tatah jepara membebaskan pengetahuan dari dalam - News | Good News From Indonesia 2026

TATAH Jepara: Membebaskan Pengetahuan dari Dalam

TATAH Jepara: Membebaskan Pengetahuan dari Dalam
images info

Sumber: https://www.instagram.com/p/DXq09iMgc_D/


Di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, sedang berlangsung pameran hingga 5 Juli 2026. Namanya TATAH, diambil dari nama alat pahat yang digunakan oleh para pengukir di Jepara. Namun, tatah di sini bukan sekadar nama perkakas; tatah adalah perpanjangan tangan, bahkan perpanjangan laku spiritual dan jiwa para pengukir.

Pameran ini hadir pada saat yang tepat ketika seni ukir Jepara kerap direduksi menjadi komoditas industri mebel. TATAH menegaskan ulang bahwa di balik setiap goresan pahat, tersimpan pengetahuan yang berusia berabad-abad, pengetahuan yang selama ini gagal kita baca dengan mata yang adil.

Satu Kayu, Banyak Jiwa

Seorang pengukir Jepara menggenggam tatah dengan napas tertahan. Ia tidak boleh membelah. Tidak boleh memotong lalu menyambung kembali. Dari dalam kayu yang utuh itu, ia harus membebaskan seekor macan, lengkap dengan jeruji sangkar, rantai di kakinya, dan bola yang kelak menggelinding bebas di lantai dasar. Itulah Macan Kurung, salah satu dari sekian banyak mahakarya pengukir Jepara: sebuah keajaiban yang lahir dari kesabaran luar biasa.

Prosesnya berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Tatah harus menembus celah-celah sempit, meraba ruang yang tidak terlihat, dan mempercayai tangan lebih daripada mata. Satu gerakan yang keliru dan seluruh kayu itu gagal. Tidak ada jalan kembali. Tidak ada sambungan yang bisa menutupi kesalahan. Macan Kurung khas Jepara hanya bisa lahir dari kesempurnaan yang sempurna.

Rantai yang membelit kaki macan adalah perumpamaan pengendalian diri, kemampuan menahan ledakan yang sia-sia, bukan hukuman kekang. Bola yang menggelinding adalah kehidupan yang terus berputar, tidak bisa dihentikan meski jeruji mengepung dari segala sisi. Dan sangkar itu sendiri adalah wujud ujian, bukan penjara yang berarti akhir dari segalanya. Ukiran Jepara merupakan manifestasi sistem pengetahuan yang solid.

baca juga

Membaca Ulang Hierarki Pengetahuan

Michelangelo pernah berkata bahwa patung David sudah ada di dalam marmer; tugasnya hanya membuang apa yang tidak perlu dan mengeluarkannya dari bongkahan batu. Pernyataan ini begitu sering dikutip, begitu sering diagungkan sebagai puncak genius artistik manusia, hingga kita lupa bertanya: apakah kita tidak sedang melewatkan keajaiban yang jauh lebih besar, yang terjadi di sudut lain dunia, dengan tangan yang berbeda warna, dalam sunyi yang tidak pernah dicatat dalam sejarah seni Barat?

Perbandingannya tidak berimbang sejak awal. Michelangelo menyingkap satu figur dari satu bahan. Para pengukir Jepara membebaskan beberapa jiwa sekaligus, macan, sangkar, rantai, dan bola yang menggelinding dari dalam satu kayu yang tidak boleh terbelah sedikit pun. Secara teknis, ini adalah pencapaian yang jauh lebih rumit: tiga dimensi yang saling mengunci, ruang negatif yang harus diperhitungkan dari segala sudut sebelum satu tatah pun diayunkan. Michelangelo bekerja dari luar ke dalam. Para pengukir Jepara bekerja dari dalam ke luar, membebaskan ruang yang belum pernah terlihat oleh mata siapa pun.

