nilai tukar rupiah ke dolar hari ini 21 mei 2026 ini konversinya - News | Good News From Indonesia 2026

Nilai Tukar Rupiah ke Dolar Hari Ini (21 Mei 2026), Ini Konversinya

Nilai Tukar Rupiah ke Dolar Hari Ini (21 Mei 2026), Ini Konversinya
images info

Nilai Tukar Rupiah ke Dolar Hari Ini (21 Mei 2026), Ini Konversinya


Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi sorotan akibat pelemahan yang terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Pada Kamis (21/5/2026) pukul 09.00 WIB, rupiah berada di level Rp17.680 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi Rabu (20/5/2026) yang berada di level Rp17.600 per dolar AS.

Rupiah bahkan sempat menyentuh titik terlemahnya di level Rp17.701 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026).

Pelemahan juga terjadi pada sejumlah mata uang lainnya. Namun, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terbesar.

baca juga

Beberapa faktor global yang menyebabkan rupiah melemah antara lain tingginya suku bunga AS serta kondisi geopolitik yang tidak stabil. Sementara dari dalam negeri disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ekspor, meningkatnya beban subsidi, tingginya belanja pemerintah yang tidak diimbangi pendapatan negara, serta menurunnya kepercayaan pasar turut menekan rupiah.

Kondisi tersebut membuat investor lebih memilih memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap aman atau safe haven.

Lantas, berapa kurs dolar AS hari ini? Berikut informasinya!

Kurs 1 USD Hari Ini Berapa Rupiah?

Berdasarkan data Bank Indonesia, kurs dolar AS terhadap rupiah pada Kamis (21/5/2026) pukul 09.00 WIB berada di level Rp17.773,42 per dolar AS untuk kurs jual dan Rp17.596,58 per dolar AS untuk kurs beli.

Kurs Rupiah Hari Ini
info gambar

Diagram Kurs Rupiah Hari Ini, 21 Mei 2026 (Foto: Bank Indonesia)


Sementara itu, berdasarkan data Stockbit, nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.680 per dolar AS atau turun 80 poin (0,45 persen) dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (20/5) di level Rp17.600 per dolar AS.

BI-Rate Naik 50 bps Jadi 5,25%

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 19–20 Mei 2026, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga naik menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6,00 persen.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tingginya ketidakpastian global. Fokus utama kebijakan moneter saat ini diarahkan pada penguatan stabilitas atau pro-stability, terutama untuk menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia dari dampak gejolak internasional. Di sisi lain, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi atau pro-growth.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga dilakukan guna memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah yang tertekan akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Langkah ini juga bersifat antisipatif agar inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam target pemerintah, yaitu 2,5±1 persen.

Untuk menjaga kestabilan Rupiah, Bank Indonesia terus memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar NDF offshore maupun transaksi spot dan DNDF di pasar domestik. Selain itu, suku bunga instrumen moneter seperti SRBI juga ditingkatkan guna menarik aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.

Bank sentral turut memperkuat kebijakan pasar valas melalui penyesuaian batas pembelian valas tanpa underlying, peningkatan batas transaksi DNDF dan forward, serta peningkatan batas transaksi swap.

Tidak hanya itu, instrumen operasi moneter valas juga diperluas dengan penggunaan transaksi spot dan swap berbasis offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap Rupiah, serta penguatan transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).

baca juga

Bank Indonesia optimis nilai tukar Rupiah ke depan akan lebih stabil dan berpeluang menguat. Keyakinan tersebut didukung oleh konsistensi kebijakan Bank Indonesia, tingkat imbal hasil investasi yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai masih solid.

Seluruh stakeholder terkait perlu bersinergi secara bersama-sama untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Andy Apriyono lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Andy Apriyono.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.