semarang sejak pertama kali dibuka pada 2006.
Pasar ini lahir dari gagasan Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata yang disingkat Kopi Semawis, sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali kawasan kota tua Semarang. Saat pertama berdiri, jumlah pedagangnya hanya sekitar 30-an. Kini jumlahnya sudah melampaui ratusan pedagang, sehingga setiap akhir pekan kawasan ini selalu ramai pengunjung dari dalam kota maupun luar kota.
Yang menjadikan Pasar Semawis lebih dari sekadar tempat makan malam adalah suasananya. Jalanan sempit yang dihiasi lampion berwarna-warni, aroma masakan yang bercampur dari berbagai lapak, dan nuansa Pecinan yang masih terasa kental di bangunan-bangunan tua di sekelilingnya membuat kunjungan ke sini terasa seperti masuk ke lapisan Semarang yang tidak banyak terlihat dari luar.
Sekilas Mengenai Pasar Semawis
Pasar Semawis bermula dari Pasar Imlek Semawis yang pertama kali digelar pada 2005, tak lama setelah Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia. Setahun kemudian, format pasar malam akhir pekan mulai dijalankan secara rutin.
Kawasan Pecinan Semarang sendiri sudah lama menjadi tempat komunitas Tionghoa hidup berdampingan dengan warga kota lainnya. Waroeng Semawis menjadi salah satu cara komunitas ini memperkenalkan budaya dan kuliner mereka kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus memberikan dorongan ekonomi bagi pedagang lokal di kawasan tersebut.
Saat pasar berlangsung, beberapa gang di sekitar kawasan Pecinan seperti Gang Besen, Gang Tengah, Gambiran, Gang Belakang, dan Gang Baru ditutup salah satu ujungnya untuk difungsikan sebagai area parkir pengunjung.
Daya Tarik Utama Pasar Semawis
Pasar Semawis menarik bukan hanya karena makanannya, melainkan karena keseluruhan suasana yang terbentuk saat pasar ini berlangsung.
Kuliner adalah hal yang paling dicari. Di sepanjang Gang Warung sepanjang sekitar 300 meter, Kawan bisa menemukan lumpia Semarang dengan isian rebung, telur, dan daging, tahu gimbal, nasi ayam, mee kolok, babat gongso, bakpau, siomay, hingga jajanan yang lebih lokal seperti pisang plenet dan es puter.
Pisang Plenet Pak Tuko yang sudah berdiri sejak 1960 menjadi salah satu yang paling dicari, dengan pisang kepok yang dipanggang bersama mentega dan bisa ditambah berbagai topping. Ada pula pedagang yang menjual menu dengan gaya masak atraktif seperti menggunakan api terbuka, sehingga menjadi tontonan tersendiri di tengah keramaian.
Suasana lampion yang menghiasi Gang Warung di malam hari menciptakan cahaya yang hangat dan menjadikan kawasan ini cukup fotogenik. Di beberapa momen tertentu, pasar ini juga menampilkan pertunjukan musik tradisional, tarian, dan atraksi kembang api yang menambah kemeriahannya.
Bagi Kawan yang tertarik pada sisi historisnya, bangunan tua bergaya kolonial dan Tionghoa yang berdiri di sepanjang kawasan Pecinan menjadi latar yang memberikan konteks tersendiri pada pengalaman berjalan-jalan di sini.
Akses Menuju Pasar Semawis
Pasar Semawis berlokasi di Jalan Gang Warung, kawasan Pecinan, Semarang. Dari arah Jalan Gajahmada, Kawan bisa masuk melalui Jalan Wotgandul Barat menuju Plampitan, lalu ke Kranggan dan parkir di Jalan Beteng. Alternatif lain adalah masuk dari Jalan Gajahmada langsung ke Jalan Kranggan lewat perempatan Jalan Depok. Dari arah Pasar Johar atau Jurnatan, bisa masuk melalui Jalan Pekojan dan parkir di Gang Pinggir.
Bagi yang menggunakan transportasi umum, angkutan kota dengan jurusan Pasar Semawis atau Gang Lombok bisa menjadi pilihan. Taksi dan ojek daring juga mudah ditemukan untuk akses dari berbagai titik di Semarang.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Pasar Semawis buka setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu mulai pukul 18.00 hingga 24.00 WIB. Tidak ada tiket masuk untuk pengunjung. Biaya yang dikeluarkan menyesuaikan apa yang dibeli dari pedagang, dan sebagian besar pedagang masih melayani pembayaran tunai, sehingga sebaiknya siapkan uang tunai sebelum datang.
Ayo Berkunjung ke Pasar Semawis!
Kalau Kawan GNFI sedang berada di Semarang pada akhir pekan, Pasar Semawis layak masuk dalam rencana malam. Datang lebih awal sekitar pukul 18.00 agar lebih leluasa memilih tempat duduk dan menelusuri seluruh lapak sebelum keramaian memuncak.
Gunakan alas kaki yang nyaman karena Kawan akan banyak berjalan, dan siapkan uang tunai yang cukup untuk mencicipi beberapa kuliner sekaligus.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


