kurikulum di meja perjamuan - News | Good News From Indonesia 2026

Kurikulum di Meja Perjamuan

Kurikulum di Meja Perjamuan
images info

Ilustrasi sekolah./Pemkot Mojokerto


Di istana-istana yang terang oleh lampu,
di meja-meja panjang tempat para pemimpin bersalaman,
terucap janji-janji yang disambut tepuk tangan,
secepat kilat,
sehangat senyum kamera.

Hari ini bahasa satu negeri.
Besok bahasa negeri yang lain.
Lusa mungkin bahasa dari benua yang berbeda.

Dan anak-anak,
yang bahkan belum selesai memahami tanah tempat mereka berpijak,
kembali diminta menghafal bunyi-bunyi baru.

Padahal kurikulum
bukanlah karangan bunga
yang dirangkai untuk menghormati tamu negara.

Ia bukan suvenir diplomatik
yang dibagikan setelah jamuan makan malam.

Ia adalah peta panjang
yang menentukan ke mana bangsa berjalan
puluhan tahun setelah para tamu pulang,
setelah foto-foto menguning,
setelah pidato-pidato terlupakan.

Kurikulum adalah nasib.

Salah satu kalimat yang ditulis hari ini
dapat menjadi kemakmuran
atau kemunduran
bagi jutaan anak yang belum lahir.

Maka jangan susun kurikulum
dengan logika tepuk tangan.

Jangan ubah arah sekolah
setiap kali angin pergaulan internasional bertiup.

Sebab diplomasi memiliki musim,
tetapi pendidikan harus melampaui musim.

Diplomasi mengejar kepentingan hari ini.

Pendidikan menyiapkan abad berikutnya.

Tanyakan lebih dahulu:

Ilmu apa yang akan menghidupkan negeri ini?

Teknologi apa yang akan menggerakkan industri?

Keterampilan apa yang akan menyelamatkan anak-anak
dari pengangguran masa depan?

Karakter apa yang membuat mereka jujur
ketika tidak ada yang mengawasi?

Pertanyaan-pertanyaan itulah
yang seharusnya duduk di kursi utama.

Bukan gengsi.
Bukan euforia.
Bukan kesan sesaat di hadapan tamu terhormat.

Tentu bahasa adalah jendela.

Tetapi rumah tidak dibangun dari jendela.

Rumah dibangun dari fondasi.

Apa gunanya mampu menyapa dunia
dalam sepuluh bahasa,
jika tak mampu memecahkan persoalan air,
energi,
kemiskinan,
dan ketertinggalan bangsanya sendiri?

Apa gunanya fasih mengucapkan salam
kepada seluruh penjuru bumi,
jika logika melemah,
sains tertinggal,
dan daya cipta mengering?

Bangsa tidak menjadi besar
karena banyak berbicara.

Bangsa menjadi besar
karena banyak berpikir.

Maka biarlah para diplomat
menjalin persahabatan dengan seluruh dunia.

Tetapi biarlah kurikulum
tetap disusun oleh akal yang tenang,
oleh data yang jujur,
oleh visi yang panjang,
oleh keberanian untuk berkata:

“Tidak semua yang baik bagi diplomasi,
baik pula bagi ruang kelas.”

Sebab sekolah
bukan panggung penyambutan tamu.

Sekolah adalah bengkel peradaban.

Di sanalah masa depan ditempa,
bukan untuk menyenangkan hari ini,
melainkan untuk menanggung beban esok.

Dan bangsa yang bijak
tidak mengubah arah kompasnya
setiap kali melihat kapal asing di cakrawala.

Ia tahu ke mana hendak berlayar.

Ia tahu pelabuhan yang dituju.

Dan karena itulah,
anak-anaknya tidak dibesarkan
untuk mengikuti setiap angin yang datang,

melainkan untuk menjadi nahkoda
yang mampu menentukan arah
bagi bangsanya sendiri.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BH
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.