Coba bayangkan ini. Suatu pagi Kawan ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur seperti biasa. Namun tiba-tiba harga terigu naik. Minyak goreng juga. Bahkan tempe dan tahu yang selama ini murah meriah pun ikut naik harganya. Kamu kemudian bertanya ke pedagang, jawabannya singkat: "Dolar lagi naik, Bu."
Banyak dari kita mendengar kalimat itu, tetapi tidak terlalu paham hubungannya. Apa urusan dolar Amerika dengan tempe di pasar Cilegon atau nasi di warung makan Makassar? Ternyata, hubungannya sangat erat dan inilah yang perlu kita pahami bersama.
Rupiah Melemah, Harga Pangan Ikut Bergejolak
Indonesia adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa. Untuk memberi makan semua orang itu, ternyata kita tidak bisa hanya mengandalkan hasil panen sendiri. Sebagian besar bahan pangan penting masih harus kita beli dari luar negeri atau diimpor.
Nah, semua transaksi pembelian dari luar negeri itu menggunakan dolar Amerika (USD) sebagai alat pembayaran. Jadi ketika nilai dolar naik atau dengan kata lain rupiah kita melemah, harga barang impor otomatis ikut naik. Sebab, untuk membeli barang yang sama, kita harus mengeluarkan rupiah lebih banyak dari sebelumnya.
Gambaran mudahnya sebagai berikuti, jika dolar semula Rp15.000 lalu naik menjadi Rp16.500, maka harga gandum yang tadinya 100 dolar per ton setara Rp1,5 juta tiba-tiba menjadi Rp1,65 juta per ton. Selisih Rp150.000 itu terlihat kecil per ton, tetapi jika Indonesia mengimpor jutaan ton setiap tahun, totalnya bisa mencapai triliunan rupiah. Pada akhirnya, biaya tambahan itu dibebankan kepada konsumen, yaitu kita semua.
Ketergantungan Pangan pada Impor
Mungkin kita berpikir, "Ah, Indonesia kan negara agraris, masa kekurangan pangan?" Memang benar Indonesia kaya hasil bumi. Akan tetapi kenyataannya, beberapa bahan makanan pokok yang kita konsumsi setiap hari justru sebagian besar masih berasal dari impor.
Gandum dan tepung terigu
Indonesia tidak bisa menanam gandum karena iklimnya tidak cocok. Padahal gandum adalah bahan utama roti, mi, biskuit, kue, dan berbagai makanan yang kita makan setiap hari. Seluruhnya harus diimpor, terutama dari Australia, Amerika, dan Kanada.
Kedelai
Ini yang sering tidak disadari banyak orang. Tempe dan tahu adalah makanan asli Indonesia yang dicintai semua kalangan. Namun bahan bakunya, kedelai, sekitar 70-80% masih diimpor dari Amerika Serikat. Jadi ketika dolar naik, harga tempe dan tahu pun ikut merangkak naik.
Dengan ketergantungan impor sebesar itu, tidak heran jika setiap kali dolar bergejolak, dapur kita pun ikut terdampak. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Food Policy menegaskan bahwa negara-negara berkembang dengan ketergantungan impor pangan yang tinggi sangat rentan mengalami krisis pangan saat nilai tukar melemah (Headey dan Fan, 2010).
Siapa yang Paling Terpukul?
Ketika harga makanan naik, tidak semua orang merasakan dampak yang sama. Bagi keluarga dengan penghasilan cukup, kenaikan harga tempe atau mie mungkin hanya terasa sedikit tidak nyaman. Mereka bisa beralih ke alternatif lain atau mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan lainnya.
Namun bagi keluarga miskin dan masyarakat berpenghasilan rendah, kenaikan harga pangan adalah bencana yang sesungguhnya. Mereka sudah mengalokasikan sebagian besar pendapatan hanya untuk makan. Kalau harga naik, pilihan mereka hanya dua: makan lebih sedikit atau makan yang lebih murah , tetapi kurang bergizi.
Inilah yang disebut ancaman ketahanan pangan. Ketahanan pangan bukan hanya soal apakah makanan tersedia di pasar, tetapi juga soal apakah semua orang mampu mendapatkannya. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), ketahanan pangan terwujud ketika semua orang, setiap saat, memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk menjalani hidup yang aktif dan sehat (FAO, 2008).
