desa pemuteran desa nelayan yang menjadi ikon wisata restorasi laut dunia - News | Good News From Indonesia 2026

Desa Pemuteran, Desa Nelayan yang jadi Ikon Wisata Restorasi Laut Dunia

Desa Pemuteran, Desa Nelayan yang jadi Ikon Wisata Restorasi Laut Dunia
images info

Desa Pemuteran, Desa Nelayan yang jadi Ikon Wisata Restorasi Laut Dunia


Kawan GNFI, apakah kamu dapat membayangkan berenang di sebuah taman bawah laut yang tumbuh 3-5 kali lebih cepat dari alam dan di tengah patung-patung batu yang kini diselimuti terumbu karang warna-warni?

Bukan fiksi ilmiah, inilah Teluk Pemuteran. Sebuah desa nelayan bernama Desa Pemuteran di pesisir barat laut Bali yang dulunya sunyi, kini telah menjelma menjadi ikon restorasi laut dunia, diakui langsung oleh UN Tourism sebagai Best Tourism Village 2025.

Menembus 75 Negara, Bagaimana Pemuteran Memenangkan Hati Dunia?

Pada tahun 2025, Desa Pemuteran meraih prestasi dengan menyisihkan 300 desa wisata dari 75 negara. Masuk dalam daftar 52 Desa Wisata Terbaik Dunia 2025 versi UN Tourism.

Desa Pemuataran sangat istimewa disebabkan kemampuannya dalam menjaga lingkungan serta keseimbangan antara budaya, alam, dan ekonomi melalui pariwisata berkelanjutan. Sebelumnya, desa ini juga telah meraih ASEAN Tourism Standard untuk kategori Community-Based Tourism (CBT) periode 2023–2025.

Adanya predikat Best Tourism Village 2025, Pemuteran kini menjadi bagian dari Global Network of Best Tourism Villages, membuka peluang lebih luas untuk promosi internasional, pertukaran informasi, dan pengembangan berkelanjutan.

baca juga

Biorock, Teknologi Revolusioner yang Menghidupkan Kembali Laut

Desa Pemuteran pernah mengalami masa kelam yang sangat memprihatinkan. Terdapat peristiwa yang berdampak pada desa ini yang pernah berada di jurang kehancuran lingkungan dan kemiskinan pada dekade 1970 hingga 1990-an.

Penyebab utamanya, karena hancurnya ekosistem laut menjadi masalah ekonomi, hingga nelayan lokal dan asing menggunakan jalan pintas untuk menangkap ikan secara masal menggunakan bom dan racun potas. Praktik merusak ini menghancurkan terumbu karang dan menjauhkan ikan.

Selain ekosistem laut terdapat krisis lahan kering dan kerusakan hutan. Hal ini terjadi sebab warga menambang terumbu karang untuk kapur dan bahan bangunan, merusak laut, dan membutuhkan kayu bakar yang ditebang secara membabi buta, yang menyebabkan kekeringan dan hasil panen yang rendah.

Masa kelam ini berakhir di tahun 1989 berkat inisiatif tokoh masyarakat setempat (seperti I Gusti Agung Prana) yang merintis kesadaran lingkungan.

Awal mula kebangkitan berasal dari inisiatif masyarakat serta para pakar dan aktivis dengan mendirikan yayasan konservasi dan menerapkan teknologi perbaikan terumbu karang. Mereka juga memberlakukan hukum adat (awig-awig) yang melarang keras penggunaan bom ikan dan penambangan karang dengan sanksi tegas.

Memulihkan ekologi disana membutuhkan konsisten, hingga konsisten itu mengarah pada biorock. Biorock sebuah proyek inovatif yang bertujuan untuk menjaga laut. Teknologi ini dikembangkan oleh Dr. Thomas Goreau dan profesor Wolf Hilbertz. Metode ini menghubungkan struktur besi di dasar laut dengan listrik arus rendah.

Arus listrik ini menyebabkan elektroakresi mineral alami dari air laut. Mineral ini mengendap pada besi dan membentuk lapisan yang mirip dengan batu kapur.

