lebih responsif dan ekonomis perangkat pumma siap perpanjang golden time mitigasi bencana di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Lebih Responsif dan Ekonomis, Perangkat PUMMA Siap Perpanjang 'Golden Time' Mitigasi Bencana di Indonesia

Lebih Responsif dan Ekonomis, Perangkat PUMMA Siap Perpanjang 'Golden Time' Mitigasi Bencana di Indonesia
images info

Ilustrasi rambu tsunami. Foto oleh Markus Kammermann di Unsplash


Berada di jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) serta diapit oleh pertemuan lempeng tektonik aktif membuat Indonesia akrab dengan potensi bencana geologi. Salah satu ancaman terbesar yang membayangi wilayah pesisir kita adalah tsunami nearfield (jarak dekat) dan atipikal—jenis tsunami yang gelombangnya terpicu sangat cepat dari sumber yang dekat dengan daratan, bukan dari laut dalam.

Guna merespons karakteristik unik geografi Indonesia ini, Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) di bawah Organisasi Riset Kebumian dan Maritim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan kabar baik bagi dunia mitigasi bencana nasional. Mereka memperkenalkan PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut), sebuah teknologi pemantau gelombang laut buatan anak bangsa yang telah teruji tangguh selama enam tahun terakhir.

Filosofi "Murah" yang Bernilai Guna Tinggi

Di kancah internasional, perangkat ini dikenal dengan nama Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL). Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang PRKG BRIN, Semeidi Husrin, menekankan bahwa kata "murah" pada nama alat ini tidak mengartikan kualitas yang seadanya, melainkan sebuah filosofi efisiensi tinggi tanpa sedikit pun mengorbankan keandalan.

Sebagai perbandingan, satu unit offshore buoy (pelampung laut dalam) konvensional komersial bisa memakan biaya produksi fantastis berkisar antara Rp6 hingga Rp10 miliar per unit. Sementara itu, satu unit PUMMA hanya membutuhkan biaya produksi sekitar Rp60 hingga Rp80 juta.

Komponen PUMMA sendiri dirancang ringkas namun canggih, mengintegrasikan:

  • Panel surya sebagai penyokong daya mandiri.
  • Sensor sistem radar pengukur muka air laut.
  • Microcontroller berteknologi Internet of Things (IoT).
  • Kamera pemantau (CCTV) beresolusi tinggi untuk validasi visual secara real-time.

Cara kerjanya pun sangat responsif. PUMMA mampu mencatat anomali atau entakan permukaan laut secara langsung (tanpa melalui pemodelan gempa terlebih dahulu) dengan pembaruan data setiap 15 detik. Jika ada lonjakan air laut yang tidak wajar, data langsung dikirimkan ke server dan aplikasi otoritas terkait dalam waktu kurang dari 5 menit.

Memanfaatkan Pulau Kecil Sebagai "Benteng Alami"

Salah satu kecerdasan desain PUMMA adalah optimalisasinya yang sangat cocok dengan karakteristik negara kepulauan. Alih-alih melabuhkan pelampung mahal di tengah samudra luas yang rawan hanyut atau dirusak (vandalism), PUMMA memanfaatkan pulau-pulau kecil di Indonesia sebagai natural offshore buoy (pelampung lepas pantai alami).

Dengan menempatkan sensor di pulau terdekat dari sumber bencana—seperti di kompleks Gunung Api Anak Krakatau—deteksi dini dapat berjalan jauh lebih progresif. Selama periode 2020–2021, delapan unit PUMMA telah dipasang strategis mulai dari Sumatra Barat, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, hingga Jawa Timur.

Keandalannya terbukti nyata secara global pada Januari 2022. Ketika Gunung Api Hunga Tonga di Pasifik meletus dan memicu gelombang riak tsunami hingga ke perairan Indonesia, PUMMA sukses mendeteksi anomali tersebut dan mengirimkan sekitar 36 notifikasi peringatan dini kepada pihak berwenang.

