Kawan GNFI pasti mengenal sosok Sunan Giri. Beliau adalah salah satu tokoh penting dari sejarah persebaran agama Islam di Indonesia. Beliau adalah bagian dari Walisongo, yang berisi sembilan wali atau pemuka agama Islam yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Makam beliau di Kabupaten Gresik masih menjadi tujuan utama bagi masyarakat untuk berziarah dan mendoakan jasa beliau.
Tapi tulisan ini tidak akan membahas perihal sosok Sunan Giri, melainkan legenda yang berkaitan dengan ibu beliau yang bernama Dewi Sekardadu. Beliau adalah putri dari Prabu Menak Sembuyu, sang penguasa daerah Blambangan, yang saat ini berada di sekitar wilayah Kabupaten Banyuwangi.
Meskipun berasal dari Blambangan, kisah Dewi Sekardadu menjadi legenda turun temurun di Kabupaten Sidoarjo. Bahkan, terdapat situs makam yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir beliau. Makam tersebut terletak di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

Peta Dusun Kepetingan. Sumber: Google Maps
Banyak versi mengenai kisah Dewi Sekardadu, tetapi pada kesempatan ini Kawan GNFI akan mengetahui menurut versi masyarakat Dusun Kepetingan, Sidoarjo.
Legenda Dewi Sekardadu Sang Ibunda Sunan Giri
Alkisah, Dewi Sekardadu menikah dengan Syekh Maulana Ishaq yang merupakan ayah dari Sunan Giri. Pernikahan ini terjadi setelah Syekh Maulana Ishaq berhasil menyembuhkan wabah yang diderita Dewi Sekardadu dan masyarakat Blambangan.
Namun karena persebaran agama Islam begitu cepat, Syekh Maulana Ishaq diusir dari Blambangan. Pengusiran ini terjadi ketika Dewi Sekardadu masih mengandung Sunan Giri. Setelah Sunan Giri lahir, wabah kembali melanda masyarakat Blambangan. Kelahiran Sunan Giri dianggap sebagai penyebab terjadinya wabah tersebut.
Kepanikan melanda seluruh Blambangan. Patih Bajul Sengara mengusulkan kepada Prabu Menak Sembuyu untuk membuang Sunan Giri yang masih menjadi bayi ke laut. Sang prabu akhirnya setuju. Bayi Sunan Giri kemudian dimasukkan ke dalam peti dan dihanyutkan ke laut.
Bayi Sunan Giri berhasil selamat setelah ditemukan oleh seorang saudagar asal Gresik bernama Nyi Ageng Pinatih. Sang bayi kemudian diberi nama Joko Samudro, yang berarti anak laki-laki dari lautan.
Dewi Sekardadu sedih mendengar anak yang ia lahirkan harus dihanyutkan ke laut. Beliau kemudian menceburkan diri ke laut untuk mengikuti anaknya. Namun nahas, beliau tidak selamat setelah kejadian tersebut.
Menurut legenda, jasad Dewi Sekardadu terombang-ambing di lautan. Jasad beliau akhirnya sampai di pesisir wilayah Sidoarjo. Masyarakat melihat jasad beliau diangkat oleh segerombolan ikan keting. Jasad beliau dimakamkan oleh warga sekitar. Lokasi tempat makam Dewi Sekardadu diberi nama Ketingan atau Kepetingan.
Tradisi Nyadran ala Masyarakat Pesisir Sidoarjo
Makam Dewi Sekardadu di Dusun Kepetingan menjadi salah satu destinasi utama yang dikunjungi masyarakat Sidoarjo ketika mengadakan tradisi Nyadran.
Nyadran adalah suatu ritual yang dilakukan setiap akhir bulan Ruwah atau Sya’ban, menjelang bulan Ramadan. Warga Sidoarjo dengan arak-arakan perahu membawa tumpeng dan beragam hasil bumi untuk dilarung di lautan.
Sebelum itu, masyarakat berziarah ke makam Dewi Sekardadu. Di sana, mereka berdoa untuk mendapatkan hasil tangkapan ikan yang melimpah, serta bersyukur atas hasil tangkapan yang selama ini didapatkan.

Sungai di Dusun Kepetingan. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Setelah berziarah, rombongan arak-arakan perahu bergerak menuju lautan dan mengarung tumpeng dan hasil bumi yang dibawa.
Tradisi Nyadran menjadi salah satu perayaan budaya yang dinantikan oleh masyarakat Sidoarjo. Tradisi ini bisa menjadi salah satu destinasi event yang dapat dikunjungi Kawan GNFI ketika berada di Sidoarjo.
Berkunjung Makam Dewi Sekardadu
Kalau ingin berziarah dan berkunjung di makam Dewi Sekardadu, Kawan GNFI akan menemukan petualangan yang menantang. Hal ini karena akses menuju makam yang sangat sulit ditempuh dengan kendaraan konvensional. Karena makam beliau terletak sedikit terpelosok di area tambak.
Pada umumnya, terdapat dua cara yang bisa Kawan GNFI tempuh jika ingin berkunjung.
Pertama, Kawan GNFI bisa menyewa perahu yang berangkat dari pasar ikan di kawasan Jalan Lingkar Timur Kabupaten Sidoarjo. Kalian akan menyusuri sungai dengan perahu untuk sampai ke lokasi makam Dewi Sekardadu
Kedua, Kawan GNFI bisa menggunakan motor selama 40 sampai 50 menit dari Desa Sawohan. Namun ini bukanlah perjalanan yang mudah, karena Kawan GNFI harus melewati jalan petak pematang tambak yang berlumpur. Jadi pastikan motornya cukup prima untuk menembus medan off road.

Jalan Setapak Menuju Dusun Kepetingan. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Meskipun begitu, Dusun Kepetingan di Kabupaten Sidoarjo bukan menjadi satu-satunya lokasi yang dipercaya sebagai makam Dewi Sekardadu. Setidaknya terdapat tiga tempat lain yang dipercaya sebagai makam Dewi Sekardadu. Di Desa Gisik Cemandi, Kecamatan Sedati, yang juga berada di Sidoarjo. Lebih tepatnya berada di selatan Bandara Internasional Juanda.
Selain itu, terdapat dua makam lain yang juga dipercaya sebagai makam Dewi Sekardadu. Masing-masing berada di Kecamatan Kebomas di Kabupaten Gresik dan Kecamatan Sugio di Kabupaten Lamongan.
Terlepas dari perdebatan yang ada, satu hal yang pasti adalah keberadan makam beliau membawa suatu pelajaran yang berharga. Memori kolektif masyarakat terhadap tokoh penyebar kebaikan begitu mengakar kuat di setiap lokasinya.
Keberadaan Makam Dewi Sekardadu di Dusun Kepetingan menjadi bukti bagaimana masyarakat merawat ingatan tersebut dan menjadi inti dari tradisi Nyadran yang berlangsung bertahun-tahun.
Jadi, apakah Kawan GNFI tertarik berziarah ke makam Dewi Sekardadu? Atau justru lebih tertarik mengikuti festival Nyadran?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


