apakah membangun usaha menjadi pilihan yang tepat di tengah kondisi ekonomi yang mencekik - News | Good News From Indonesia 2026

Apakah Membangun Usaha jadi Pilihan yang Tepat di Tengah Kondisi Ekonomi yang Mencekik?

Apakah Membangun Usaha jadi Pilihan yang Tepat di Tengah Kondisi Ekonomi yang Mencekik?
images info

Membangun Usaha Di Tengah Perekonomian Tidak Pasti (unsplash/ m.)


Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan banyak masyarakat, membangun usaha menjadi pilihan yang semakin banyak dipertimbangkan sebagai sumber penghasilan alternatif maupun menciptakan peluang baru.

Dorongan itu tentunya datang dari ketidakpastian ekonomi dan kondisi pasar yang semakin menantang banyak orang untuk mendapatkan sumber pendapatan lain sebagai antisipasi.

Belum lama ini, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tahun 2026 ini masih menjadi persoalan serius. Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, angka PHK terhitung dari bulan Januari—Mei 2026, sekitar 23.470 orang telah terdampak. Angka itu terhitung tinggi, jika rata-rata per bulan mencapai 4.694.

Gelombang PHK mungkin hanyalah satu dari sekian banyak persoalan ekonomi yang tengah dihadapi Indonesia. Bagi mereka yang masih bekerja, ancaman kehilangan pekerjaan masih menjadi kekhawatiran mereka yang baru. Untuk mereka yang belum bekerja, perusahaan sedang mengalami efisiensi besar-besaran.

Belum lagi, masyarakat mesti menghadapi nilai tukar rupiah yang terus menurun sehingga harga kebutuhan terus meningkat dan daya beli melemah.

Dengan segala himpitan ekonomi tersebut, lalu muncul sebuah pertanyaan menarik: jika masyarakat semakin berhati-hati membelanjakan uangnya, jika perusahaan besar saja melakukan efisiensi...

Apakah masuk akal bagi seseorang untuk membangun usaha baru sekarang?

baca juga

Mengenal Teori Lipstick Effect

Perekonomian Indonesia yang masih perlu banyak pembenahan ini, memang membuat beberapa orang takut untuk melangkah. Kekhawatiran itu muncul bukan tanpa alasan.

Ketika pendapatan terasa semakin terbatas sementara biaya hidup terus meningkat, masyarakat cenderung merubah cara mengelola uang. Orang-orang jadi jauh lebih selektif dalam belanja, mempertimbangkan setiap pengeluaran serta menunda-nunda pengeluaran yang bisa jauh lebih besar.

Namun, menariknya perubahan tersebut tidak membuat mereka menjadi berhenti untuk belanja. Masyarakat cenderung mengalihkan pengeluaran besar seperti membeli mobil, gadget, atau jalan-jalan keluar negeri menjadi ke produk yang jauh lebih terjangkau. Fenomena inilah yang dikenal sebagai lipstick effect.

Lipstick Effect atau atau Lipstick Index adalah sebuah teori sederhana yang tercipta ketika setelah terjadinya serangan teroris September 11 attacks (9/11) di Amerika Serikat, ekonomi AS masuk ke periode yang sulit.

Di tengah kesulitan perekonomian tersebut, Leonard Lauder, pemimpin perusahaan kosmetik, Estee Lauder Companies menemukan kejanggalan di mana produk lipstik yang dijual justru meningkat.

Kemudian, ia menciptakan sebuah hipotesis bahwa ketika uang semakin terbatas, manusia tetap mencari kebahagiaan dalam bentuk yang lebih kecil dan terjangkau, seperti lipstik.

baca juga

Apakah Sekarang Waktu yang Tepat Membangun Usaha?

Kembali lagi, semua tergantung jenis usaha yang ingin dibangun. Dalam hal ini, tidak semua jenis usaha akan cocok dibangun pada kondisi seperti sekarang. Bisnis yang bermodal besar, bergantung pada bahan baku impor, atau menyasar pada kebutuhan tersier dengan harga yang tinggi mungkin cukup berat. Sebaliknya, jika usaha berbasis jasa, produk digital mungkin lebih memiliki peluang yang lebih baik.

Sejarah juga menunjukkan bahwa banyak perusahaan besar lahir bukan saat ekonomi sedang baik-baik saja, melainkan ketika dunia sedang menghadapi ketidakpastian.

Krisis sering kali memaksa orang untuk berpikir lebih kreatif, menemukan kebutuhan baru, dan menciptakan solusi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Sebaiknya jika ingin memulai bisnis di masa seperti ini, Kawan GNFI mesti tahu, apakah usaha yang ingin dibangun mampu menjawab kebutuhan konsumen di masa sulit?

Sebab dalam setiap krisis selalu ada bisnis yang tumbang. Namun di saat yang sama, selalu ada bisnis baru yang tumbuh karena berhasil memahami perubahan perilaku konsumennya lebih cepat daripada yang lain.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.