jejak sejarah kabupaten klaten yang bersinar - News | Good News From Indonesia 2026

Keindahan Alam dan Sejarah Kabupaten Klaten yang BERSINAR

Keindahan Alam dan Sejarah Kabupaten Klaten yang BERSINAR
images info

Keindahan Alam dan Sejarah Kabupaten Klaten yang BERSINAR


Kabupaten Klaten seringkali hanya dianggap sebagai jalur lintasan bagi para pelancong yang bepergian antara Yogyakarta dan Surakarta (Solo). Namun, di balik posisinya yang strategis di jalur utama selatan Jawa, wilayah ini menyimpan narasi sejarah panjang yang kaya akan nilai budaya.

Klaten bukan sekadar titik singgah, melainkan sebuah kawasan yang memadukan jejak peradaban Mataram Kuno, legenda tutur masyarakat yang sakral, hingga pesona alam yang membuatnya dijuluki sebagai negeri seribu mata air.

Asal-Usul Nama Klaten

Penamaan sebuah wilayah di Jawa sering kali memiliki makna filosofis atau berkaitan dengan peristiwa sejarah tertentu. Untuk nama "Klaten" sendiri, terdapat dua versi utama yang dipercaya oleh masyarakat setempat dan tercatat dalam berbagai literatur sejarah daerah.

Dikutip dari laman Indonesia.org artikel berjudul "Asal muasal nama Klaten dan Sejarah berdirinya Klaten", versi pertama meninjau asal nama Klaten dari sudut pandang bahasa dan kondisi sosial masa lampau. Dahulu, wilayah ini dikenal memiliki tanah yang sangat subur. Kesuburan tanah tersebut menghasilkan panen melimpah sehingga membawa kemakmuran bagi penduduknya.

Kondisi gemah ripah loh jinawi ini membuat wilayah tersebut menjadi perbincangan hangat atau "buah bibir" di kalangan masyarakat luar daerah. Dalam bahasa Jawa kuno atau arkais, buah bibir disebut dengan istilah Kelati. Seiring berjalannya waktu, pengucapan kata Kelati mengalami proses disimilasi fonetik (perubahan bunyi) dalam percakapan sehari-hari masyarakat, hingga akhirnya meluruh menjadi kata Klaten.

baca juga

Versi kedua memiliki kaitan erat dengan cerita rakyat yang lebih spesifik dan bukti petilasan yang masih ada hingga kini. Kisah ini bermula ratusan tahun silam, tepatnya pada masa akhir kejayaan kerajaan Hindu-Buddha menuju era kerajaan Islam (sekitar 560 tahun yang lalu). Dikisahkan terdapat seorang abdi dalem keraton bernama Kyai Melati (Kyai Mlati) dan istrinya, Nyai Melati.

Keduanya diutus oleh raja untuk mencari bunga melati dan buah joho yang akan digunakan dalam tradisi menghitamkan gigi para putri keraton. Pencarian tersebut membawa Kyai Mlati ke sebuah kawasan hutan belantara yang subur. Setelah membabat alas (hutan), Kyai Mlati memutuskan untuk menetap dan menanami lahan tersebut dengan bunga melati. Tempat tinggal Kyai Mlati ini kemudian dinamakan Sekolekan diambil dari nama lengkapnya, Kyai Melati Sekolekan. Kini, wilayah tersebut dikenal sebagai Kampung Sekalekan yang terletak di Kecamatan Klaten Tengah.

Sosok Kyai Mlati dikenal sebagai pribadi yang berbudi luhur dan memiliki kesaktian mandraguna, sehingga wilayah yang ditempatinya aman dari gangguan perampok. Lama-kelamaan, semakin banyak orang yang datang dan menetap di sekitar kediaman Kyai Mlati. Nama "Mlati" kemudian melekat pada daerah tersebut, yang lambat laun pelafalannya berubah menjadi Klati, dan akhirnya menjadiKlaten seperti yang dikenal saat ini. Hingga kini, makam Kyai Mlati di Sekalekan masih dijaga dan diziarahi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur pendiri wilayah.

