stasiun tanjung karang penghubung lampung dan sumatra selatan - News | Good News From Indonesia 2026

Stasiun Tanjung Karang, Penghubung Lampung dan Sumatra Selatan

Stasiun Tanjung Karang, Penghubung Lampung dan Sumatra Selatan
images info

Stasiun Tanjung Karang, Penghubung Lampung dan Sumatra Selatan


Stasiun Tanjung Karang (TNK) adalah sebuah stasiun kereta api kelas besar tipe A di Provinsi Lampung. Terletak di Jalan Kotaraja No. 1, Gunung Sari, Enggal, Bandar Lampung, berperan vital dalam menghubungkan Kota Bandar Lampung dengan Kota Palembang, Sumatra Selatan.

Berada pada ketinggian +96 meter di atas permukaan laut, stasiun ini kini menjadi pusat operasional bagi PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional IV Tanjung Karang.

Sejarah Stasiun Tanjung Karang

Sejarah berdirinya Stasiun Tanjung Karang berawal dari kebijakan strategis Pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1911. Saat itu, Gubernur Jenderal melihat bahwa pengangkutan hasil bumi seperti kopi, karet, lada, dan kelapa sawit dari pedalaman Sumatera Selatan ke Pulau Jawa sangat bergantung pada pelayaran laut yang memakan biaya besar dan waktu lama.

Oleh karena itu, untuk mengatasi kendala logistik ini, diputuskanlah untuk membangun jalur rel kereta api yang menghubungkan Palembang dengan Tanjung Karang.

Pembangunan ini dimulai secara serentak dari kedua ujung wilayah tersebut dengan mengerahkan ribuan tenaga kerja. Merangkum dari berbagai sumber, prosesnya tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan para pekerja harus membabat hutan belantara dan meratakan tanah di bawah pengawasan kolonial yang sangat ketat.

baca juga

Lintasan pertama yang berhasil diselesaikan di Lampung adalah jalur sepanjang 12 kilometer yang menghubungkan Stasiun Panjang menuju Stasiun Tanjung Karang. Jalur ini resmi dioperasikan pada 3 Agustus 1914 oleh Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS).

Keberhasilan ini kemudian berkembang. Pemerintah kolonial kemudian membangun jalur kereta api dari Bandar Lampung sepanjang 529 kilometer menuju Kertapati, Palembang.

Menariknya, arsitektur bangunan stasiun ini tetap mempertahankan nuansa Modern dan Art Deco yang sudah ada sejak era kolonial. Namun, agar tetap “melokal”, desainnya juga dipadukan dengan identitas khas Lampung.

Ada ornamen siger pada atap bangunan utama serta panel-panel bermotif kain tapis pada dindingnya. Siger dan tapis merupakan simbol kemuliaan bagi masyarakat Lampung.

Keunikan lain yang menjadi ciri khas dari Stasiun Tanjung Karang adalah diputarkannya lagu daerah Cangget Agung setiap kali ada kereta penumpang yang datang atau berangkat. Hal ini tentu semakin menambah nilai budaya khas Lampung.

Penghubung Lampung dengan Palembang

Saat ini, Stasiun Tanjung Karang melayani berbagai perjalanan penting. Untuk penumpang, tersedia layanan kereta api jarak jauh seperti KA Kuala Stabas yang menuju ke Baturaja dan KA Rajabasa yang menghubungkan Lampung dengan Stasiun Kertapati di Palembang.

Uniknya, Kereta Api Rajabasa merupakan kereta api penumpang dengan rute terpanjang di Sumatra. Total jarak yang menghubungkan Lampung dengan Sumatra Selatan (dan sebaliknya) adalah 388 km.

Selain mobilitas manusia, stasiun ini juga menjadi urat nadi logistik melalui layanan angkutan batu bara rangkaian panjang alias Kereta Api Babaranjang menuju Tarahan. KA Babaranjang merupakan “tulang punggung” logistik KAI yang mengangkut batu bara dengan rangkaian gerbong yang bisa mencapai 60 buah.

Tak hanya itu, stasiun ini sudah terintegrasi dengan moda transportasi lain seperti Trans Bandar Lampung dan bus DAMRI yang melayani rute hingga ke Jakarta, Bandung, hingga Bekasi. Hal ini mempermudah mobilisasi masyarakat yang akan pergi atau datang dari dan menuju Pulau Sumatra ke Pulau Jawa.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.