little nabawi - News | Good News From Indonesia 2026

Little Nabawi

Little Nabawi
images info

Little Nabawi


Pada hari Jumat (22/5/2026), selepas acara pertemuan nasional Forum Komunikasi Komite Audit Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) di Banda Aceh, panitia dari Universitas Syiah Kuala selaku tuan rumah mengantarkan para peserta untuk mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman, salah satu ikon penting di Banda Aceh.

Karena saya masih menggunakan kursi roda, saya menunaikan salat Jumat di pelataran samping masjid yang megah itu. Saya langsung merasakan suasana seperti salat di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Itu karena lanskap Masjid Baiturrahman ini memang mirip Masjid Nabawi: Seluruh lantai terbuat dari marmer putih dan adanya beberapa tenda atau payung besar seperti yang ada di Madinah. Angin kencang menemani jemaah salat Jumat di masjid yang menampung lebih dari 30.000 orang tersebut. Jemaah yang lalu lalang—tua, muda, dan anak-anak—situasinya persis seperti yang kita lihat di Masjid Nabawi.

Masjid Baiturrahman merupakan masjid bersejarah yang dibangun pada tahun 1879. Masjid ini menjadi simbol agama, budaya, dan ketangguhan perjuangan rakyat Aceh, serta menjadi ikon kota Banda Aceh sejak zaman Kesultanan Aceh. Awalnya, masjid yang asli dibangun pada tahun 1612 di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Ada juga yang mengatakan bahwa masjid yang asli dibangun lebih awal pada tahun 1292 oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah. Pada saat itu, status masjid ini adalah masjid kerajaan yang menampilkan atap jerami berlapis-lapis, yang merupakan fitur khas arsitektur Aceh.

Kita juga mengenal masjid yang megah ini karena menjadi salah satu bangunan yang selamat dari gempa bumi dan tsunami Aceh, 26 Desember 2004, yang menjadikannya simbol ketahanan dan keajaiban. Saat gelombang dahsyat yang tingginya mencapai 30 meter meluluhlantakkan wilayah sekitarnya, bangunan masjid tetap berdiri kokoh dan menjadi tempat berlindung bagi ribuan warga yang selamat. Saya merinding membayangkan tingginya air tsunami itu. Bagaimana tidak, tingginya 10 kali rumah saya, atau dua pertiga tinggi Tugu Pahlawan Surabaya.

Penjelasan dari kecerdasan buatan atau AI menyebutkan bahwa gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 diperkirakan memindahkan sekitar 30 kilometer kubik (30 km³) air laut atau setara dengan 12 juta kolam renang ukuran Olimpiade. Volume masif ini didorong oleh patahan bawah laut sepanjang lebih dari 1.000 kilometer yang terangkat vertikal.

Akibatnya, gedung sekuat apa pun akan lenyap dihantam gelombang tsunami itu. Seluruh daratan yang dulunya penuh dengan bangunan rumah, perkantoran, jembatan, dan sebagainya rata dengan tanah, seperti dampak bom atom Hiroshima tahun 1945.

Namun, Masjid Baiturrahman berdiri kokoh, seperti mempersilakan air bah itu untuk bersujud di rumah Allah, atau memberi tahu air bah bahwa di hadapannya itu adalah rumah Allah tempat umat-Nya melakukan penyembahan dan memintanya untuk minggir. Karena itu, meskipun wilayah sekitar Masjid Baiturrahman hancur lebur rata dengan tanah, ribuan pengungsi berhasil selamat berlindung di rumah Allah ini. Air bah yang menerjang kawasan itu melandai dan dangkal di depan Masjid Baiturrahman, seperti bersimpuh dengan hormat di rumah Tuhan Yang Maha Esa.

Di kawasan “Little Nabawi” ini, saya juga serasa berada di negeri jiran Malaysia. Wajah saudara-saudara kita dari Aceh ini ada yang seperti suku Melayu, ada yang berkulit putih bersih, ada pula yang berkulit gelap seperti keturunan India—sama dengan yang sering kita temui di Malaysia. Memang kebetulan Masjid Baiturrahman ini menjadi salah satu destinasi wisata orang-orang Malaysia yang berkunjung ke Banda Aceh. Maklum, jarak Banda Aceh dengan Malaysia dekat, hanya 45 menit penerbangan. Saking banyaknya warga Malaysia yang salat di Masjid Baiturrahman, seorang juru foto yang menawarkan jasa pengambilan foto untuk wisatawan menyapa saya, “Encik dari Malaysia kah?”

Kebetulan juga, pas saat salat Jumat di Masjid Baiturrahman ini, seorang content creator asal Malaysia yang terkenal baik di Malaysia maupun di Aceh bernama Aisar Khaled juga sedang menunaikan salat. Di dalam masjid, dia disalami banyak orang. Selesai salat pun dia dikerumuni para penggemarnya. Bahkan di luar pagar masjid, Aisar Khaled duduk di atas mobil dan dielu-elukan ratusan penggemarnya.

Selebgram sekaligus YouTuber yang sering dijuluki netizen sebagai "Sultan Malaysia" ini memiliki jutaan pengikut. Ia dikenal sangat aktif membagikan momen-momen kunjungannya saat singgah beribadah, mengagumi kemegahan masjid ikonik tersebut, hingga menggelar berbagai aksi sosial berskala besar bersama warga lokal di Serambi Mekkah.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AC
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.