Dulu, ada pepatah yang mengatakan, “Jangan mati dulu sebelum datang ke Paris”. Ibu kota negara Prancis itu banyak yang menyebutnya sebagai kota romantis, kota mode (fashion), dan kota opera. Ada juga pepatah, “Jangan mati dulu sebelum ke Bali.” Pepatah ini dikenal luas di kalangan pelancong agar jangan lupa melihat keindahan Pulau Bali.
Lalu, saat pertama kali saya ke Banda Aceh pada tanggal 20–23 Mei 2026 dan mencicipi makanan khas Aceh, saya juga bisa mengatakan, “Jangan mati dulu sebelum merasakan masakan atau kuliner Aceh.” Selama ini yang saya tahu masakan Aceh hanyalah mi aceh, yang juga saya cicipi di kediaman dinas Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Saya sering membaca nasihat di grup WhatsApp tentang kiat-kiat bahagia orang yang berusia di atas 70 tahun, antara lain: “Selalu mendekat pada Allah”, “Sering reuni dengan teman lama”, “Jangan banyak pikiran”, “Olahraga ringan”, atau “Kalau suka makanan enak, makan saja, jangan takut kolesterol, asam urat, dan sebagainya, asal tidak berlebihan”.
Saya sebenarnya bukanlah orang yang fanatik atau gila-gilaan suka makan, mengingat usia saya yang pada Desember 2026 nanti akan mencapai 74 tahun, sehingga harus selektif terhadap makanan. Namun, ketika saya di Banda Aceh, saya mengikuti nasihat di grup WhatsApp tadi, yaitu makan saja makanan-makanan yang enak. Karena itu, ketika saya dijamu makan siang oleh sahabat saya, Yurnalis Usman, seorang purnabakti dosen USK yang pernah ikut Program Pertukaran Pemuda ASEAN-Jepang (Ship for Southeast Asian Youth Program atau SSEAYP) bersama saya tahun 1982, saya “deg-degan” memandang piring-piring di meja makan yang penuh dengan makanan khas Aceh yang mengundang selera.
Yurnalis Usman dan suaminya, Bang Afifuddin, serta sahabat saya yang juga mantan peserta SSEAYP angkatan di bawah kami, Syukwanilati (Kak Syuk, begitu dia dipanggil), menjelaskan panjang lebar nama dan jenis-jenis makanan khas Aceh yang ada di depan meja kami. Beberapa di antaranya adalah sie reuboh goreng, hidangan khas Aceh Besar terbuat dari daging sapi direbus dengan bumbu rempah dan cuka ijuk, ayam goreng daun bawang Aceh yang lebih dikenal dengan sebutan ayam tangkap, yakni potongan ayam goreng yang ditaburi sambal dengan daun pandan, daun kari, dan belimbing wuluh yang dikeringkan. Ada pula kuahbeulangong, hidangan gulai khas Aceh yang menggunakan daging kambing atau sapi dan nangka muda; serta sambal udeung, juga sambal mentah khas Aceh yang memadukan gurihnya udang dengan segarnya belimbing wuluh dan harumnya dedaunan.
Saking lezatnya makanan-makanan tadi karena kaya akan rempah, saya minta Yurnalis Usman untuk memfotonya dan menjadi foto artikel saya ini. Saya tidak sempat menanyakan apa filosofi makanan-makanan khas Aceh itu karena penjelasannya akan menyita waktu banyak. Maklum, saya harus segera ke lokasi diskusi Pertemuan Nasional Forum Komunikasi Komite Audit Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) di mana saya harus hadir.
Tapi yang jelas, setelah saya makan semua makanan khas Aceh itu, hati saya berkata, “Saya menemukan Aceh di makanan ini.” Apalagi saya menemukan Aceh karena lokasi makan siang kami itu ada di suatu kedai kupi (milik adik suami Yurnalis) yang berada persis di samping landasan Bandara Sultan Iskandar Muda. Kedai ini ramai sekali, bisa menampung ratusan orang pengunjung. Maklum, kedai kupi di Aceh itu merupakan tempat tradisi minum kopi di Aceh yang terkenal itu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