Potongan karang menempel di lapisan ini dan berkembang tiga hingga enam kali lebih cepat dari laju alaminya. Untuk pulih di alam liar, karang membutuhkan sepuluh tahun, sementara biorock lebih singkat hanya membutuhkan 6-7 tahun.

Sekarang biorock sudah beroperasi sebanyak 70-100 struktur atau bentuk biorock seperti naga, garuda, barong. Semuanya berfungsi sebagai rumah baru bagi ribuan biota laut. Metode biorock menjadi langkah cerdas dan bisa dipelajari lebih dalam supaya ekowisata di Indonesia bisa diterapkan.

baca juga

Green Tourism: Bukan Sekadar Slogan, tetapi Wajib Hukum

Salah satu rahasia utama kesuksesan pemuteran berasal dari penerapan green tourism yang diterapkan secara konsisten dan terstruktur. Ini bukan sekadar imbauan, melainkan kewajiban.

Setiap penginapan, restoran, dan penyedia jasa wisata di sana wajib mematuhi prinsip-prinsip ramah lingkungan, mulai dari pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai secara ketat, penggunaan energi terbarukan dan lampu hemat energi, serta konservasi air.

Konsep tersebut menghasilkan keseimbangan ekologis tetap terjaga sementara perekonomian masyarakat terus tumbuh. Model inilah yang menjadi fokus dunia melihat perkembangan Desa Pemutaran.

Sebuah laporan dari The West Australian menyebut bahwa pemuteran menawarkan contoh langka tentang pembangunan berkelanjutan di pulau yang kerap mengalami over development.

Kawan GNFI, jika ingin berkunjung ke desa tersebut bisa bepergian secara gaya ramah lingkungan, salah satunya dari bawa botol minum isi ulang sendiri. Sekarang ini, banyak penginapan menyediakan fasilitas isi ulang air minum gratis), dan gunakan tabir surya ramah terumbu karang (berlabel reef-safe).

Saat bepergian perhatikan untuk tidak menyentuh atau menginjak karang saat snorkeling. Di sana, kita bisa mendukung konservasi dengan mengunjungi turtle hatchery dan ikut program pelepasan tukik.

Selanjutnya, disarankan untuk berbelanja produk lokal, setidaknya ada dampak positif memberdayakan ekonomi masyarakat setempat.

Desa Pemuteran dalam Memberdayakan Penyu

Konsep penyu di Desa Pemuteran, Buleleng memiliki tujuan ekowisata dan konservasi berbasis masyarakat. Desa ini juga menyeimbangkan perlindungan lingkungan dengan edukasi wisatawan melalui program The Turtle Project.

Beberapa langkah strategis diambil untuk menerapkan konsep penyu di sana. Salah satunya dari pusat penangkaran dan edukasi.

Dalam program tersebut, ada tempat konservasi semi-alami di mana pengunjung dapat belajar tentang siklus hidup penyu, mulai dari penetasan telur hingga proses pelepasan tukik (anak penyu) kembali ke laut.

Desa ini juga memberdayaan nelayan lokal dengan cara warga setempat diizinkan untuk menyelamatkan telur penyu di pesisir, memindahkannya ke tempat yang aman untuk ditetaskan, dan menjaga kelestarian terumbu karang di sekitarnya. Mereka tidak lagi memburu penyu.

Selanjutnya ada mitigasi ancaman dan penegakan hukum untuk melindungi penyu dari perdagangan ilegal, pihak berwenang juga memperhatikan Pantai Pemuteran.

Untuk menyembuhkan penyu yang sakit atau terluka sebelum dilepaskan kembali, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat bekerja sama dengan masyarakat.

baca juga

Warisan untuk Generasi Mendatang

Konservasi ini akan menjadi warisan penting, saat Kawan GNFI kelak akan berkunjung kesana bisa memenuhi gaya hidup ramah lingkungan. Wisatawan yang datang ke Pemuteran telah membantu menjaga karang dan tukik penyu, dan mendukung masyarakat yang telah memilih untuk menjaga laut dari para perusak.

Ketika sebuah komunitas berkumpul, Desa Pemuteran menunjukkan bahwa alam selalu adil. Indonesia adalah negara dengan banyak berita baik dan lingkungan yang dapat menginspirasi orang lain.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.