kearifan lokal kebencanaan dari aceh - News | Good News From Indonesia 2026

Kearifan Lokal Kebencanaan dari Aceh

Kearifan Lokal Kebencanaan dari Aceh
images info

Museum Tsunami Aceh


Saya pernah membaca cerita seorang anak perempuan Inggris yang berhasil menyelamatkan nyawa sekitar 100 orang di Pantai Mai Khao, Phuket, Thailand. Anak itu bernama Tilly Smith, kelahiran tahun 1994, dan pada saat terjadinya tsunami tahun 2004, dia berusia 10 tahun. Berdasarkan pelajaran yang diterimanya saat sekolah, dia memperingatkan para pengunjung pantai beberapa menit sebelum datangnya tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi Samudra Hindia (di Aceh) tahun 2004. Smith telah belajar tentang tsunami dalam kelas geografi di sekolah independen di Desa Oxshott, Surrey, Inggris.

Smith belajar tentang tsunami dua minggu sebelum bencana tersebut, dari gurunya, Andrew Kearney, di Danes Hill School. Secara khusus, Smith ingat menonton rekaman hitam-putih di kelas tentang tsunami akibat gempa bumi Kepulauan Aleutian 1946 dan diajari oleh Kearney tentang tanda-tanda peringatan yang harus diwaspadai, terutama sifat laut yang berbusa.

"Itu adalah buih yang sama persis... seperti Anda minum bir. Itu agak mendesis," katanya kepada Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana. Saat dia dan keluarganya berjalan di Pantai Mai Khao, dia mengenali tanda-tanda tsunami yang diajarkan kepadanya, dan dia memberi tahu orang tuanya.

Pengetahuan Smith tentang tanda-tanda munculnya tsunami itu ternyata sudah ada di Tanah Rencong, Aceh, yang tertulis di manuskrip kuno mengenai tsunami dan gempa yang terjadi di Aceh pada tahun 1906. Saya mendapatkan penjelasan soal manuskrip kuno ini dari seorang pemandu profesional di Museum Tsunami Aceh ketika saya beserta para delegasi Forum Komite Audit Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang mengikuti pertemuan nasional di Banda Aceh dibawa oleh panitia dari Universitas Syiah Kuala yang bertindak sebagai tuan rumah mengunjungi Museum Tsunami yang terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda No. 3, Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Posisinya tidak jauh dari Masjid Baiturrahman, sekitar 11 menit berjalan kaki atau 1 menit dengan kendaraan bermotor.

Museum ini berdiri pada tanggal 23 Februari 2009 dan dirancang oleh Ridwan Kamil yang kini dinamanya dikenal sebagai eks Gubernur Jawa Barat. Ia membuat desain yang memenangkan sayembara tingkat internasional pada tahun 2007 dalam rangka memperingati peristiwa tsunami tahun 2004. Pemandu tersebut juga menjelaskan bentuk arsitektur dinding Museum Tsunami Aceh seperti tali-temali yang bergandengan; itu berdasarkan gerakan tangan tari tradisional Aceh, Saman, yang terkenal di dunia ini, yang melambangkan betapa kuatnya ikatan masyarakat Aceh yang saling membantu dalam kejadian tragis tsunami.

Kita semua tahu, pada tanggal 26 Desember 2004, sekira pukul 07.58 WIB, terjadi sebuah gempa dahsyat yang melanda Aceh. Gempa berkekuatan 9,3 skala Richter (SR) ini menyebabkan serangkaian tsunami dahsyat di sepanjang daratan yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.

Aceh merupakan daerah yang terkena dampak paling parah selain Sri Lanka, Thailand, India, dan pantai timur Afrika. Banyak korban jiwa dalam bencana ini, bahkan sampai menyentuh angka 170.000 jiwa. Oleh karena itu, Museum Tsunami Aceh dibuat untuk mengenang korban dari tsunami Aceh tersebut, sekaligus sebagai tempat edukasi dan pusat evakuasi ketika bencana.

