Banyak makanan tradisional khas Indonesia yang sudah mulai jarang dijumpai saat ini. Kue saren, makanan tradisional khas dari Jambi adalah salah satunya.
Banyak faktor yang membuat makanan tradisional menjadi sulit untuk dijumpai pada saat sekarang. Proses pembuatan yang rumit hingga minat dari masyarakat terhadap kuliner tersebut menjadi segelintir alasan mengapa makanan tradisional mulai terpinggirkan.
Hal yang juga berlaku pada kue saren khas Jambi. Meskipun demikian, eksistensi dari kudapan tradisional tersebut bisa terus dijaga dengan membagikan wawasan dan informasi seputar kuliner tersebut pada generasi berikutnya.
Lantas bagaimana penjelasan lebih lanjut seputar kue saren tersebut? Simak ulasan terkait makanan tradisional khas Jambi ini dalam artikel berikut.
Mengenal Kue Saren, Makanan Tradisional Khas Jambi
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian awal, kue saren merupakan salah satu makanan tradisional yang berasal dari daerah Jambi. Dinukil dari buku Dwi Setiati yang berjudul Makanan Tradisional Masyarakat Jambi, kue saren menjadi salah satu kudapan yang banyak diminati oleh masyarakat dulunya.
Biasanya kue saren dikonsumsi sebagai cemilan keluarga di sela waktu luang. Terlebih kue saren lebih sering dijumpai pada saat momen Ramadan tiba.
Salah satu keunikan dari kue tradisional ini terletak pada warnanya. Berbeda dengan beberapa kue lainnya yang biasa berwarna cerah, kue saren justru memiliki warna hitam.
Uniknya lagi, warna hitam ini didapatkan dari pewarna alami, yakni batang kayu jeruk purut. Penggunaan batang kayu jeruk purut ini juga memberikan aroma khas yang bisa dicium saat menikmati kue saren tersebut.
Tidak hanya tampilan dan aromanya yang khas, kue saren juga memiliki cita rasa yang beragam. Kue saren memiliki percampuran rasa manis, gurih, hingga pedas dalam setiap gigitannya.
Mulai Terlupakan di Tengah Masyarakat
Seiring berjalannya waktu, keberadaan kue saren sudah makin sulit dijumpai di tengah masyarakat. Proses memasak dan ketersediaan bahan menjadi penyebab mengapa kuliner ini mulai jarang dibuat oleh masyarakat.
Bagi sebagian masyarakat, proses membuat kue saren cukup merepotkan. Sebab untuk membuat kue ini diperlukan arang dari batang kayu jeruk purut.
Bahan utama ini juga tidak bisa diganti dengan batang kayu lainnya. Jika diganti, maka aroma khas dari batang kayu jeruk purut tidak akan didapatkan pada saat kue saren selesai dimasak.
Kerumitan inilah yang membuat tidak banyak orang memproduksi kue saren tersebut, sehingga makin sulit untuk dijumpai di tengah masyarakat.
Proses Pembuatan Kue Saren
Untuk membuat kue saren, terdapat beberapa bahan yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Beberapa bahan yang digunakan untuk membuat kue tradisional ini adalah tepung beras, tepung hunkue, gula merah, gula putih, perasan air daun jeruk, pandan, dan merica halus.
Sebelum itu, Kawan juga mesti membakar batang kayu daun jeruk hingga menjadi abu. Setelah itu, abu tersebut akan dicairkan dengan air dan disaring sebelum dicampurkan ke bahan lainnya.
Proses pembuatan kue saren diawali dengan mencampurkan tepung beras, tepung hunkue, gula merah, gula putih, dan air. Setelah teraduk rata, adonan ini kemudian dimasak dengan api kecil dan terus diaduk.
Saat adonan dimasak, tambahkan air perasan daun jeruk, pandan, dan pasta abu batang jeruk. Jika sudah masak, adonan kemudian diletakkan di adonan dan didinginkan.
Terakhir, kue saren tinggal disajikan dengan disiram kuah santan yang sudah dimasak hingga mengeluarkan minyak. Nantinya kue saren khas Jambi ini sudah bisa dinikmati bersama keluarga maupun orang-orang terdekat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


