pondok pesantren suryalaya bertahan dari serangan di tii raih kalpataru dan bina korban narkoba - News | Good News From Indonesia 2026

Pondok Pesantren Suryalaya: Bertahan dari Serangan DI/TII, Raih Kalpataru, dan Bina Korban Narkoba

Pondok Pesantren Suryalaya: Bertahan dari Serangan DI/TII, Raih Kalpataru, dan Bina Korban Narkoba
images info

Pondok Pesantren Suryalaya: Bertahan dari Serangan DI/TII, Raih Kalpataru, dan Bina Korban Narkoba


"Ulah nyalahkeun kana pangajaran batur" (jangan menyalahkan ajaran orang lain).

"Ulah mariksa murid batur" (jangan memeriksa murid orang lain).

"Ulah medal sila upama kapanah" (jangan mengubah sikap meski disakiti orang lain).

Tiga pesan itu tertulis di halaman depan website Pondok Pesantren Suryalaya. Kalimat itu menggambarkan nilai yang dipegang teguh oleh pesantren yang telah berdiri lebih dari satu abad tersebut.

Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu pusat Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah terbesar di Indonesia, Suryalaya dulunya hanyalah sebuah pesantren sederhana di Kampung Godebag, Desa Tanjungkerta, Tasikmalaya. Pendirinya adalah Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang lebih dikenal sebagai Abah Sepuh pada 5 September 1905.

Saat itu, pendirian pesantren tidak berjalan mulus. Menurut catatan sejarah Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh sempat diliputi keraguan. Lokasi yang cukup terpencil, kondisi alam yang tidak mudah dijangkau, serta tantangan dari pemerintah kolonial Belanda dan sebagian masyarakat sekitar menjadi tantangan yang harus dihadapi kala itu.

Meski demikian, berkat dukungan dari gurunya, Syaikh Tholhah bin Talabudin dari Kalisapu, Cirebon, Abah Sepuh akhirnya merealisasikan apa yang diangankan. Sang guru pun memberikan izin dan bimbingan, bahkan dukungan moral. Syaikh Tholhah bin Talabudin dari Kalisapu sampai datang langsung ke lokasi dan tinggal beberapa hari untuk memberikan dukungan psikologis.

Nama Suryalaya sendiri berasal dari bahasa Sunda, yakni "surya" yang berarti matahari dan "laya" yang berarti tempat terbit. Secara harfiah, Suryalaya berarti tempat matahari terbit.

Abah Sepuh Resmi Meneruskan Ajaran yang Diterimanya

Tiga tahun setelah pesantren berdiri, tepatnya pada 1908, Abah Sepuh menerima khirqah dari gurunya. Dalam tradisi tarekat, khirqah merupakan legitimasi atau pengesahan spiritual yang diberikan kepada seorang murid untuk membimbing umat dan meneruskan ajaran yang diterimanya.

Sejak saat itu, Suryalaya berkembang bukan hanya sebagai lembaga pendidikan pesantren, tetapi juga sebagai pusat pengembangan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah atau TQN.

Tarekat itu apa? Tarekat dapat dipahami sebagai metode pembinaan spiritual dalam Islam yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan tertentu di bawah bimbingan seorang guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.

Kata tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah yang berarti "jalan" atau "metode".

Jika syariat mengatur bagaimana seorang Muslim menjalankan ibadah dan kehidupan sehari-hari, maka tarekat lebih menekankan pada pembinaan batin, pengendalian hawa nafsu, dan peningkatan kualitas spiritual.

Dalam praktiknya, seseorang yang mengikuti tarekat biasanya melakukan berbagai amalan seperti: zikir (mengingat allah dengan bacaan tertentu), wirid (bacaan yang dilakukan secara rutin), muhasabah (introspeksi diri), pembinaan akhlak dan perilaku, hingga bimbingan langsung dari seorang mursyid atau guru spiritual

Di Indonesia terdapat berbagai tarekat yang berkembang, salah satunya adalah Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah yang dianut dan dikembangkan oleh Pondok Pesantren Suryalaya.

