“Padahal udah ngantuk, tapi kok masih pengen scrolling, ya?”
Kalimat itu mungkin terasa familiar bagi banyak orang, terutama mahasiswa atau anak muda yang setiap harinya sibuk dengan tugas kuliah, organisasi, atau pekerjaan. Setelah menjalani hari yang melelahkan, malam sering kali terasa jadi satu-satunya waktu yang benar-benar bisa dinikmati untuk diri sendiri. Akibatnya, banyak orang memilih menunda tidur demi melakukan hal-hal yang mereka suka, mulai dari menonton series, bermain game, sampai scrolling media sosial tanpa sadar waktu.
“Aku cuma mau lihat TikTok sebentar.” Namun kenyataannya, “sebentar” sering berubah jadi satu atau dua jam dan bahkan bisa lebih.
Kebiasaan ini dikenal sebagai revenge bedtime procrastination. Menurut penelitian Floor M. Kroese dan rekan-rekannya, perilaku ini menggambarkan kebiasaan sengaja menunda tidur demi mendapatkan waktu santai setelah seharian dipenuhi tuntutan dan kewajiban. Banyak orang merasa siang mereka habis untuk produktivitas, sehingga malam menjadi “waktu balas dendam” untuk mencari hiburan atau sekadar melepas penat.
Fenomena ini bahkan sudah cukup banyak dibahas dalam penelitian psikologi dan dikenal sebagai bedtime procrastination, yaitu kondisi ketika seseorang tidur lebih larut tanpa alasan penting meskipun sebenarnya sadar tubuhnya membutuhkan istirahat.
Yang menarik, sebenarnya banyak orang tahu kalau kebiasaan ini bisa bikin mereka ngantuk, lemas, dan susah fokus keesokan harinya. Namun setelah menjalani hari yang penuh tekanan, keinginan untuk menikmati waktu santai sering terasa lebih kuat dibanding keinginan untuk segera tidur.
“Besok aja deh tidurnya lebih cepat.” Kalimat ini sering terulang setiap malam.
Media sosial menjadi salah satu penyebab terbesar munculnya kebiasaan ini. Penelitian pada mahasiswa di Jakarta menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan mengaku sering menunda tidur karena mengakses media sosial seperti TikTok dan Instagram. Konten yang terus muncul tanpa habis membuat seseorang semakin sulit berhenti scrolling, apalagi ketika malam dianggap sebagai waktu paling nyaman untuk bersantai.
Fenomena ini berbeda dengan insomnia. Orang yang mengalami revenge bedtime procrastination sebenarnya bisa tidur tepat waktu, tetapi memilih tetap bangun demi menikmati hiburan atau waktu pribadi. Karena itu, masalah utamanya bukan terletak pada kesulitan tidur, melainkan kesulitan menghentikan aktivitas yang terasa menyenangkan.
Penelitian juga menemukan bahwa perilaku ini berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengontrol dirinya sendiri atau self-regulation. Semakin sulit seseorang menghentikan keinginan untuk terus scrolling, menonton, atau bermain game di malam hari, semakin besar pula kemungkinan ia tidur terlalu larut.
Padahal, dampaknya tidak sesederhana rasa ngantuk di pagi hari. Kurang tidur dapat membuat tubuh lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, suasana hati memburuk, hingga meningkatkan stres. Jika terus berlangsung, kebiasaan ini juga bisa memengaruhi kesehatan fisik maupun mental dalam jangka panjang.
Di era digital seperti sekarang, revenge bedtime procrastination menjadi semakin umum terjadi. Malam yang seharusnya dipakai untuk beristirahat justru berubah menjadi waktu pelarian dari rasa lelah dan tekanan sehari-hari. Hal yang awalnya terasa seperti “me time” justru bisa membuat tubuh dan pikiran semakin kehabisan energi.
Pada akhirnya, malam yang awalnya ingin dipakai untuk mencari ketenangan justru sering berakhir dengan tubuh yang semakin kelelahan. Karena itu, mungkin yang sebenarnya dibutuhkan bukan tambahan waktu untuk begadang, melainkan waktu istirahat yang benar-benar cukup. Penting untuk mulai menyadari bahwa tidur bukan sekadar rutinitas, tetapi kebutuhan penting untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan hidup. Sebab terkadang, bentuk “balas dendam” yang terasa menyenangkan di malam hari justru diam-diam merugikan diri sendiri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


