Halo, Kawan GNFI!
Di tengah era perkembangan zaman yang semakin maju kita tidak bisa untuk menghindari, seseorang sering kali merasa terasingkan dari jati dirinya sendiri. Kita sudah berada di era yang memberikan segalanya—kecepatan, keterhubungan dan opsi yang tanpa batas. Namun, secara ironis perasaan kesepian justru menjadi tempat yang paling tidak terlihat.
Jika kita melihat ke masa lalu, tepatnya pada tahun 1940, karya novel Belenggu yang ditulis oleh Armijn Pane didalamnya sudah digambarkan hadirnya keresahan ini sebelum adanya istilah "krisis berfikir" yang sudah menjadi tren di media sosial.
Melalui tokoh Sukartono, Rohayah, dan Tini kita dapat berfikir satu pertanyaan: Apakah kita benar-benar sudah memiliki kebebasan atau hanya terjerat oleh keinginan dan norma-norma yang kita buat sendiri?
Antara Logika dan Konflik Batin
Dalam novel Belenggu, Sukartono digambarkan sebagai dokter yang menjadi simbol yang berpemikiran luas dan kemajuan zaman. Dia memiliki segalanya, posisi sosial, pekerjaan yang bagus dan istri yang tergolong "ideal''. Namun di balik jas putihnya, ia merupakan sosok yang terbelah.
Pada saat Sukartono bertemu dengan Tini (istrinya) merupakan wanita modern yang sibuk dengan kegiatan di luar rumah. Namun, seringkali mereka mengalami konflik batin antara logika (ego) dan hasrat (id).
Di lihat dari sudut padang yang modern, Belenggu tidak hanya sebuah novel tentang kisah cinta segitiga. Novel ini merupakan gambaran untuk bagaimana seseorang yang modern sering mengalami "terbelenggu" oleh:
- Ekspetasi Sosial: tekanan untuk menjadi seseorang yang dapat berhasil dan "normal".
- Pemisahan Diri: ketidakmampuan dalam bersikap jujur terhadap keinginan karena khawatir akan penilaian dari lingkungan.
- Kebebasan yang Semu: kita memiliki banyak pilihan, tetapi sering kali tidak bisa untuk memilih apa yang seharusnya benar-benar membebaskan jiwa.
Relevansi di Era Digital
Nah, Kawan GNFI!
Mengapa novel Belenggu masih relevan pada masa ini, meskipun merupakan karya sastra yang sudah lama? Karena konflik yang di alami Sukartono ini masihlah konflik umum di masa kita.
Di era digital saat ini, "Belenggu" telah mengalami perubahan. Kita kita terikat pada perencanan yang telah menentukan apa yang harus kita di nikmati. Terikat pada apa yang harus kita tinggali dalam kehidupan yang telah disusun media sosial yang memaksa kita untuk tampil sempurna.
Mirip dengan kisah Tono yang mengalami kesulitan dalam menentukan tempat yang nyaman di dalam hatinya.
Menembus Dinding Kaca: Menemukan Diri di Balik Layar
Jika di masa lalu Tono mengalami sebuah tuntutan dari norma sosial dan harapan sebagai dokter, sekarang kita terjebak oleh tekanan performa. Di mana ruang digital sering mejadi tempat kita dapat merasakan harus terus untuk memperbaiki penampilan pada diri kita.
Kita seringkali lupa bahwa seperti Tono di dalam diri ada bagian yang tersakiti karena adanya ketidaksesuaian dengan apa yang terlihat diluar pandangan masyarakat.
Kehilangan jati diri di era digital sering dimulai dari ketidakmampuan kita dalam membedakan antara "siapa kita sebenarnya" dan "siapa yang ingin dilihat oleh pengikut kita".
Sama seperti Tono yang terjebak dalam pertentangan antara kehidupan yang diinginkan oleh masyarakat saat bersama Tini atau keinginan pribadinya yang tulus saat bersama Rohayah.
Menuju Pembebasan yang Sesungguhnya
Namun, Bagamana cara kita dapat membebaskan diri? Armijn Pane tidak memberikan cara yang cepat, tetapi ia menyampaikan pesan yang tersembunyi: Kebebasan bermula dari diri yang berani untuk mengahadapi suatu kelemahan.
Mirip dengan konsep-konsep filosofis yang sering kita bahas di pikiran kita, kebebasan seseorang bukan berarti terbebas dari tanggung jawab.
Justru, kebebasan merupakan kemampuan dalam mengidentifikasi "Belenggu" kita—baik itu trauma dalam masa lalu, ambisi yang berlebihan, ketakutan pada hal yang tidak pasti, kemudian menerima sebagian dari perjalanan seseorang.
Pada akhirnya, beban yang paling berat tidak hanya diciptakan oleh orang lain, melainkan dari kita menahan di dalam diri kita. Sekarang, Apakah Kawan GNFI sudah memiliki keberanian yang cukup untuk memutar kuncinya?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


