kabar baik hiu gangga yang nyaris punah ditemukan kembali di sungai sesayap kaltara - News | Good News From Indonesia 2026

Kabar Baik! Hiu Gangga yang Nyaris Punah Ditemukan Kembali di Sungai Sesayap Kaltara

Kabar Baik! Hiu Gangga yang Nyaris Punah Ditemukan Kembali di Sungai Sesayap Kaltara
images info

Kabar Baik! Hiu Gangga yang Nyaris Punah Ditemukan Kembali di Sungai Sesayap Kaltara


Tim peneliti gabungan lintas negara berhasil menemukan kembali populasi Hiu Gangga (Glyphis gangeticus) di kawasan perairan Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Spesies hiu air tawar yang telah lama dianggap nyaris punah dari ekosistem global tersebut berhasil terdeteksi melalui rangkaian riset komprehensif.

Dalam pengamatan lapangan yang berlangsung selama kurang dari tiga minggu, tim lapangan mengejutkan dunia konservasi dengan mengidentifikasi sedikitnya 43 spesimen Hiu Gangga yang masih hidup di kawasan tersebut. Penemuan ini dinilai sangat signifikan secara global mengingat sejak tahun 2000, catatan kemunculan hiu ini secara resmi kurang dari sepuluh kali di seluruh wilayah persebaran historis aslinya.

Penemuan Ulang Spesies Hiu Gangga

Secara ekologi, Hiu Gangga merupakan salah satu dari sedikit rumpun elasmobranchii yang berevolusi khusus untuk menghabiskan seluruh siklus hidupnya di ekosistem air tawar. Karakteristik biologi satwa ini sangat unik; mereka memiliki mata yang mengecil dan terarah ke atas, didukung oleh sistem sensorik ampula Lorenzini yang sangat tajam.

Adaptasi tersebut memungkinkan mereka berburu mangsa dengan efektif di dasar sungai yang keruh dan memiliki visibilitas rendah. Keberadaan mereka di air tawar mengindikasikan fungsi ekologis penting sebagai predator puncak yang menjaga keseimbangan populasi ikan sungai, sekaligus menjadi indikator kondisi kesehatan lingkungan perairan purba yang masih terjaga keasliannya.

Apa itu Hiu Gangga dan Ekologi Hiu Air Tawar

​Secara ekologi, Hiu Gangga merupakan salah satu dari sedikit rumpun elasmobranchii yang berevolusi khusus untuk menghabiskan seluruh siklus hidupnya di ekosistem air tawar. Karakteristik biologi satwa ini sangat unik; mereka memiliki mata yang mengecil dan terarah ke atas, didukung oleh sistem sensorik ampula Lorenzini yang sangat tajam.

Adaptasi tersebut memungkinkan mereka berburu mangsa dengan efektif di dasar sungai yang keruh dan memiliki visibilitas rendah. Keberadaan mereka di air tawar mengindikasikan fungsi ekologis penting sebagai predator puncak yang menjaga keseimbangan populasi ikan sungai, sekaligus menjadi indikator kondisi kesehatan lingkungan perairan purba yang masih terjaga kealamiannya.

Status Konservasi Hiu Gangga

Meskipun memiliki nilai ekologis yang tinggi, status konservasi Hiu Gangga saat ini berada di ambang kritis. Berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies ini dikategorikan ke dalam status Critically Endangered atau Sangat Terancam Punah. Populasi globalnya diperkirakan mengalami penurunan drastis akibat tumpang tindihnya habitat dengan aktivitas manusia, mulai dari degradasi kualitas air sungai hingga maraknya kasus ketidaksengajaan tertangkap jaring nelayan (bycatch).

Guna mencegah kepunahan total, otoritas bersama komunitas lingkungan internasional kini resmi menetapkan kawasan Sungai Sesayap sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) yang berfungsi sebagai zona perlindungan ketat serta daerah asuhan (nursery ground) utama bagi anakan hiu yang baru lahir.

Perbedaan Hiu Sungai dan Hiu Laut

Fisiologi Hiu Gangga ini sekaligus mempertegas perbedaan mendasar antara karakteristik hiu sungai dan hiu laut pada umumnya. Hiu laut membutuhkan kadar garam tinggi di lingkungan eksternal mereka, sedangkan hiu sungai sejati dibekali sistem osmoregulasi khusus pada organ ginjal dan kelenjar rektal yang mampu menahan garam di dalam tubuh tanpa mengalami dehidrasi di air tawar. 

Dari aspek morfologi, tubuh hiu sungai cenderung lebih pipih dan memiliki sirip dada yang jauh lebih lebar serta fleksibel guna mengantisipasi arus sungai yang dinamis dan ruang gerak yang lebih sempit dibandingkan luasnya samudra.

Penelitian Ilmiah dan Habitat Endemik

Riset kolaboratif yang diinisiasi oleh Universitas Hasanuddin (Unhas), James Cook University Australia, dan Universitas Borneo Tarakan ini diharapkan menjadi pembuka jalan bagi penelitian ilmiah lanjutan. Perwakilan Rektor Unhas, Prof. Rohani Ambo Rappe, menegaskan bahwa temuan di habitat endemik Kalimantan Utara ini harus menjadi momentum penguatan kebijakan. 

Pihaknya kini tengah mendorong pembentukan konsorsium riset hiu dan pari guna menyusun cetak biru model konservasi saintifik yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal demi menjaga kelestarian habitat dari kerusakan di masa depan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Meita Astaningrum lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Meita Astaningrum.

MA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.