Kawan GNFI mungkin sudah familier dengan Istana Tampaksiring, bukan? Istana Tampaksiring adalah satu dari tujuh Istana Kepresidenan Indonesia yang berada di Tampaksiring, Gianyar, Bali.
Istana Kepresidenan Tampaksiring cukup unik dibandingkan dengan enam istana kepresidenan lainnya di Indonesia. Jika istana-istana lain merupakan bangunan warisan masa kolonial Hindia Belanda, istana yang terletak di Kabupaten Gianyar ini adalah satu-satunya yang dibangun sepenuhnya setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Pembangunannya dimulai pada tahun 1957 atas prakarsa Presiden Soekarno. Kala itu, Sang Presiden menginginkan adanya tempat peristirahatan yang representatif bagi keluarga presiden maupun tamu-tamu negara di Pulau Dewata.
Filosofi Nama dan Legenda Sang Raja Mayadenawa
Nama istana ini berakar dari legenda lokal yang sangat kuat. Dikatakan bahwa nama istana ini terekam dalam naskah daun lontar Usana Bali mengenai Raja Mayadenawa yang sakti, tapi angkara murka.
Demi menghindari kejaran pasukan Batara Indra, raja melarikan diri ke dalam hutan dengan memiringkan telapak kakinya agar jejaknya tidak mudah dikenali oleh para pengejar. Dari sinilah istilah "tampak" yang berarti telapak dan "siring" yang berarti miring berasal.
Sebelum tertangkap, Mayadenawa dipercaya sempat menciptakan mata air beracun yang menewaskan banyak pengejarnya. Akhirnya Batara Indra, Dewa Petir dan Raja Kahyangan menurut kepercayaan Hindu, menciptakan Tirta Empul sebagai mata air suci penawar racun tersebut.
Istana Negara Tampaksiring yang Cantik
Proses pembangunan fisik istana ini dilakukan secara bertahap antara tahun 1957. Pembangunannya rampung sepenuhnya pada tahun 1963 di bawah arahan arsitek R.M. Soedarsono.
Arsitekturnya mengusung gaya modernisme yang dipadukan secara harmonis dengan unsur-unsur kearifan lokal Bali. Pemilihan lokasi di atas perbukitan dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut memberikan suasana yang sejuk dan tenang. Tak hanya itu, istana juga dibuat jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota.
Dari kompleks istana ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan megah Gunung Agung dan Gunung Batur yang menjadi latar belakang alamiah dari bangunan-bangunan utama.
Kompleks istana seluas 19 hektar ini terdiri dari beberapa gedung utama dengan fungsi yang sangat spesifik. Wisma Merdeka yang memiliki luas 1.200 meter persegi berfungsi sebagai kediaman pribadi presiden. Ada pula Wisma Negara seluas 1.476 meter persegi yang diperuntukkan bagi tamu-tamu negara yang menginap.
Salah satu bagian yang paling ikonik adalah keberadaan Jembatan Persahabatan sepanjang 40 meter yang menghubungkan kedua wisma tersebut di atas celah bukit sedalam 15 meter. Nama jembatan ini melambangkan jalur diplomasi bagi para pemimpin dunia yang datang untuk membina hubungan persahabatan dengan bangsa Indonesia.
Selain itu, terdapat pula Wisma Yudhistira untuk rombongan tamu dan Wisma Bima bagi para petugas pengawal.
Disadur dari situs resmi Kementerian Sekretariat Negara RI, tamu negara yang pertama kali menginap di sini adalah Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand, yang datang pada 1957 bersama Permaisurinya, Ratu Sirikit.
Selain itu, beberapa tamu kenegaraan yang tercatat pernah berkunjung adalah Presiden Ne Win dari Myanmar, Presiden Tito dari Yugoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruschev dari Uni Soviet, Ratu Juliana dari Negeri Belanda, dan Kaisar Hirohito dari Jepang.
Ikatan Spiritual dengan Pura Tirta Empul dan Masyarakat
Istana Tampaksiring memiliki ikatan yang tak terpisahkan dengan Pura Tirta Empul yang terletak tepat di bawah lembah kompleks istana. Secara teknis, kebutuhan air bersih di dalam istana dipompa langsung dari sumber mata air suci tersebut.
Sejarah mencatat bahwa Presiden Soekarno sangat menjaga akses masyarakat menuju pura. Bahkan, ia juga mengizinkan lapangan istana digunakan warga desa setempat untuk bermain sepak bola.
Kedekatan ini juga terlihat dari kebiasaan Bung Karno yang sering turun langsung ke pemandian suci untuk membagi sabun mandi atau sekadar duduk minum kopi bersama warga setiap kali berkunjung ke rumah penduduk.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


