scroll tiktok terus menerus bisa pengaruhi fokus mahasiswa ini cari solusinya dengan ai - News | Good News From Indonesia 2026

Scroll TikTok Terus-Menerus Bisa Pengaruhi Fokus, Mahasiswa Ini Cari Solusinya dengan AI

Scroll TikTok Terus-Menerus Bisa Pengaruhi Fokus, Mahasiswa Ini Cari Solusinya dengan AI
images info

Scroll TikTok Terus-Menerus Bisa Pengaruhi Fokus, Mahasiswa Ini Cari Solusinya dengan AI


“Cuma lima menit.”

Kalimat itu mungkin terdengar familiar bagi banyak Kawan GNFI saat membuka TikTok atau Instagram Reels. Namun, tanpa sadar, lima menit bisa berubah menjadi satu jam scrolling tanpa henti. Video demi video terus muncul di layar, membuat pengguna sulit berhenti bahkan ketika sebenarnya sudah ingin menutup aplikasi.

Fenomena ini kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Generasi Z. Short-form video seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts bukan lagi sekadar hiburan, tetapi telah menjadi pola konsumsi digital yang melekat dalam aktivitas harian. Di balik hiburan yang terasa ringan dan cepat, muncul pertanyaan yang mulai banyak dibahas: apakah kebiasaan scrolling terus-menerus dapat memengaruhi kemampuan fokus seseorang

Pertanyaan itulah yang mendorong Muhammad Zahid Setiansyah, mahasiswa President University, untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara kecanduan short-form video dan penurunan kemampuan perhatian pada Generasi Z. Menariknya, Zahid tidak hanya membahas dampaknya, tetapi juga mencoba menawarkan pendekatan solusi melalui teknologi Artificial Intelligence (AI).

(Foto: Dokumentasi Muhammad Zahid Setiansyah)
info gambar

(Foto: Dokumentasi Muhammad Zahid Setiansyah)


Tidak dapat dipungkiri, algoritma TikTok memang dirancang untuk membuat pengguna betah berlama-lama di dalam aplikasi. Semakin sering seseorang menonton video tertentu, semakin akurat pula rekomendasi konten yang diberikan. Akibatnya, pengguna terus menerima video yang terasa relevan dan menarik secara personal.

baca juga

Bagi banyak orang, kebiasaan ini mungkin terlihat normal. Namun, menurut penelitian Zahid, pola konsumsi konten cepat secara terus-menerus dapat berkaitan dengan menurunnya kemampuan mempertahankan perhatian dalam jangka panjang.

Kawan GNFI mungkin pernah mengalami situasi seperti ini:

  • Sulit fokus membaca beberapa halaman buku,
  • Cepat bosan saat menonton video berdurasi panjang,
  • Atau merasa ingin terus membuka aplikasi meski sedang belajar maupun bekerja.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam berbagai penelitian yang dikaji Zahid. Ia menemukan bahwa short-form video memiliki mekanisme yang memicu sistem reward di otak melalui stimulasi cepat dan terus-menerus. Konten yang berganti dalam hitungan detik membuat otak terbiasa menerima hiburan instan tanpa jeda.

Lama-kelamaan, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama dapat terasa lebih melelahkan dibandingkan scrolling video singkat.

Generasi Z Jadi Kelompok yang Paling Dekat dengan Fenomena Ini

Penelitian Zahid juga menyoroti bahwa Generasi Z menjadi kelompok yang paling dekat dengan budaya short-form video. Mereka tumbuh di tengah perkembangan media sosial, notifikasi instan, dan algoritma yang terus bergerak cepat.

Menariknya, pada usia Generasi Z, perkembangan bagian otak yang berkaitan dengan fokus dan pengendalian diri sebenarnya masih berlangsung. Karena itu, paparan konten cepat secara terus-menerus dikhawatirkan dapat memengaruhi kebiasaan perhatian dalam jangka panjang.