Komparasi Global: Bagaimana Negara Lain Memantau Tsunami?

Mitigasi tsunami di dunia umumnya mengadopsi beberapa mazhab teknologi tergantung pada kondisi geografis dan kapasitas anggaran negaranya:

  1. Amerika Serikat (Sistem DART): Amerika Serikat mengandalkan Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis (DART). Sistem ini menggunakan sensor tekanan sensitif di dasar laut dalam yang mengirimkan data ke komponen pelampung (buoy) di permukaan, lalu diteruskan via satelit. Sistem ini sangat akurat untuk mendeteksi tsunami jarak jauh (far-field), namun investasinya luar biasa mahal dan membutuhkan biaya perawatan kapal laut yang tinggi.
  2. Jepang (Jaringan DONET dan S-net): Sebagai negara yang sangat sering diguncang gempa megathrust, Jepang menanam ribuan kilometer kabel serat optik di dasar samudra Pasifik yang dilengkapi sensor seismometer dan tekanan air. Sistem kabel bawah laut ini mengirim data dengan kecepatan cahaya secara real-time. Keunggulannya mutakhir dan tidak terganggu cuaca, tetapi biaya instalasinya mencapai triliunan rupiah dan hanya bisa dijangkau oleh negara dengan anggaran mitigasi raksasa.

Kehadiran PUMMA dari BRIN mengisi celah yang tidak dimiliki oleh DART maupun S-net: sebuah solusi taktis, berbiaya rendah, mudah dirawat, dan memanfaatkan pulau-pulau kecil lokal secara cerdas untuk mengatasi tsunami jarak dekat (near-field) yang paling sering memakan korban di Indonesia (belajar dari kasus Tsunami Palu dan Selat Sunda 2018).

Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Pesisir Indonesia

Implementasi PUMMA yang masif diproyeksikan membawa dampak positif multi-sektor yang signifikan:

  • Perlindungan Nyawa & Minimalisir Korban Jiwa: Dengan waktu transmisi data di bawah 5 menit, masyarakat di pesisir pantai memiliki waktu emas (golden time) yang lebih panjang untuk melakukan evakuasi mandiri sebelum gelombang menyentuh daratan.
  • Dampak Multiguna (Deteksi Banjir Rob): Selain tsunami, PUMMA terbukti efektif memantau anomali kenaikan air laut akibat banjir rob (banjir pesisir). Ini menjadi instrumen penting bagi perlindungan kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa yang kerap mengalami penurunan muka tanah dan abrasi.
  • Kemandirian Teknologi & Anggaran: Mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor perangkat kebencanaan asing. Efisiensi anggaran ini membuat pemerintah daerah memiliki kemampuan finansial untuk memperbanyak titik pemantauan secara mandiri di wilayahnya.

Tantangan Keberlanjutan ke Depan

Kendati PUMMA membawa angin segar dan kebanggaan atas inovasi lokal, tantangan nyata di lapangan tidak boleh diabaikan. Berdasarkan data riset, beberapa unit PUMMA yang sempat dipasang di sepanjang pesisir selatan Jawa dan pantai barat Sumatra sempat dinonaktifkan sementara.

Hal ini menunjukkan bahwa menjaga keberlanjutan fungsi alat (sustainability) jauh lebih menantang daripada sekadar memproduksinya. PUMMA membutuhkan komitmen integrasi multisensor yang kuat bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam payung sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).

Selain itu, secanggih apa pun alat deteksi di laut, ia tidak akan berfungsi optimal jika tidak dibarengi dengan kesiapan hilir: tata ruang pesisir yang aman, pemeliharaan benteng hijau alami (greenbelt) berupa hutan mangrove, serta edukasi tiada henti untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat lokal. PUMMA adalah langkah awal yang brilian, kini tugas kita bersama adalah merawat dan memastikan suar peringatan ini tetap menyala demi menjaga keselamatan bangsa.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Yufi Eko Firmansyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Yufi Eko Firmansyah.

YE
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.