Nah, seiring bertambahnya murid atau ikhwan, dukungan masyarakat terhadap ponpes ini semakin kuat. Ajaran yang dikembangkan Suryalaya mulai dikenal luas hingga berbagai daerah di Nusantara.

Ujian Ponpes Suryalaya di Tengah Perjalanannya

Sayangnya, perjalanan panjang itu kembali diuji ketika tongkat kepemimpinan berpindah kepada putra kelima Abah Sepuh, KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin atau yang lebih dikenal sebagai Abah Anom.

Pada masa awal kepemimpinannya, Pondok Pesantren Suryalaya harus menghadapi situasi keamanan yang tidak menentu akibat pemberontakan DI/TII. Catatan resmi pesantren menyebutkan bahwa Suryalaya mengalami lebih dari 48 kali gangguan dan serangan selama periode tersebut.

Meski demikian, aktivitas pendidikan dan pembinaan tetap berjalan. Setelah situasi kembali stabil, jumlah masyarakat yang datang untuk belajar malahan semakin meningkat. Mereka tidak hanya berasal dari Jawa Barat, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.

Keberhasilan Suryalaya juga didukung oleh pemikiran Abah Anom yang berkembang. Ia tidak melihat pesantren hanya sebagai tempat mengaji atau belajar kitab. Di tangannya, Suryalaya berkembang menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang menyentuh berbagai aspek kehidupan.

Pesantren ikut terlibat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan warga, khususnya di sektor pertanian. Salah satunya melalui pembangunan jaringan irigasi untuk membantu kebutuhan air pertanian. Di beberapa lokasi, pesantren juga mengembangkan kincir air yang dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik sederhana bagi masyarakat sekitar.

Perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan masyarakat juga terlihat dari langkah besarnya pada 1961 ketika mendirikan Yayasan Serba Bakti. Melalui yayasan inilah berbagai lembaga pendidikan lahir dan berkembang di lingkungan Suryalaya. Mulai dari taman kanak-kanak, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah menengah kejuruan, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, hingga pendidikan tinggi didirikan untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat.

Pendekatan Spiritual untuk Persoalan Kehidupan Remaja

Salah satu warisan paling dikenal dari masa kepemimpinan Abah Anom adalah berdirinya Pondok Remaja Inabah.

Lembaga ini lahir dari keprihatinan terhadap mereka yang sedang menghadapi persoalan kehidupan, terutama gangguan mental, krisis moral, hingga ketergantungan narkotika dan zat adiktif lainnya. Ketika banyak pihak masih memandang persoalan tersebut semata-mata sebagai masalah medis atau hukum, Inabah menawarkan pendekatan yang berbeda.

Di tempat ini, proses pemulihan dilakukan melalui pembinaan spiritual, penguatan ibadah, zikir, pendampingan, dan pembentukan kebiasaan hidup yang lebih sehat. Pendekatan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik dan psikologis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual.

Keberadaan Inabah kemudian menarik perhatian banyak kalangan. Tidak hanya masyarakat umum, tetapi juga para akademisi, tenaga kesehatan, sosiolog, psikolog, hingga peneliti keagamaan. Banyak di antara mereka yang datang untuk melihat bagaimana pendekatan berbasis agama dan tasawuf diterapkan dalam proses rehabilitasi.

Dari sinilah nama Suryalaya semakin dikenal luas. Pesantren ini tidak lagi dipandang hanya sebagai pusat pengajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, tetapi juga sebagai lembaga yang berusaha menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Perannya terus meluas ke bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, lingkungan hidup, hingga kebangsaan. Berbagai penghargaan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, bahkan lembaga internasional menjadi pengakuan atas kontribusi tersebut.

Salah satu pengakuan atas peran ponpes ini adalah ketika Pondok Pesantren Suryalaya menerima penghargaan Kalpataru pada 1980. Penghargaan ini diberikan atas kiprahnya dalam penyuluhan dan pendidikan lingkungan, sebuah pencapaian yang cukup menarik mengingat isu lingkungan saat itu belum menjadi perhatian luas seperti sekarang.

Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa Suryalaya tidak hanya berupaya membangun kehidupan spiritual masyarakat, tetapi juga menanamkan kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan hidup.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.