pemanfaatan pekarangan rumah sebagai solusi ketahanan pangan keluarga di tengah kenaikan harga pangan - News | Good News From Indonesia 2026

Pemanfaatan Pekarangan Rumah sebagai Solusi Ketahanan Pangan Keluarga

Pemanfaatan Pekarangan Rumah sebagai Solusi Ketahanan Pangan Keluarga
images info

Pexels/Jeffry Surianto


Kawan GNFI, persoalan kenaikan harga pangan mungkin pernah dirasakan oleh banyak keluarga. Suatu pagi ketika hendak berbelanja ke pasar atau minimarket, harga cabai ternyata naik jauh dibandingkan minggu sebelumnya. Harga tomat dan bawang merah ikut mengalami kenaikan. Pengeluaran rumah tangga pun menjadi lebih besar dari biasanya.

Ketahanan pangan kini telah menjadi salah satu isu yang semakin mendapat perhatian di Indonesia. Ketersediaan pangan yang cukup dan mudah diakses masyarakat merupakan kebutuhan mendasar yang berkaitan langsung dengan kualitas hidup. Harga bahan pangan yang cenderung berfluktuasi membuat banyak keluarga harus lebih bijak dalam mengatur pengeluaran sehari-hari.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi salah satu penyumbang inflasi di Indonesia. Berdasarkan data Februari 2025, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan indeks sebesar 2,25 persen.

Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai, bawang merah, beras, dan hasil hortikultura lainnya, akibat perubahan cuaca, gangguan distribusi, maupun meningkatnya permintaan. Situasi ini mendorong masyarakat untuk memiliki strategi yang tepat agar kebutuhan pangan keluarga tetap terpenuhi.

baca juga

Kawan GNFI, persoalan kenaikan harga pangan mungkin pernah dirasakan oleh banyak keluarga. Suatu pagi ketika hendak berbelanja ke pasar atau minimarket, harga cabai ternyata naik jauh dibandingkan minggu sebelumnya. Harga tomat dan bawang merah ikut mengalami kenaikan. Pengeluaran rumah tangga pun menjadi lebih besar dari biasanya.

Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk mulai memanfaatkan lahan di sekitar rumah sebagai sumber pangan tambahan bagi keluarga. Hasil panen yang diperoleh memang belum dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi tetap mampu membantu mengurangi pengeluaran sekaligus menyediakan bahan pangan yang lebih segar untuk dikonsumsi.

Masyarakat, baik yang tinggal di daerah perkampungan maupun perkotaan dengan lahan terbatas, tetap dapat melakukan kegiatan bercocok tanam dengan memanfaatkan pot, polybag, botol bekas, maupun sistem vertikultur. memang tidak dapat sepenuhnya menggantikan kebutuhan pangan keluarga. Hasil panennya tetap mampu membantu mengurangi pengeluaran sekaligus memberikan bahan pangan yang lebih segar untuk dikonsumsi.

Iklim tropis Indonesia juga mendukung pertumbuhan berbagai jenis tanaman, seperti cabai, tomat, kangkung, bayam, sawi, daun bawang, serta tanaman obat keluarga. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, penanaman berbagai jenis tanaman dapat menjamin ketersediaan bahan pangan yang beragam secara berkelanjutan guna mendukung pemenuhan gizi keluarga (Riah, 2005, sebagaimana dikutip dalam Solihin, 2018).

baca juga

Kementerian Pertanian melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat terus mendorong pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga. Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Provinsi Gorontalo, menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kemandirian pangan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga. Program tersebut didukung melalui pendampingan teknis, penyediaan bibit unggul, serta edukasi kepada masyarakat (Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Gorontalo, 2025).

Manfaat dari pemanfaatan pekarangan rumah tidak hanya berkaitan dengan penghematan biaya. Aktivitas berkebun dapat menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan nyaman. Anak-anak juga dapat belajar mengenal berbagai jenis tanaman serta memahami pentingnya menjaga lingkungan. Selain itu, sebagian masyarakat bahkan mampu memperoleh tambahan pendapatan dari hasil panen yang dijual kepada tetangga atau pasar sekitar.

Kawan GNFI, ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari langkah yang besar. Pekarangan rumah yang selama ini dibiarkan kosong ternyata menyimpan potensi yang tidak sedikit. Beberapa pot berisi cabai, tomat, atau sayuran hijau dapat menjadi awal dari terwujudnya keluarga yang lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Harga bahan makanan mungkin akan terus mengalami perubahan seiring berbagai dinamika ekonomi dan perubahan iklim. Kemampuan masyarakat untuk beradaptasi menjadi salah satu kunci dalam menghadapi tantangan tersebut. Pemanfaatan pekarangan rumah menjadi bukti bahwa upaya menjaga ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Ketahanan pangan yang kuat tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi nasional, tetapi juga oleh peran aktif setiap rumah tangga. Pemanfaatan pekarangan rumah secara optimal dapat menjadi langkah sederhana yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan keluarga sekaligus mendukung terwujudnya ketahanan pangan Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan di masa depan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.