Dampak Kenaikan Dolar Tidak Hanya pada Harga Pangan
Petani kita menggunakan pupuk, pestisida, dan berbagai peralatan pertanian yang sebagian bahan bakunya masih diimpor dan dibayar menggunakan dolar. Ketika dolar naik, harga pupuk ikut meningkat. Biaya produksi petani pun membengkak. Banyak petani kecil akhirnya mengurangi lahan tanam atau tidak mampu membeli pupuk dalam jumlah yang cukup sehingga hasil panen ikut menurun.
Peternak pun mengalami kondisi serupa. Pakan ternak seperti jagung dan kedelai sebagian masih diimpor. Ketika harga pakan naik, biaya beternak ikut meningkat, dan pada akhirnya harga daging maupun telur di pasaran turut mengalami kenaikan. Sebuah studi dalam jurnal Agricultural Economics menunjukkan bahwa fluktuasi nilai tukar secara signifikan memengaruhi biaya produksi pertanian dan pada akhirnya menekan pendapatan petani kecil di negara berkembang (Timmer, 2010).
Apa yang Sudah dan Perlu Dilakukan?
Pemerintah tentu tidak tinggal diam. Ada beberapa langkah yang sudah dan tengah diupayakan untuk melindungi ketahanan pangan di tengah gejolak dolar:
Subsidi pangan dan operasi pasar
Pemerintah melalui Bulog sering melakukan operasi pasar dengan menjual beras dan bahan pokok dengan harga lebih murah ketika harga pasar melonjak. Langkah ini membantu masyarakat berpenghasilan rendah agar tetap dapat membeli kebutuhan pangan.
Mendorong diversifikasi pangan
Salah satu langkah jangka panjang adalah mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor. Caranya dengan mendorong masyarakat mengonsumsi sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, jagung, sagu, dan pisang selain nasi. Upaya ini dikenal sebagai program diversifikasi pangan lokal.
Penelitian dalam jurnal World Development menunjukkan bahwa negara-negara yang berhasil menjaga ketahanan pangan di tengah gejolak ekonomi global umumnya memiliki kebijakan pangan jangka panjang yang konsisten, bukan hanya bersifat reaktif ketika krisis terjadi (Barrett, 2010).
Kita Juga Bisa Berkontribusi
Ketahanan pangan sering kali terdengar seperti urusan pemerintah dan para ahli ekonomi. Padahal, masyarakat juga dapat ikut berkontribusi menjaganya melalui langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Kurangi pemborosan makanan
Indonesia termasuk negara dengan tingkat pemborosan makanan yang cukup tinggi. Padahal, setiap makanan yang dibuang berarti sumber daya yang terbuang sia-sia.
Konsumsi pangan lokal
Singkong, ubi, jagung, dan sagu merupakan bahan pangan lokal yang tidak bergantung pada dolar, diproduksi oleh petani dalam negeri, serta memiliki kandungan gizi yang baik.
Menanam bahan pangan sendiri
Menanam sayuran di pot atau pekarangan rumah, meski hanya cabai, bayam, atau kangkung, dapat menjadi bentuk sederhana ketahanan pangan di tingkat keluarga.
Dolar Naik, Kita Harus Lebih Siap
Naiknya dolar bukan hanya angka di berita ekonomi yang dipahami pengusaha atau investor, tetapi kenyataan yang langsung terasa dalam kebutuhan pangan masyarakat.
Ketahanan pangan Indonesia masih memiliki banyak tantangan. Selama kita masih sangat bergantung pada impor bahan makanan pokok, maka kondisi pangan masyarakat akan terus terdampak setiap kali dolar naik. Inilah tantangan besar yang perlu diselesaikan bersama oleh pemerintah, petani, pelaku industri, dan juga masyarakat sebagai konsumen.
Karena pada akhirnya, makanan bukan sekadar soal selera. Makanan adalah soal keberlangsungan hidup dan ketahanan pangan adalah fondasi dari sebuah bangsa yang berdaulat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


