tanpa uji lab yang rumit kini bisa mendeteksi susu oplosan lewat alat portabel - News | Good News From Indonesia 2026

Tanpa Uji Lab yang Rumit, Kini Bisa Mendeteksi Susu "Oplosan" Lewat Alat Portabel

Tanpa Uji Lab yang Rumit, Kini Bisa Mendeteksi Susu "Oplosan" Lewat Alat Portabel
images info

Foto oleh The Humble Co. di Unsplash


Urusan konsumsi susu di masyarakat ternyata tidak luput dari celah culas para produsen nakal yang ingin mengejar untung instan.

Sebagai salah satu produk pangan dengan permintaan tinggi, susu segar sangat rentan dipalsukan melalui pencampuran bahan kimia berbahaya.

Modus yang paling sering ditemukan di lapangan adalah penambahan senyawa melamin dan urea ke dalam susu yang sudah diencerkan dengan air.

Siasat ini sengaja dilakukan demi mengelabui alat uji konvensional, karena kedua senyawa tersebut memiliki kandungan nitrogen tinggi yang mampu mendongkrak tampilan kadar protein seolah-olah produk memiliki kualitas premium.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Budi Riza Putra, menjabarkan bahwa manipulasi ini berdampak fatal pada aspek kesehatan konsumen.

“Melamin dan urea sering digunakan untuk meningkatkan kadar nitrogen sehingga produk tampak memiliki kualitas protein yang lebih baik daripada kondisi sebenarnya. Pengembangan metode deteksi yang cepat dan akurat menjadi langkah penting untuk memastikan keamanan produk susu yang beredar di masyarakat,” ujarnya.

Melamin merupakan senyawa beracun yang jika masuk ke tubuh anak-anak atau bayi bisa memicu terbentuknya batu ginjal hingga gagal ginjal akut.

Sementara itu, akumulasi urea yang melebihi ambang batas normal berpotensi merusak sistem metabolisme serta memicu gangguan jangka panjang pada saluran pencernaan.

Menghadapi risiko tersebut, pengembangan sistem deteksi yang responsif menjadi kebutuhan mendesak untuk menyaring produk cacat sebelum masuk ke pasar.

 

Membawa Sinyal Kimia ke Pendekatan Statistik

Untuk mematahkan praktik pemalsuan ini, BRIN bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) merancang metode deteksi dengan mengombinasikan teknik elektrokimia dan pendekatan kemometrik.

Secara teknis, elektrokimia bertugas menangkap sinyal khas dari proses oksidasi dan reduksi kandungan asam amino yang ada di dalam cairan susu.

Ketika susu murni dicampur dengan urea atau melamin, pola sinyal elektrokimia tersebut otomatis akan berubah mengikuti tingkat pencampurannya.

“Ketika susu dicampur dengan melamin atau urea, pola sinyal yang dihasilkan dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kadar atau tingkat pemalsuan. Namun, pola sinyal tersebut tidak dapat dibedakan secara visual dan memerlukan analisis lebih lanjut untuk mengidentifikasi perbedaannya. Oleh karena itu, digunakanlah pendekatan kemometrik untuk mengolah data hasil pengukuran elektrokimia,” jelas Budi.

Dalam penelitian tersebut, analisis statistik dijalankan melalui tiga metode utama, yaitu Principal Component Analysis (PCA), Partial Least Squares Regression (PLSR), dan Hierarchical Cluster Analysis (HCA).

“PCA digunakan untuk mereduksi dimensi data dan memvisualisasikan perbedaan pola antara susu murni dan susu yang telah dicampur melamin atau urea. Sementara itu, PLSR digunakan untuk membangun model prediksi kadar bahan pencemar dengan tingkat akurasi yang tinggi. Adapun HCA berfungsi mengelompokkan sampel berdasarkan kemiripan respons elektrokimianya,” paparnya.

 

Memindahkan Fungsi Laboratorium ke Koperasi Peternak

Hal yang diunggulkan dari riset kolaborasi ini terletak pada aspek kepraktisan alat yang dirancang untuk penggunaan di luar laboratorium.

Pengujian sampel tidak lagi memerlukan mesin berukuran besar atau proses pengujian kimiawi yang memakan waktu berhari-hari.

Proses pengecekan di lapangan cukup menggunakan perangkat potentiostat portabel yang terhubung ke elektroda khusus, sehingga pengujian kualitas bisa diselesaikan dalam hitungan menit secara langsung di lokasi.

Teknologi portabel ini membuka peluang besar untuk diterapkan langsung di hulu industri, seperti di sentra pengumpulan susu atau koperasi peternak sapi perah daerah.

“Ke depan, metode ini sangat berpeluang dikembangkan menjadi alat deteksi cepat yang dapat digunakan secara in-situ. Penggunaannya memungkinkan dilakukan langsung di sentra pengumpulan susu atau koperasi peternak untuk melakukan skrining mandiri terhadap kualitas susu sebelum diproses lebih lanjut,” ungkap Budi.

Melalui penyaringan mandiri sejak dini, koperasi bisa langsung menolak pasokan susu yang tidak memenuhi standar mutu sebelum dikirim ke pabrik pengolahan skala besar.

Langkah ini menjadi perlindungan berlapis yang efektif untuk mengamankan rantai pasok pangan sekaligus melindungi hak kesehatan konsumen.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.