“Lebih memilih menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja?” Jika Kawan GNFI seorang perempuan, mungkin pernah juga mendengar pertanyaan tersebut.
Sayangnya, pertanyaan semacam itu kadang menjadikan perempuan pada posisi yang dipertentangkan, bahkan dapat menjadi perdebatan yang tidak ada habisnya.
Ibu yang bekerja sering kali dinilai menyalahi kodratnya sebagai perempuan karena terlalu sibuk dengan karir. Sedangkan, ibu rumah tangga sering kali dinilai mengorbankan bakat karena kurang produktif. Bagaimana Kawan GNFI? serba salah, kan?
Seperti yang kita ketahui, cara pandang seperti ini telah ada di masyarakat sejak lama. Bahkan, tanpa disadari media juga ikut berperan dalam merepresentasikan hal tersebut. Namun, seiring berkembangnya waktu, media justru perlahan mendorong pemahaman yang lebih inklusif terhadap berbagai peran perempuan.
Media dan Standar “Perempuan Ideal”
Selama ini, media kerap menciptakan opini dan gambaran tentang bagaimana seharusnya menjadi “perempuan ideal”. Namun, media cenderung mengartikannya dengan pandangan yang cukup sempit.
Banyak opini tersebar bahwa ibu rumah tangga merupakan sosok perempuan yang memberikan perhatian penuh untuk mengurus rumah dan keluarga. Sedangkan, ibu yang bekerja merupakan sosok perempuan yang ambisius untuk mengejar kariernya.
Namun, opini-opini yang hadir di media tersebut sering kali menjadikan perempuan harus menjadikan pilihannya sebagai pilihan yang paling benar demi memenuhi ekspektasi masyarakat.
Padahal, jika kita pikir kembali, setiap perempuan pasti memiliki latar belakang, kebutuhan, dan keputusan hidup yang berbeda-beda. Kini, pertanyaannya adalah apakah media juga sudah lebih inklusif dalam hal ini?
Media sebagai Ruang yang Lebih Inklusif bagi Perempuan
Jika kita perhatikan, kini trend menunjukkan adanya perubahan cara mempresentasikan perempuan seiring dengan berkembangnya media digital. Media kini berubah lebih inklusif dari sebelumnya. Hal ini disebabkan karena munculnya media sosial yang dapat menjadi ruang bagi setiap orang, termasuk perempuan, untuk mengekspresikan dirinya melalui pendapat dan cerita dari pengalaman hidupnya.
Melalui konten sehari-hari yang dibagikan lewat berbagai platform seperti Instagram, TikTok, maupun X, masyarakat dapat melihat sudut pandang berbeda yang dapat mendukung terciptanya inklusivitas bagi perempuan.
Saat ini, media sosial telah berubah menjadi ruang bagi seseorang untuk berpendapat secara lebih terbuka melalui konten yang mereka bagikan. Konten tentang aktivitas ibu rumah tangga seperti mengurus rumah, mendampingi tumbuh kembang anak mulai mendapatkan apresiasi oleh masyarakat.
Begitu juga dengan ibu bekerja yang mulai digambarkan bukan lagi sebagai sosok yang hanya mementingkan karier. Namun, juga sosok yang berperan seimbang baik di ruang profesional maupun keluarga.
Perubahan gambaran tersebut akhirnya yang membentuk cara pandang masyarakat. Mereka tidak lagi berpikir bagaimana caranya menjadi “perempuan ideal” hanya karena konten yang dilihat di media sosial.
Adanya cerita dan pengalaman yang tersaji di media menjadikan masyarakat semakin sadar bahwa ternyata menjadi ibu rumah tangga bukan berarti kurang produktif. Begitu juga dengan ibu bekerja bukan berarti menjadikan seseorang kurang peduli terhadap keluarga.
Inklusivitas Dimulai dari Cara Kita Melihat Perempuan
Cara kita melihat perempuan di media, memiliki peran penting dalam membangun inklusivitas. Saat media menghadirkan representasi yang lebih adil dan beragam, maka masyarakat dapat turut belajar untuk memahami bahwa tidak semua perempuan harus menjalani hidup yang sama.
Inklusivitas bukan soal menentukan pilihan mana yang lebih baik, tetapi tentang menghargai berbagai pilihan perempuan tanpa stigma dan perbandingan yang tidak perlu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


