Maraknya pemberitaan kasus pelecehan dan kekerasan seksual di transportasi umum, khususnya di kereta membuat sebagian orang menjadi trauma. Dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 tahun, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Surabaya bersama komunitas Railfans Sahabat Kereta (SK) menyelenggarakan acara TalkActive #4. Acara tersebut diselenggarakan pada hari Selasa, 26 Mei 2026 di Stasiun Surabaya Pasarturi.
Acara TalkActive #4 terbuka untuk umum dan gratis. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari komunitas Railfans, mahasiswa, hingga pelanggan setia KAI. Dengan menghadirkan tiga narasumber perempuan yaitu Laksmi Amiruci, Asisten Manager (Asmen) Customer Care KAI Daop 8 Surabaya; Thussy Apriliyandari, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Surabaya; dan IPTU Tri Wulandari, Kasubnit PPA Polrestabes Surabaya.
Acara TalkActive #4 dimulai pada pukul 13.00 WIB. Dibuka dengan sambutan dari Mahendro Trang, Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya dan Muhammad Rizky Kurniawan sebagai ketua penyelenggara acara. Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan penandatanganan petisi oleh ketiga narasumber sebelum pemaparan materi dan diskusi tentang tindakan pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kereta api.
Pelayanan dan Komitmen KAI
Selama berada di lingkungan kereta api, KAI berkomitmen memberikan pelayanan prima kepada pelanggannya. Apalagi jika sudah berhubungan dengan tindakan kriminal seperti pelecehan dan kekerasan seksual. Sejak di stasiun, pelanggan sudah mendapat jaminan keamanan dan kenyamanan dari KAI.
Pelanggan diperkenankan untuk melapor kepada petugas yang ada. Tidak harus petugas keamanan saja. Bisa melapor kepada petugas yang sedang berada di sekitar korban, apabila mengalami dan/atau melihat secara langsung aksi pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kereta api.
Bukan hanya di stasiun saja, bahkan di atas kereta api pun masih dijamin keamanan dan kenyamanannya. Yang mana di atas kereta api terdapat CCTV di setiap kereta, nomor kondektur yang terpasang di bagian depan dan belakang kereta, serta petugas yang siap memberikan pelayanan terbaik.
Pelanggan kereta api bisa menghubungi nomor kontak kondektur yang terpasang di setiap kereta atau langsung mendatangi petugas. Seperti kondektur dan polsuska yang sedang berdinas di kereta api tersebut. Tidak hanya kepada petugas, pelanggan juga bisa meminta pertolongan kepada sesama penumpang.
Semakin cepat melapor, maka semakin cepat mendapat pertolongan. Karena tidak ada seorang pun yang ingin menjadi korban tindak pelecehan dan kekerasan seksual. Semakin berani melapor juga semakin bisa segera diproses sembari mengumpulkan barang bukti, saksi, dan informasi penting dari korban.
Respons Cepat dan Tanggap
Tindakan pelecehan dan kekerasan seksual termasuk dalam kasus kriminal, sehingga KAI akan menindak tegas pelakunya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memblokir data pelaku, agar tidak bisa naik kereta api selamanya. Selain pemblokiran, KAI juga akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum.
KAI berkomitmen untuk terus mengawal dan mendampingi korban selama proses hukum terus berjalan. KAI juga sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak profesional untuk menangani kasus tersebut. Seperti yang ada di Daop 8 Surabaya, KAI bekerja sama dengan Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Surabaya serta Polrestabes Surabaya.
Oleh karenanya, KAI menghimbau kepada pelanggan setianya untuk berani melaporkan tindak pelecehan dan kekerasan seksual. Agar pelaku bisa ditindak tegas, korban mendapat pendampingan dan keadilan, serta mengumpulkan bukti-bukti yang dibutuhkan. KAI juga akan memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi kepada sesama penumpang yang turut menolong korban.
Pendukung Lainnya
Menurut ketiga narasumber TalkActive #4, dalam menangani kasus tindakan pelecehan dan kekerasan seksual diperlukan kerja sama yang baik antara korban dengan instansi terkait. Tujuannya bukan hanya mencari keadilan secara hukum saja, tetapi juga pendampingan. Karena sebagian besar korbannya mengalami trauma yang berkepanjangan.
Mengingat sebagian besar korban kasus pelecehan dan kekerasan seksual adalah perempuan, KAI kini menerapkan inovasi baru pada aplikasi Access by KAI. Sebuah aplikasi pemesanan tiket kereta melalui ponsel pintar yang memudahkan pemesanan tiket kereta api tanpa perlu antre di loket. Di aplikasi tersebut, KAI telah memberi tanda khusus antara penumpang laki-laki dengan perempuan.
Tanda khusus tersebut berupa warna-warna tertentu sebagai tanda kursi telah dipesan. Tanda berwarna merah muda pada aplikasi Access by KAI digunakan untuk menandai penumpang perempuan, sedangkan penumpang laki-laki berwarna abu-abu. Dari situ, pelanggan bisa memilih duduk dengan sesama gender perempuan dan memantau kereta yang banyak penumpang perempuannya.
Dengan begitu, pelanggan bisa menjadi tenang sejak memilih nomor kursi yang hendak dipesan. Tujuan dari inovasi tersebut memang ditujukan untuk memberi kenyamanan bagi penumpang perempuan yang hendak bepergian menggunakan transportasi kereta api. Karena terkadang ada penumpang perempuan yang kurang nyaman apabila duduk bersebelahan dengan penumpang laki-laki atau satu kereta didominasi oleh penumpang laki-laki.
Dukungan tambahan lainnya juga berupa pendampingan dari Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak serta pihak kepolisian hingga kasus selesai. Dengan begitu, diharapkan pelanggan tidak takut bepergian naik kereta api. Karena akan selalu ada petugas KAI, seperti kondektur dan polsuska yang siap membantu selama perjalanan. KAI juga menerapkan sanksi berupa pemblokiran data pelaku sebagai efek jera. Agar tidak bisa naik kereta api selamanya, jika terbukti melakukan tindakan pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kereta api.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


