Legenda Janggo Pute dan Janggo Itom adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Sulawesi Tenggara. Legenda ini berkisah tentang dua orang pahlawan yang berjuang melawan pasukan penjajah yang berusaha menguasai daerahnya.
Bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Sulawesi Tengah tersebut? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Legenda Janggo Pute dan Janggo Itom, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah
Disitat dari buku Suparman Tampuyak yang berjudul Kesik: Kumpulan Cerita Rakyat Saluan, dikisahkan pada zaman dahulu di daerah Banggai hidup masyarakat etnik Loinang. Mereka bermukim di wilayah Paimana, Pedalaman Lingketeng, dan Pedalaman Baloa.
Pada masa penjajahan, pasukan Belanda berusaha menguasai daerah tersebut. Pada awalnya pasukan Belanda berhasil menguasai Lingketeng.
Hal ini membuat Baloa menjadi target selanjutnya untuk ditaklukkan. Hal ini membuat keberadaan masyarakat Loinang di Baloa terancam.
Terdapat beberapa kampung yang ada di Pedalaman Baloa. Kampung tersebut adalah Kampung Doda, Kampung Tambunan, dan Kampung Duhian.
Terdapat tiga orang pemimpin yang juga dikenal di sana, yakni Janggo Pute (Janggut Putih), Janggo Itom (Janggut Hitam) dan Gulunsing. Kabar kedatangan pasukan Belanda ini sudah diketahui oleh ketika pemimpin tersebut.
Mereka kemudian berunding untuk menyusun strategi melawan pasukan penjajah. Dari diskusi itu, mereka bersepakat untuk membangun benteng di atas Bukit Andeba.
Benteng batu pun dibangun di sana. Selain itu, beberapa batu besar dijejerkan sebagai senjata saat pasukan Belanda mencoba mendaki bukit tersebut.
Beberapa waktu kemudian, pasukan Belanda benar-benar sampai di sana. Dari atas benteng, ketiga pemimpin ini memberi aba-aba pasukan yang ada di Baloa.
Janggo Itom memimpin pasukan yang mendorong batu. Sementara itu, Janggo Pute bertugas memimpin pasukan yang memutus rotan pengikat batu.
Pada awal kedatangan, pasukan Belanda masih berada di bawah lereng bukit. Janggo Itom memberi aba-aba agar pasukannya menahan serangan terlebih dahulu.
Janggo Itom mengarahkan agar menunggu pasukan Belanda mendekat. Dengan demikian, serangan yang mereka berikan akan jauh lebih efektif terhadap pasukan penjajah tersebut.
Saat pasukan Belanda mendekat, batu-batu besar ini kemudian dilepas sesuai dengan arahan Janggo Itom. Benar saja sesuai bayangan Janggo Itom banyak pasukan Belanda yang terdampak akibat serangan itu.
Melihat hal ini para pejuang makin bersemangat. Mereka makin giat melancarkan serangan ke arah pasukan Belanda.
Namun sayang, senjata yang dimiliki oleh pasukan Belanda jauh lebih maju. Akhirnya benteng tersebut berhasil jatuh ke tangan penjajah.
Wilayah Baloa akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Pimpinan tertinggi Baloa kemudian menyerahkan tonda sebagai tanda menyerah.
Tonda merupakan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat Loinang. Tradisi ini memberikan seekor ana pada pihak lawan.
Leher anoa itu kemudian diikat dengan kain putih di sepotong kayu. Pengikat ini diberi nama mandapalong.
Ketiga pemimpin ini juga ikut tertangkap dalam penyerbuan itu. Janggo Pute, Janggo Itom, dan semua pasukan kemudian dibawa ke Pagimana.
Perjalanan menuju Pagimana ditempuh berhari-hari saking jauhnya. Di tengah perjalanan, mereka beristirahat di tepi Sungai Monongi.
Pada saat itu, Janggo Pute teringat dengan Baloa, kampung halamannya. Ekspresi ini ternyata memancing api di dalam hati Janggo Itom.
Sesaat kemudian, Janggo Itom berusaha melawan pasukan Belanda yang berjaga. Melihat hal tersebut, Janggo Pute kemudian juga melakukan perlawanan serupa.
Nahasnya serangan itu menjadi upaya terakhir Janggo Itom dan Janggo Pute. Pasukan Belanda yang lengkap dengan persenjataan kemudian menembak kedua tokoh tersebut dan menemui akhir hayatnya di sana.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


