Masalah timbulan sampah di Indonesia sudah berada pada tahap yang sangat mengkhawatirkan, dengan angka mencapai 38 juta ton sepanjang tahun 2024. Sekitar 20 persen dari tumpukan tersebut adalah sampah plastik, dan ironisnya, hampir separuhnya masih ditangani dengan cara dibakar secara terbuka di ruang publik.
Jenis plastik bernilai rendah seperti kemasan sachet, plastik multilapis, dan kantong kresek tipis biasanya dihindari oleh bank sampah atau fasilitas TPS3R karena tidak laku dijual kembali ke industri daur ulang.
Kebiasaan membakar sampah plastik kotor ini jelas menjadi sumber polusi udara yang berbahaya. Menanggapi hal tersebut, peneliti dari Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN mengembangkan teknologi pirolisis multikondensor bertujuan untuk memutus siklus pembakaran tersebut.
Melalui teknologi ini, sampah plastik yang tadinya dianggap tidak berharga dan dalam kondisi basah sekalipun, bisa diekstrak menjadi bahan bakar minyak berkualitas setara solar yang diberi nama Petasol.
Peneliti Ahli Muda BRIN, Heru Susanto, menjelaskan bahwa proses pirolisis ini bekerja dengan metode pemanasan tanpa oksigen pada suhu 250 hingga 350 derajat Celsius. Metode tersebut memecah rantai polimer plastik yang rumit menjadi senyawa hidrokarbon yang lebih sederhana.
Hasilnya tergolong sangat efisien, di mana setiap satu kilogram sampah plastik mampu menghasilkan rata-rata 0,8 hingga 1 liter bahan bakar minyak siap pakai.
Kualitas Di Atas Biosolar dan Aman untuk Mesin Pertanian
Solusi yang dihadirkan oleh Petasol bukan sekadar klaim ramah lingkungan di atas kertas. Bahan bakar hasil olahan plastik ini telah melalui uji karakterisasi dan terbukti memenuhi seluruh parameter standar bahan bakar minyak jenis solar yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 146 Tahun 2020.
Dari sisi performa, pengguna justru merasakan tarikan mesin yang lebih baik karena nilai kalor Petasol tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan biosolar komersial.
Uji coba di lapangan juga menunjukkan bahwa bahan bakar alternatif ini telah diterapkan pada kendaraan berbasis diesel, perahu nelayan, serta alat mesin pertanian selama lebih dari empat tahun tanpa menimbulkan kerusakan pada ruang bakar.
Keamanan jangka panjang ini menjadi jawaban bagi para nelayan dan petani yang sering kali kesulitan mendapatkan pasokan solar bersubsidi di daerah terpencil.
Teknologi pirolisis skala kawasan ini juga telah mendapatkan nilai tinggi dalam penilaian Indeks Kinerja Teknologi (IKT), dengan skor 83 dari 95. Artinya, alat ini sangat layak untuk direplikasi secara massal guna menyelesaikan masalah penumpukan sampah di tingkat komunitas.
Saat ini, replikasi teknologi tersebut sudah berjalan di lebih dari 60 lokasi di Indonesia, termasuk di Cimahi, Yogyakarta, dan Semarang dengan dukungan dinas lingkungan hidup setempat.
Keuntungan dan Hambatan Regulasi Pasar
Jika dilihat dari aspek ekonomi sirkular, bisnis pengolahan Petasol ini memiliki potensi keuntungan yang sangat sehat bagi pengelola bank sampah tingkat kawasan.
Biaya produksi Petasol berkisar antara Rp5.000 hingga Rp6.160 per liter dengan asumsi harga beli bahan baku plastik standar. Biaya produksi tersebut bahkan bisa ditekan lagi hingga menyentuh angka Rp4.000 per liter jika pengelola mendapatkan pasokan plastik residu langsung dari pemilahan mandiri warga di bank sampah.
Meskipun saat ini belum ada regulasi resmi yang mengatur tata niaga jual beli bahan bakar hasil daur ulang di pasar domestik, harga Petasol di tingkat komunitas disepakati sebesar Rp10.000 per liter.
Dengan kapasitas produksi alat yang mencapai 100 kilogram sampah plastik per hari, pengelola bisa mengantongi laba bersih sekitar Rp8,6 juta per bulan. Hitung-hitungan modal ini menunjukkan bahwa titik impas atau break-even point investasi alat dapat dicapai dalam waktu sekitar 2,5 tahun saja.
Menjadikan sampah sachet sebagai sumber energi terbarukan adalah solusi yang bisa diterapkan untuk membersihkan lingkungan sekaligus menggerakkan ekonomi di tingkat bawah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