Namun, selama berabad-abad, Macan Kurung dan mahakarya ukiran Jepara lainnya tidak pernah mendapatkan panggung yang setara dengan David. Bukan karena kalah agung, melainkan karena kita hidup dalam tatanan epistemik yang menempatkan pengetahuan Eropa sebagai standar universal, sementara pengetahuan dari pinggiran hanya dijadikan sekadar "tradisi lokal" yang menarik untuk dikagumi, namun tidak pernah cukup serius untuk disebut sebagai ilmu atau seni yang luhung. Walter Mignolo, filsuf dan semiotikus Argentina, menyebutnya coloniality of knowledge, sebuah bentuk kolonialisme yang tidak hanya merebut tanah, tetapi juga merampas hak untuk mendefinisikan apa yang dianggap bernilai, apa yang dianggap sebagai pengetahuan, dan siapa yang dianggap layak mengklaim keagungan.

Pramoedya Ananta Toer, dalam Tetralogi Buru-nya, telah lama mengingatkan kita tentang jebakan ini. Lewat tokoh Minke, Pram menunjukkan bagaimana manusia pribumi yang paling cerdas sekalipun kerap terjebak dalam mengukur dirinya dengan penggaris orang lain. Sebuah peringatan yang terasa semakin relevan hari ini, ketika kita masih perlu sebuah pameran nasional untuk meyakinkan publik bahwa ukiran Jepara bukan sekadar kerajinan ekspor, melainkan epistemologi: cara mengetahui dan memahami dunia yang lahir dari dalam tanah Nusantara.

Pengetahuan yang Terancam Punah

Macan Kurung dan hasil ukiran lainnya hari ini terancam punah. Semakin sedikit pengukir yang bersedia, atau mampu, menekuni kesabaran luar biasa yang dibutuhkan untuk melahirkannya. Pasar menginginkan kecepatan. Kecepatan tidak bisa bersahabat dengan kayu yang tidak boleh dibelah. Maka perlahan pengetahuan tentang cara meraba ruang yang tidak terlihat mulai tergerus. Disebabkan oleh sistem nilai yang berlaku tidak memberikan ruang yang cukup untuk kesabaran sebagai bentuk keunggulan.

Ketika seorang pengukir terakhir yang tahu cara membebaskan macan dari dalam kayu yang utuh menutup matanya tanpa mewariskan pengetahuannya, yang hilang bukan hanya keterampilan tangan; yang hilang adalah seluruh sistem logika tentang bagaimana manusia bisa memahami ruang yang belum ada, bekerja menuju sesuatu yang belum terlihat, dan mempercayai proses lebih dari hasil.

Mignolo mengingatkan bahwa dekolonisasi pengetahuan tidak berarti menolak segala sesuatu yang berasal dari Barat. Ini berarti membuka ruang agar pengetahuan-pengetahuan lain, yang selama ini dianggap sebagai pinggiran, bisa berdiri sejajar, diajarkan, dikaji, dan dikembangkan dengan bobot yang sama. Dalam konteks ini, menyelamatkan ukiran Jepara merupakan tindakan politik epistemik: mempertahankan hak atas cara berpikir yang berbeda.

baca juga

Tatah sebagai Cara Pandang

Pameran TATAH, dengan tema "Suluk-Sulur-Jepara", memilih kata yang tepat. Suluk berarti perjalanan spiritual, sebuah proses yang tidak memiliki jalan pintas. Sulur adalah ranting yang tumbuh merambat, tidak pernah lurus, selalu mencari celah untuk terus hidup. Keduanya adalah metafora tentang pengetahuan yang tidak bisa dipaksakan, tidak bisa dipotong dan disambung kembali, pengetahuan yang hanya bisa dibebaskan dari dalam, dengan sabar, dengan teliti, tanpa merusak apa pun yang utuh.

Upaya dekolonisasi pengetahuan tidak harus dimulai dari ruang kuliah atau jurnal akademis. Bisa dimulai dari sebuah pameran di Museum Nasional. Dari sebuah tatah yang diangkat kembali oleh tangan-tangan muda. Dari keputusan untuk tidak lagi memandang seni ukir Jepara sebagai produk yang perlu divalidasi oleh pasar internasional, melainkan sebagai bahasa: bahasa tentang kesabaran, tentang kosmologi, tentang cara membebaskan sesuatu yang tersimpan di dalamnya tanpa membelah apa pun yang menjadi wadahnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AC
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.