Tonggak Sejarah Pemerintahan: Berdirinya Benteng Loji

Meskipun pemukiman sudah terbentuk sejak era Kyai Mlati, penetapan hari jadi Kabupaten Klaten secara administratif merujuk pada peristiwa sejarah yang lebih terukur dan tercatat dalam arsip kolonial maupun babad tanah Jawa. Sebgaimana dikutip dari laman Detik.com, Pemerintah Kabupaten Klaten menetapkan tanggal 28 Juli 1804 sebagai Hari Jadi Kabupaten Klaten. Penetapan yang tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2007 ini didasarkan pada peristiwa peletakan batu pertama pembangunan Benteng (Loji) Klaten. Pembangunan benteng ini dilakukan pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana IV dari Kasunanan Surakarta.

Pemilihan lokasi benteng di Klaten bukan tanpa alasan. Secara geopolitis, Klaten berada tepat di tengah-tengah antara dua pusat kekuasaan besar Jawa, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pembangunan benteng ini menandai awal mula terbentuknya pusat pemerintahan dan administrasi yang terstruktur.

Kabupaten Klaten memiliki julukan unik yang menggambarkan kekayaan warisan budaya dan alamnya. Dua julukan yang paling melekat adalah "Kota Seribu Candi" dan "Kota Seribu Mata Air". Sebutan "Kota Seribu Candi" merujuk pada banyaknya situs purbakala bercorak Hindu dan Buddha yang tersebar di wilayah Klaten, khususnya di kawasan perbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi, wilayah ini merupakan pusat Peradaban Mataram Kuno.

Kompleks Candi Prambanan, yang merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia, secara administratif sebagian wilayahnya masuk ke Kabupaten Klaten. Selain itu, terdapat Candi Sewu (candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur), Candi Plaosan yang terkenal dengan kisah romantisme toleransi agama antara Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, serta Candi Sojiwan, Candi Merak, dan puluhan situs lainnya yang masih tersembunyi di pelosok desa. Keberadaan situs-situs ini menegaskan bahwa tanah Klaten telah menjadi kawasan sakral sejak ribuan tahun lalu.

Selain kekayaan sejarah, Klaten dianugerahi kondisi geografis yang istimewa. Terletak di kaki Gunung Merapi dan berada di kawasan patahan geologi, wilayah ini memiliki cadangan air tanah yang melimpah. Air tersebut keluar secara alami ke permukaan membentuk sendang atau umbul (mata air). Inilah alasan Klaten dijuluki "Kota Seribu Mata Air."

Umbul-umbul ini memiliki air yang sangat jernih, segar, dan terus mengalir sepanjang tahun. Beberapa yang telah dikelola menjadi destinasi wisata unggulan antara lain Umbul Ponggok yang populer dengan wisata snorkeling air tawarnya, Umbul Manten yang asri dengan pohon-pohon besar, Umbul Cokro, hingga Umbul Sigedang. Keberadaan sumber air ini tidak hanya menopang sektor pariwisata, tetapi juga menjadikan Klaten sebagai salah satu lumbung padi nasional karena sistem irigasinya yang sangat baik.

baca juga

Filosofi Klaten Bersinar

Dalam era modern, Kabupaten Klaten membranding dirinya dengan semboyan KLATEN BERSINAR. Semboyan ini mulai dipopulerkan secara masif sekitar tahun 2016-2017 dan menjadi identitas visual kota hingga sekarang. "Bersinar" bukanlah sekadar kata sifat, melainkan sebuah akronim yang memuat visi pembangunan daerah. Makna dari akronim BERSINAR adalah:

  1. Bersih: Menciptakan lingkungan yang bebas dari sampah dan polusi.
  2. Sehat: Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
  3. Indah: Tata kota dan pedesaan yang estetis dan sedap dipandang.
  4. Nyaman: Suasana daerah yang kondusif untuk ditinggali (liveable).
  5. Aman: Jaminan keamanan dan ketertiban sosial.
  6. Rapi: Penataan infrastruktur dan birokrasi yang teratur.

Selain sebagai pedoman tata kelola pemerintahan dan perilaku masyarakat, slogan ini juga diterjemahkan dalam city branding pariwisata sebagai "The Shine of Java". Harapannya, Klaten dapat menjadi "cahaya" yang memancarkan pesona keindahan dan kemajuan di Pulau Jawa.

Dari kisah Kyai Mlati yang sederhana di tengah hutan belantara, hingga menjadi kabupaten modern dengan ribuan candi dan mata air, Klaten terus bertransformasi. Perpaduan harmonis antara sejarah, budaya, dan potensi alam menjadikan Kabupaten Klaten sebagai permata tersembunyi di Jawa Tengah yang layak untuk dieksplorasi lebih dalam.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.