Pekan Jamu 2026 BPOM resmi bergulir sebagai momentum krusial untuk memperkuat posisi jamu sebagai warisan leluhur sekaligus penggerak ekonomi modern.
Langkah strategis ini mempertegas komitmen Indonesia setelah pada tahun 2023, Budaya Sehat Jamu secara resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage).
Kawan GNFI, pembukaan rangkaian acara ini ditandai dengan agenda Kick Off yang dipimpin langsung oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, di Kantor BPOM, Jakarta, pada Selasa, 2 Juni 2026.
Melalui program ini, pemerintah bersama pelaku industri berkomitmen meningkatkan standardisasi dan keamanan pangan serta obat tradisional.
Bagi Anda yang ingin mengetahui seluruh rangkaian kegiatan Pekan Jamu 2026 BPOM, simak informasinya berikut ini.
Jadwal dan Rangkaian Kegiatan Pekan Jamu BPOM 2026
Bagi Anda pelaku usaha, akademisi, maupun pencinta herbal, agenda Pekan Jamu 2026 diselenggarakan pada 2–7 Juni 2026.
Mengacu dari BPOM pada event Festival Jamu Nusantara 2026 memiliki serangkaian kegiatan edukatif dan interaktif yang mencakup hal-hal berikut:
Seminar dan Talkshow Ilmiah: Berfokus pada inovasi serta proses hilirisasi produk bahan alam berbasis riset.
Literasi Regulasi: Program khusus peningkatan pemahaman standardisasi keamanan bagi mahasiswa dan pelaku UMKM obat tradisional.
Layanan Konsultasi Terpadu: Penyediaan desk terintegrasi melalui layanan BPOM DEKAT untuk mempermudah sertifikasi dan perizinan produk.
Promosi Kosmetik Bahan Alam: Ruang pameran dan edukasi mengenai potensi besar kosmetik berbahan dasar herbal asli Indonesia.
Mengacu dari situs BPOM, sebagai acara puncak, BPOM berkolaborasi dengan Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) untuk menggelar Festival Jamu Nusantara 2026.
Festival ini akan dilaksanakan pada 7 Juni 2026 di kawasan Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta.
3 Pilar Utama Pertahankan Budaya Jamu Menurut BPOM
Dikutip dari laman resmi BPOM, dalam sambutan Kepala BPOM Taruna Ikrar menekankan pentingnya sinergi lintas sektor guna menjaga keberlanjutan obat bahan alam ini. Terdapat tiga poin utama yang menjadi fokus bersama:
Mempertahankan Budaya Konsumsi: Menjaga kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi dan memanfaatkan jamu untuk kesehatan harian.
Penguatan Riset dan Inovasi: Mendorong standardisasi ilmiah agar produk herbal memiliki nilai tambah (added value) yang lebih tinggi di mata dunia.
Kolaborasi dan Hilirisasi: Membangun kemitraan erat antara akademisi, pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas agar produk lokal dapat diproduksi massal secara aman serta dinikmati oleh pasar yang lebih luas.
Kawan GNFI, integrasi antara pelestarian budaya dan regulasi ketat dari BPOM ini diharapkan dapat memicu kebangkitan industri herbal nasional yang aman, bermutu, dan berdaya saing tinggi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


