Jejak kehidupan manusia di era modern turut menimbulkan banyak perubahan pada kondisi lingkungan. Pemanfaatan air meningkat seiring pola hidup atau tingkat konsumsi manusia (Suryadi et al., 2014).
Keberadaan sumber air yang masih terpelihara menjadi hal yang menarik untuk dibahas di tengah keterbatasan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Tradisi dalam mempercayai danyang (sosok penunggu) pada pohon yang dikeramatkan terbukti ampuh menjaga keselarasan hidup manusia dengan sumber air (Suryadi et al., 2014).
Orang Jawa memang identik dengan mitos. Segala perilakunya tidak terlepas dari aspek kepercayaan terhadap hal-hal tertentu. Sehingga, mereka akan berpikir mistis dalam perilaku keseharian (Masruri, 2013). Sistem berpikir semacam ini telah turun temurun dan sudah menjadi folklor Jawa.
Animisme dan dinamisme menjadi kepercayaan mula-mula yang dianut orang Jawa. Kepercayaan ini meyakini bahwa dunia juga didiami oleh roh-roh halus, termasuk roh nenek moyang dan kekuatan-kekuatan gaib.
Melalui tradisi Kejawen, masyarakat Jawa percaya bahwa roh leluhur dan makhluk halus ada di sekitar dapat memengaruhi keseimbangan hidup manusia.
Hubungan dengan roh dan daya gaib dilakukan dengan berbagai ritual, misalnya sesaji, pembacaan mantra-mantra, dan melibatkan juru kunci. Dalam upacara-upacara ritual tersebut, dimensi mistik dan orang Jawa terjalin sikap hormat terhadap danyang.
Konsep danyang sebagai “penunggu” pohon yang dikeramatkan menciptakan ruang sakral. Menjadi bentuk komunikasi yang strategis untuk larangan menebang pohon dan mencemari sumber air. Memang, komunikasi dengan cara ini lebih efektif daripada sekedar memasang aturan pada plang.
Dengan lestarinya pohon, akar yang menyerap air hujan ke tanah akan tetap membuat sumber air terus berlimpah. Pohon pun menjadi penyerap, penyimpan, dan pengatur siklus air.
Upacara ritual pelestarian air dilakukan rutin setahun sekali. Pada kebudayaan Jawa, bentuk untuk memperingati datangnya tanggal 1 Suro yaitu dengan mengadakan slametan berupa bersih desa.
Dari sekian rangkaian bersih desa, pembersihan pohon dan sumber air yang dikeramatkan di desa menjadi salah satu agenda utama.
Slametan bersih desa dilengkapi dengan simbol-simbol sesaji, serta menggunakan mantra tertentu. Bersih desa yang menjadi salah satu bentuk slamatan yang mengandung keterkaitan antara mistik kejawen, kebatinan, dan kepercayaan. Ketiganya menggunakan laku spiritual orang Jawa asli.
Orang Jawa mempunyai kepercayaan terhadap danyang yang mereka anggap sebagai cikal bakal atau nenek moyang. Mereka percaya bahwa danyang akan selalu menjaga dan memerhatikan apa yang ada di desa. Slametan bersih desa pada akhirnya menjadi ajang untuk pengucapan terima kasih dan hormat terhadap danyang.
Menilik Makna Danyang dari Sisi Antroplogi
Dilansir dari buku “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa” karya Clifford Geetz, danyang merujuk pada nama lain demit (roh). Danyang tinggal menetap pada suatu tempat yang disebut punden. Seperti demit, danyang menerima permohonan orang yang meminta tolong dan sebagai imbalannya menerima persembahan slametan.
Keberadaan danyang tak memiliki niatan untuk menyakiti siapapun. Sebagai pelindung, danyang dianggap roh tokoh-tokoh sejarah yang telah meninggal (Geertz, 1989).
Tokoh tersebut biasanya merupakan pendiri desa atau orang pertama yang melakukan babat tanah.
Setiap desa biasanya memiliki danyang utama. Tokoh masyarakat yang konon di masa hidupnya membersihkan dan membagikan tanah pada pengikutnya, keluarganya, dan teman-temannya, dialah yang menjadi kepala desa (lurah) pertama kali di daerahnya tersebut.
Setelah meninggal dunia, biasanya ia dimakamkan di dekat pusat desa. Makamnya menjadi punden. Roh leluhur dianggap tidak sepenuhnya pergi dan terputus dari keluarga. Mereka dipercaya dapat mengawasi, memberikan perlindungan, atau bahkan mengirimkan pesan/petunjuk (wangsit) kepada keturunan yang masih hidup.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


