Bayangkan kamu berada di Amsterdam, Belanda, pada akhir abad ke-19. Saat itu, kamu mungkin hanyalah seorang buruh pelabuhan yang hidup sederhana, prajurit berpangkat rendah dengan penghasilan pas-pasan, atau anak dari keluarga biasa yang nyaris tidak memiliki posisi sosial yang berarti di mata kalangan elite. Masa depan tampak terbatas, dan kesempatan untuk naik kelas sosial tidak mudah diperoleh.
Namun, keadaan bisa berubah secara drastis hanya dengan membeli tiket kapal menuju Indonesia, yang pada masa itu masih bernama Hindia Belanda. Setelah menempuh perjalanan panjang melintasi lautan dan tiba di pelabuhan Tanjung Priok, status sosialmu seolah berubah dalam sekejap. Orang yang sebelumnya tidak memiliki kedudukan istimewa di negeri asalnya kini dipanggil "Tuan", dilayani oleh banyak pekerja pribumi, dan memperoleh berbagai hak serta kehormatan yang sulit dibayangkan sebelumnya.
Fenomena inilah yang dalam sejarah dikenal sebagai Tropenadel, istilah yang berarti "bangsawan tanah tropis." Sebutan ini sebenarnya merupakan sindiran terhadap orang-orang Eropa yang memperoleh kedudukan tinggi di wilayah jajahan, meskipun di negeri asal mereka tidak selalu berasal dari kalangan terpandang. Kritik semacam inilah yang dibongkar secara tajam oleh Mas Marco Kartodikromo dalam novel terkenalnya, Student Hidjo (1918).
Jika hari ini kita sering melihat fenomena pencitraan status sosial atau kecenderungan untuk menampilkan kemewahan di ruang publik, Mas Marco sesungguhnya telah mengamati gejala serupa lebih dari satu abad yang lalu. Dalam salah satu bagian paling menarik novel tersebut, ia menyisipkan sebuah brosur berbahasa Melayu yang sedang dibaca oleh Walter, seorang pejabat Belanda yang tengah dilanda kegelisahan.
Brosur itu ditulis layaknya laporan investigatif yang membongkar kehidupan para penguasa kolonial. Isinya secara terbuka mengungkap bahwa sebagian orang Belanda yang sangat menuntut penghormatan di tanah jajahan sebenarnya berasal dari latar belakang yang jauh dari kemewahan.
Melalui teks fiktif ini, Mas Marco melakukan kritik yang berani. Ketika media resmi kolonial berusaha membangun citra orang Eropa sebagai sosok yang selalu unggul, beradab, dan layak memimpin, Mas Marco justru mengajak pembaca melihat sisi lain yang jarang dibicarakan: bagaimana kekuasaan dan privilese di tanah jajahan sering kali menjadi sumber utama status sosial mereka.
Lalu muncul pertanyaan besar: bagaimana mungkin jumlah orang asing yang relatif sedikit dapat menguasai jutaan penduduk Nusantara?
Jawabannya bukan semata-mata karena kekuatan militer atau teknologi persenjataan. Menurut gambaran yang disajikan dalam novel ini, kolonialisme juga bekerja melalui pengaruh psikologis, budaya, dan bahasa yang perlahan membentuk cara pandang masyarakat terhadap dirinya sendiri.
Mas Marco menggambarkan bagaimana rasa takut dan rasa rendah diri dapat ditanamkan sejak usia dini. Anak-anak Jawa, misalnya, sering kali diperingatkan dengan kalimat seperti, "Diam, nanti ada Belanda." Ketakutan yang terus-menerus dipelihara ini lambat laun membentuk persepsi bahwa penguasa kolonial adalah sosok yang harus ditakuti dan dihormati tanpa syarat.
Selain itu, relasi kekuasaan juga tercermin dalam penggunaan bahasa. Dalam berbagai situasi, bahasa dan tata krama dijadikan alat untuk menegaskan perbedaan status sosial antara penjajah dan masyarakat pribumi. Akibatnya, muncul kesan bahwa orang Eropa memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi dibandingkan penduduk lokal.
Namun, Mas Marco tidak membiarkan gambaran tersebut berdiri tanpa kritik. Melalui perdebatan antara Walter, seorang Belanda yang masih memiliki kepekaan moral, dan Sersan Djepris yang memandang rendah masyarakat pribumi, pembaca diajak melihat sisi lain dari kolonialisme. Ketika Djepris melontarkan berbagai stereotip negatif tentang orang Jawa, Walter menanggapi dengan tegas bahwa ketertinggalan yang terjadi bukanlah semata-mata kesalahan masyarakat pribumi. Ia menyoroti bagaimana sistem kolonial justru membatasi akses pendidikan dan kesempatan berkembang, sementara kekayaan yang dinikmati banyak orang Belanda di Hindia berasal dari tanah dan tenaga kerja masyarakat setempat.
Jika ditelaah lebih jauh, Student Hidjo bukan sekadar kisah percintaan atau drama kehidupan anak muda. Novel ini dapat dibaca sebagai bentuk jurnalisme perlawanan yang dikemas melalui karya sastra. Mas Marco Kartodikromo, yang juga dikenal sebagai wartawan dan aktivis, memahami betul bahwa ruang kritik pada masa itu sangat terbatas. Karena itulah ia memanfaatkan novel sebagai medium untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang sulit disuarakan secara terbuka.
Melalui perjalanan Hidjo dan tokoh-tokoh di sekitarnya, pembaca diajak untuk tidak mudah terpesona oleh simbol-simbol status sosial, penampilan yang mewah, jabatan yang tinggi, atau gaya bicara yang tampak berwibawa. Sebab, kemewahan dan kehormatan yang terlihat di permukaan tidak selalu mencerminkan kualitas pribadi atau keunggulan moral seseorang.
Lebih dari satu abad setelah diterbitkan, kritik Mas Marco terasa tetap relevan. Novel ini mengingatkan kita untuk melihat struktur kekuasaan secara lebih kritis, mempertanyakan citra yang dibangun oleh mereka yang berada di posisi dominan, serta menyadari bahwa rasa percaya diri suatu bangsa tidak seharusnya ditentukan oleh siapa yang paling berkuasa, melainkan oleh kesadaran akan martabat dan nilai dirinya sendiri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