Museum Tsunami ini menyimpan sekitar 6.038 koleksi. Koleksi tersebut dibagi ke dalam beberapa jenis, yaitu koleksi etnografika, arkeologika, biologika, teknologika, keramologika, seni rupa, numismatika dan heraldika, geologika, filologika, serta historika dan ruang audio visual. Pengelola museum merotasi koleksi setiap enam bulan sekali. Dalam satu pameran, terdapat sekitar 1.300 koleksi yang tersebar di tiga titik, yaitu rumah Aceh, pameran temporer, dan ruang pameran tetap. Ketika memasuki ruangan museum, kalian akan melewati sebuah lorong kecil dengan pencahayaan minim. Lorong ini membuat emosi pengunjung campur aduk. Setelah itu, ada ruang bernama The Light of God yang terdapat ratusan ribu nama korban dari bencana tsunami Aceh.

Kami semua baru tahu dari pemandu museum itu kalau di Aceh sebenarnya sudah pernah terjadi gempa dan tsunami sebanyak 11 kali.

“Sebenarnya kami sudah terbiasa dengan adanya tsunami sejak dulu kala, namun kami lalai pada saat tsunami tahun 2004 itu,” begitu seingat saya ibu pemandu ini memberi penjelasan.

Masyarakat “lalai” karena sebenarnya sudah ada pelajaran kearifan lokal atau local wisdom yang tertulis di manuskrip kuno. Manuskrip pertama mengenai tsunami dan gempa yang terjadi di Aceh pada tahun 1906. Tertulis pada baris kedua dan ketiga manuskrip: “Rajab: Jika waktu dhuha gempa alamat angin akan keras, air laut ombak pun keras pada tahun itu”. Pada manuskrip kedua, yaitu Naskah Gempa dan Gerhana koleksi Museum Negeri Aceh, tertulis “Rajab: Jika waktu dhuha gempa alamat akan laut keras padanya”. Kalimat tersebut tertulis pada baris ke-7 dan ke-8 halaman kiri pada foto naskah. Kalimat ini mengacu pada peristiwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh pada tanggal 31 Januari 1906.

Selain itu, ada kearifan lokal lain yang disebut budaya atau tradisi Smong. Tradisi ini berada di Kabupaten Simeulue, Aceh, yang menjadi sorotan global: meskipun berada di episentrum gempa megathrust 2004 yang menimbulkan tsunami dahsyat, jumlah korban di Simeulue relatif minim dibanding daerah lain. Hal ini tidak terlepas dari peran Smong itu. Smong adalah tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun sejak tsunami besar tahun 1907. Melalui nyanyian, cerita rakyat, hingga syair nandong, masyarakat Simeulue belajar mengenali tanda-tanda alam sebelum tsunami, yakni air laut surut drastis, gempa kuat, dan perilaku hewan. Anak-anak diajarkan sejak dini bahwa jika fenomena itu terjadi, mereka harus segera berlari ke tempat yang lebih tinggi. Dengan demikian, Smong bukan sekadar folklore, melainkan instrumen penyelamatan jiwa yang terbukti efektif.

Kisah Smong bermula dari bencana tsunami dengan magnitudo 7,6 skala Richter tahun 1907 yang menewaskan ribuan orang di Simeulue. Peristiwa itu meninggalkan trauma kolektif, tetapi juga menjadi titik lahirnya sebuah tradisi mitigasi berbasis komunitas. Para tetua kemudian merumuskan pesan sederhana namun efektif: “Ingatlah Smong, jika laut surut segera lari ke bukit.” Pesan ini disebarkan melalui syair, cerita pengantar tidur, hingga lagu rakyat.

Ketika gempa 26 Desember 2004 mengguncang Aceh, penduduk Simeulue yang sudah dibekali pengetahuan Smong segera berlari ke perbukitan. Hasilnya, meski pulau itu berada dekat episentrum, korban jiwa hanya ratusan dibandingkan ratusan ribu di Banda Aceh dan wilayah pesisir lain. Pengalaman ini membuktikan bahwa Smong berfungsi layaknya sistem peringatan dini atau early warning system berbasis komunitas yang mampu menyaingi teknologi modern. Tradisi Smong disampaikan kepada generasi muda dalam berbagai kesempatan.

Tradisi kearifan lokal yang ada di Aceh itu seharusnya diajarkan di seluruh sekolah di Indonesia ini, mengingat wilayah nusantara berada di Ring of Fire yang rentan terhadap gempa dan tsunami.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AC
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.