Di tengah area persawahan Desa Cikalahang, Kabupaten Cirebon, tersimpan salah satu jejak penting peninggalan Kerajaan Sunda. Di lokasi yang tampak sederhana dan cukup tersembunyi ini berdiri Batu Tulis Huludayeuh, sebuah prasasti batu beraksara Sunda kuno yang berkaitan dengan Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal dengan Prabu Siliwangi.
Keberadaan prasasti ini memang belum sepopuler situs sejarah lain di Jawa Barat. Namun bagi peneliti sejarah Sunda, Batu Tulis Huludayeuh menjadi sumber penting untuk melihat hubungan wilayah Cirebon dengan kekuasaan Sunda pada masa lampau. Apalagi, jumlah prasasti peninggalan Sunda di Jawa Barat tidak terlalu banyak dan sebagian sudah mengalami kerusakan.
Batu Tulis Huludayeuh dan Jejak Kerajaan Sunda di Cirebon

Batu Tulis Huludayeuh Cirebon | cirebonkab go id
Keberadaan Situs Batu Tulis Huludayeuh menjadi penanda bahwa wilayah Cirebon pernah memiliki hubungan erat dengan pusat kekuasaan Sunda pada masa lampau. Situs ini juga disebut sebagai satu dari sedikit prasasti batu tulis peninggalan Kerajaan Sunda di Jawa Barat.
Lokasi Situs di Kaki Perbukitan Cikalahang
Situs Batu Tulis Huludayeuh berada di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon. Letaknya dikelilingi area persawahan dengan latar perbukitan yang membuat suasana di sekitar situs terasa sejuk dan tenang.
Prasasti tersebut kini disimpan di dalam cungkup sederhana untuk melindungi kondisi batu yang sudah termakan usia. Meski tidak berada di kawasan wisata besar, situs ini cukup mudah dijangkau masyarakat.
Nama Huludayeuh sendiri menyimpan makna historis. Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, kata “hulu” diartikan sebagai pusat atau kepala, sedangkan “dayeuh” berarti kota. Karena itu, Huludayeuh diyakini berkaitan dengan pusat pemerintahan atau kawasan penting pada zamannya.
Awal Penemuan Batu Tulis Huludayeuh
Menurut penuturan juru kunci situs bernama Edi, prasasti tersebut pertama kali ditemukan warga sekitar pada tahun 1930-an. Saat itu kawasan Cikalahang masih berupa hutan lebat dan belum menjadi area persawahan seperti sekarang.
Penemuan batu tulis itu bermula ketika sebuah pohon beringin besar tumbang. Warga kemudian menemukan batu beraksara kuno di bawahnya.
“Dulunya masih hutan. Katanya ada pohon beringin tumbang, lalu di bawahnya ditemukan batu ini,” ujar Edi.
Meski sudah ditemukan sejak puluhan tahun lalu, penelitian arkeologis baru dilakukan pada Februari 1991. Setelah melalui kajian, Prasasti Huludayeuh kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya.
Isi Prasasti Huludayeuh dan Kaitannya dengan Sri Baduga Maharaja
Nilai penting Batu Tulis Huludayeuh bukan hanya terletak pada usianya, tetapi juga isi prasasti yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Sunda.
Secara fisik, batu prasasti ini memiliki tinggi sekitar 74 sentimeter dan lebar sekitar 36 sentimeter. Pada permukaannya terdapat tulisan menggunakan aksara Sunda kuno dengan bahasa Sunda kuno.
Kondisi prasasti saat ini sudah tidak utuh. Beberapa bagian batu terlihat aus dan patah sehingga sejumlah huruf sulit dibaca secara lengkap. Meski demikian, prasasti tersebut tetap menjadi sumber penting dalam penelusuran sejarah Sunda di wilayah Cirebon.
Dalam sejumlah penelitian, Batu Tulis Huludayeuh juga disebut sebagai bukti penggunaan aksara dan bahasa Sunda kuno yang pernah berkembang di wilayah Jawa Barat.
Berdasarkan penelitian arkeolog Hasan Djafar dalam jurnal Berkala Arkeologi Volume 14 tahun 1994, isi Prasasti Huludayeuh berkaitan dengan penghormatan terhadap jasa-jasa Sri Baduga Maharaja yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi.
Nama raja tersebut juga disebut dalam prasasti dengan gelar lengkap:
“Ratu Purana Sri Baduga Sri Maharaja Ratu Haji ri Pakwan Sya San Ratu Dewata.”
Prasasti itu diduga dibuat sebagai bentuk peringatan atas berbagai pekerjaan dan kebijakan yang dilakukan untuk kepentingan masyarakat pada masa pemerintahan kerajaan.
Menurut Hasan Djafar, prasasti tersebut kemungkinan bukan diterbitkan langsung oleh Sri Baduga Maharaja, melainkan oleh penerusnya, yaitu Raja Surawisesa yang memerintah sekitar tahun 1521 hingga 1535.
Hal itu membuat Batu Tulis Huludayeuh memiliki posisi krusial dalam sejarah akhir Kerajaan Sunda menjelang runtuhnya pusat pemerintahan Pajajaran.
Potensi Wisata Sejarah Situs Huludayeuh
Di tengah perkembangan zaman, Situs Batu Tulis Huludayeuh masih bertahan sebagai ruang belajar sejarah terbuka bagi masyarakat. Suasana di sekitar situs juga masih cukup tenang karena berada jauh dari kawasan perkotaan.
Pengunjung dapat datang tanpa dipungut biaya. Tidak sedikit pelajar maupun mahasiswa yang datang untuk melihat langsung peninggalan sejarah tersebut. Edi mengaku senang apabila semakin banyak generasi muda mengenal situs itu.
“Kalau ada kunjungan saya senang sekali. Pernah juga ada sekolah datang ke sini,” katanya.
Meski belum terlalu populer dibanding situs sejarah lain di Jawa Barat, Batu Tulis Huludayeuh memiliki potensi besar sebagai wisata edukasi sejarah dan budaya di Cirebon. Pengunjung tidak hanya dapat melihat prasasti kuno secara langsung, tetapi juga mempelajari jejak Kerajaan Sunda, aksara Sunda kuno, hingga kaitannya dengan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Keberadaan situs ini juga menjadi penting karena jumlah prasasti peninggalan Sunda di Jawa Barat tidak terlalu banyak. Karena itu, Batu Tulis Huludayeuh bukan hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang masih terjaga hingga sekarang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


