Padang Pariaman, pasbana - Di sebuah sudut nagari di Tandikat, Pariaman, suara “duk… duk… duk…” kembali terdengar setelah nyaris hilang selama 36 tahun. Bukan suara mesin modern, melainkan irama alu kayu yang digerakkan kincir air tradisional—teknologi tua Minangkabau yang hidup dari aliran sungai dan kesabaran alam.
Kincir itu kini kembali berputar berkat kerja restorasi yang dilakukan Yayasan Umar Kayam. Namun yang diselamatkan bukan sekadar bangunan kayu penumbuk beras. Lebih dari itu, yang dipertahankan adalah ingatan kolektif tentang bagaimana masyarakat Minangkabau dahulu membangun hubungan harmonis dengan alam.
Di masa ketika listrik belum menjangkau kampung-kampung, masyarakat memanfaatkan arus air untuk menggerakkan alu penumbuk padi dan tepung. Tanpa bahan bakar, tanpa asap, tanpa polusi. Air menjadi tenaga, sementara hutan menjadi penjaga kehidupan kincir itu sendiri.


