Di sudut kota Padang Panjang yang sejuk, tepatnya di Bukit Surungan, lahirlah seorang perempuan yang kelak mengubah wajah pendidikan Islam di Indonesia. Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah, begitu nama lengkapnya lahir pada 20 Desember 1900 sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Rahmah merupakan putri dari Syaikh Muhammad Yunus, seorang ulama terkemuka yang menjabat kadi di nagari Pandai Sikek, dan Rafi’ah, sosok ibu yang kelak menjadi inspirasi terbesarnya. Empat saudaranya yaitu Zainuddin Labay, Mariah, Muhammad Rasyad, dan Rihanah tumbuh dalam lingkungan yang sarat nilai keilmuan dan keagamaan.
Namun di antara mereka, sosok yang paling besar pengaruhnya terhadap Rahmah adalah kakak sulungnya, Zainuddin Labay El Yunusy. Zainuddin bukan ulama biasa, ia mahir berbahasa Inggris, Arab, dan Belanda, dan pada 1915 mendirikan Diniyah School (Sekolah Diniyyah Putri), sebuah sekolah agama berbasis sistem modern yang membuka kelas bagi putra-putri sekaligus (Rasyad, 1991).
Rahmah kecil belajar di sekolah kakaknya itu. Ia menyerap ilmu dengan tekun, tetapi matanya peka melihat satu hal yang mengusik hati, yaitu perempuan tidak mendapat tempat yang setara di dalam kelas. Diskusi didominasi para lelaki, guru-gurunya pun semuanya laki-laki, dan topik tentang perempuan dalam fikih nyaris tidak pernah dibahas tuntas karena para siswi enggan bertanya di depan lawan jenis. Di sinilah benih pemikirannya mulai tumbuh secara perlahan dengan keteguhan hati yang dimilikinya.
Rahmah percaya satu hal dengan sepenuh hati, bahwa perempuan adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Jika perempuan tidak terdidik dengan baik, fondasi generasi mendatang pun akan rapuh. Keyakinan ini bukan sekadar gagasan romantis, melainkan sebuah visi yang terstruktur. Hamruni dalam kajiannya menyebutkan bahwa Rahmah memandang perempuan bukan hanya sebagai objek pendidikan, melainkan sebagai subjek aktif yang mampu membawa perubahan sosial.
Maka pada 1 November 1923, di usianya yang baru 23 tahun, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah li al-Banat yang kemudian dikenal luas sebagai Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang. Murid pertamanya berjumlah 71 orang, sebagian besar ibu-ibu muda. Sekolah ini lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari keberanian.
Rahmah memulainya di Masjid Pasar Usang, dengan niat yang teguh dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Bukan sekadar sekolah agama biasa, Rahmah merancang kurikulum terpadu yang memadukan ilmu agama, pengetahuan umum, dan keterampilan keputrian.
Sebuah model yang menempatkan perempuan sebagai individu utuh, bukan sekadar calon istri dan ibu semata. Model pendidikannya berpilar kepada tiga hal, yaitu sekolah, asrama, dan rumah tangga (masyarakat) atau yang kemudian disebut Sistem Trinitas Pendidikan.
Ketiga lingkungan itu harus berjalan seirama agar membentuk karakter perempuan yang seimbang antara intelektual, spiritual, dan sosial (Wati & Eliwatis, 2021). Selain itu, Rahmah juga memperkenalkan sebuah konsep pendidikan yaitu lifelong learning. Konsep ini memuat pendidikan yang mencakup semua usia yaitu anak-anak, remaja hingga kelas ibu-ibu lansia. Konsep pendidikan holistik yang hari ini dipromosikan oleh banyak pakar modern sudah Rahmah terapkan hampir satu abad silam.
Pada 1925, ia juga mendirikan Sekolah Menyesal, sebuah program pemberantasan buta huruf bagi perempuan dewasa yang tidak sempat bersekolah sejak kecil. Program ini beroperasi selama tujuh tahun hingga 1932 dan menjadi bukti bahwa Rahmah tidak meninggalkan siapa pun di belakang. Semua perempuan, tua maupun muda, berhak atas cahaya ilmu. Inilah yang membedakan Rahmah dari banyak tokoh pendidikan semasanya. Ia tidak hanya membangun gedung sekolah, ia juga membangun kesadaran bahwa belajar adalah hak setiap manusia tanpa terkecuali.
Kiprah Rahmah tidak berhenti di ruang kelas. Saat revolusi kemerdekaan bergolak, ia turut menggerakkan murid-muridnya untuk mendukung perjuangan dan terlibat dalam pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang. Beliau bukan hanya seorang pendidik, ia adalah pejuang yang hadir di setiap lini perjuangan bangsa (Najmi & Ofianto, 2016).
Pengakuan paling prestisius datang dari dunia internasional. Pada 1955, Rektor Universitas Al-Azhar Mesir, salah satu universitas tertua dan paling dihormati dalam dunia Islam berkunjung langsung ke Padang Panjang. Mereka terkesan menyaksikan bahwa Diniyah Putri sudah menerapkan pendidikan formal modern bagi perempuan, sesuatu yang bahkan belum dilakukan oleh Al-Azhar sendiri saat itu.
Dua tahun kemudian, Rahmah diundang ke Kairo dan dianugerahi gelar kehormatan “Syaikhah”, gelar yang belum pernah sekalipun diberikan kepada seorang perempuan sepanjang sejarah Al-Azhar (Rodin & Huda, 2020). Lebih dari sekadar gelar, usulan Rahmah agar Al-Azhar membuka fakultas khusus perempuan yaitu Kulliyatul Banat pun diterima dan terwujud, membuka pintu pendidikan tinggi Islam bagi jutaan perempuan di seluruh dunia.
Di dalam negeri, pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputra Adipradana secara anumerta pada 13 Agustus 2013. Puncak pengakuan tiba pada 10 November 2025, ketika Presiden Prabowo Subianto resmi mengukuhkan Rahmah El Yunusiyah sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025, sebuah pengakuan yang terlambat datang, namun tidak sedikit pun berkurang nilainya (Detik.com, 2025).
Rahmah El Yunusiyah wafat pada 26 Februari 1969, meninggalkan sebuah institusi yang hingga kini terus berdiri dan berkembang dari jenjang taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Lebih dari itu, ia meninggalkan sebuah cara pandang, bahwa mendidik perempuan bukan sekadar urusan domestik, melainkan investasi peradaban yang nilainya melampaui generasi.
Di saat kebanyakan orang sezamannya belum sepenuhnya percaya bahwa perempuan layak mengenyam pendidikan yang setara, Rahmah sudah membangun sistemnya, melatih gurunya, dan mendidik ribuan siswi. Ia tidak menunggu izin dari zaman, ia justru mendahului zaman. Ketika Al-Azhar, sebuah universitas paling bergengsi di dunia Islam justru belajar darinya, dunia pun mengerti bahwa visi besar tidak mengenal batas geografi maupun jenis kelamin.
Sosok Rahmah El Yunusiyah adalah pengingat bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang berkuasa. Kadang, sejarah ditulis oleh seorang perempuan muda dari Bukit Surungan, yang berani bermimpi dan lebih berani lagi untuk bertindak.
Sebuah kutipan yang sangat bermakna dari seorang Rahmah El Yunusiyah adalah “Kalau saya tidak mulai dari sekarang, Maka kaum saya akan terbelakang”. Sebuah kutipan yang menggambarkan bahwa jika kita tidak memulai untuk berubah, maka kita akan terbelakang dan ketinggalan daripada orang lain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