Namun, Zahid tidak menyimpulkan bahwa TikTok merupakan “musuh” atau penyebab tunggal menurunnya fokus anak muda. Sebaliknya, ia melihat bahwa tantangan terbesar justru terletak pada kurangnya kesadaran terhadap pola penggunaan digital itu sendiri.

Banyak pengguna baru menyadari dampaknya ketika jadwal tidur mulai berantakan, tugas menumpuk, atau konsentrasi belajar terasa semakin pendek.

AI yang Tidak Menghakimi Pengguna

Di sinilah bagian menarik dari penelitian Zahid dimulai.

Alih-alih menyuruh orang berhenti total menggunakan media sosial, ia justru mencoba memanfaatkan AI untuk membantu pengguna memahami kebiasaan digital mereka sendiri.

Dalam penelitiannya, Zahid mengusulkan sebuah sistem berbasis AI yang dapat membaca pola perilaku penggunaan smartphone secara pasif. Sistem ini tidak merekam isi percakapan atau aktivitas pribadi pengguna, melainkan hanya menganalisis pola penggunaan digital, seperti:

  • Durasi scrolling,
  • Frekuensi membuka aplikasi,
  • Penggunaan aplikasi pada tengah malam,
  • Kebiasaan berpindah aplikasi secara cepat.

Data tersebut kemudian diproses menggunakan model AI bernama CNN-LSTM untuk melihat apakah pola penggunaan seseorang mulai menunjukkan tanda-tanda attention decline atau penurunan kemampuan perhatian.

Jika sistem mendeteksi pola berisiko, pengguna akan menerima notifikasi atau peringatan ringan. Misalnya, sistem dapat memberi tahu bahwa durasi penggunaan TikTok meningkat drastis dalam seminggu terakhir atau aktivitas scrolling tengah malam mulai terlalu sering terjadi.

Pendekatan ini terasa berbeda karena AI yang diusulkan Zahid tidak hadir untuk menghakimi pengguna, melainkan membantu membangun kesadaran digital secara perlahan.

Dari Scroll Menjadi Self-Awareness

Di tengah perkembangan AI yang semakin masif, penelitian Zahid menunjukkan bahwa teknologi juga dapat digunakan untuk isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda.

Saat ini, pembahasan mengenai digital well-being dan kesehatan mental digital mulai semakin relevan. Banyak orang mulai mempertanyakan bagaimana media sosial memengaruhi pola tidur, fokus, produktivitas, hingga hubungan sosial.

Namun, di sisi lain, media sosial juga sudah menjadi bagian dari kehidupan modern yang sulit dipisahkan. Karena itu, pendekatan yang terlalu ekstrem sering kali terasa tidak realistis.

Penelitian Zahid mencoba menawarkan sudut pandang berbeda. Bukan tentang melarang TikTok atau membuat pengguna takut menggunakan media sosial, melainkan tentang bagaimana teknologi dapat membantu seseorang lebih sadar terhadap kebiasaan digitalnya sendiri.

Bisa jadi, langkah pertama untuk membangun hubungan digital yang sehat bukanlah langsung menghapus aplikasi, melainkan memahami pola penggunaan kita terlebih dahulu.

baca juga

Inovasi Anak Muda untuk Tantangan Digital Masa Kini

Meski masih berupa rancangan konseptual dan belum menjadi aplikasi final, penelitian Zahid tetap memperlihatkan bagaimana keresahan sehari-hari dapat berkembang menjadi inovasi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Topik mengenai attention span, digital addiction, dan AI kini menjadi isu global yang terus berkembang. Di tengah fenomena tersebut, hadirnya penelitian dari mahasiswa Indonesia menunjukkan bahwa anak muda juga mampu mengambil bagian dalam diskusi teknologi dan kesehatan digital secara lebih serius.

Pada akhirnya, penelitian ini menjadi pengingat bahwa teknologi tidak selalu harus hadir sebagai distraksi. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi justru dapat membantu manusia memahami dirinya sendiri, termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan dunia digital setiap hari.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BZ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.