Inovasi mahasiswa Indonesia kembali menunjukkan kiprahnya dalam pengembangan teknologi peternakan berbasis pendekatan molekuler. Tim mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada berhasil meraih prestasi nasional melalui pengembangan inovasi nanoenkapsulasi kurkumin dan asam laurat sebagai strategi mitigasi aflatoksin B1 (AFB1) pada ayam broiler.
Tim yang terdiri atas Muhammad Haidillah Farhan, Fauzan Akbar Nugroho, dan Dhiaz Larasati Putri Stillana tersebut berhasil meraih Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Juara 2 Poster dalam ajang Semarac UNS 2026 yang diselenggarakan pada 18 Mei 2026 di Aula Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Solo.
Kompetisi tersebut diikuti berbagai mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia dengan fokus pada inovasi di bidang peternakan, pangan, dan teknologi berkelanjutan. Prestasi ini menjadi bukti bahwa riset mahasiswa tidak hanya berhenti pada konsep akademik, tetapi juga mampu menawarkan solusi aplikatif terhadap permasalahan nyata di sektor peternakan nasional.
Gagasan yang diusung tim mahasiswa UGM berangkat dari tingginya ancaman aflatoksin B1 pada pakan unggas. Aflatoksin B1 merupakan mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus sp. dan sering mencemari bahan baku pakan seperti jagung, dedak, maupun bungkil. Kontaminasi AFB1 menjadi salah satu persoalan serius dalam industri perunggasan karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi besar akibat penurunan performa ternak. Pada ayam broiler, paparan AFB1 diketahui mampu menurunkan konsumsi pakan, menghambat pertumbuhan, menekan sistem imun, serta meningkatkan risiko kerusakan hati dan mortalitas.
Secara molekuler, AFB1 dimetabolisme oleh enzim sitokrom P450, terutama CYP1A2 dan CYP3A4, menjadi aflatoksin-8,9-epoksida yang bersifat sangat reaktif dan toksik. Senyawa tersebut dapat berikatan dengan DNA dan protein sel sehingga memicu stres oksidatif, inflamasi, serta kerusakan hepatosit. Dampak jangka panjangnya tidak hanya menurunkan produktivitas ayam broiler, tetapi juga meningkatkan risiko residu toksin pada produk pangan asal hewan. Kondisi ini menjadikan pengendalian aflatoksin sebagai isu penting dalam aspek kesehatan ternak sekaligus keamanan pangan.
Berangkat dari permasalahan tersebut, tim mahasiswa UGM mengembangkan pendekatan inovatif melalui kombinasi kurkumin dan asam laurat yang diformulasikan menggunakan teknologi nanoenkapsulasi. Kurkumin dipilih karena dikenal memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan hepatoprotektif yang mampu membantu mengurangi stres oksidatif akibat paparan AFB1.
Di sisi lain, asam laurat merupakan medium chain fatty acid (MCFA) dengan sifat antimikroba dan imunomodulator yang berpotensi menjaga kesehatan saluran pencernaan unggas. Kombinasi kedua senyawa ini diharapkan mampu memberikan perlindungan ganda terhadap gangguan hati dan kesehatan usus pada broiler.
Namun, penggunaan senyawa herbal dalam bidang nutrisi ternak masih menghadapi tantangan berupa stabilitas dan bioavailabilitas yang rendah. Kurkumin, misalnya, mudah mengalami degradasi dan memiliki tingkat absorpsi yang rendah di dalam tubuh. Untuk mengatasi kendala tersebut, tim mahasiswa UGM menerapkan teknologi nanoenkapsulasi.
Melalui metode ini, senyawa aktif dikemas dalam partikel berukuran nano sehingga lebih stabil selama proses penyimpanan maupun pencernaan. Nanoenkapsulasi juga memungkinkan pelepasan senyawa aktif berlangsung lebih terarah dan efisien pada organ target.
Pendekatan nanoenkapsulasi dinilai memiliki potensi besar dalam meningkatkan efektivitas biologis senyawa alami. Partikel nano mampu meningkatkan luas permukaan dan penetrasi senyawa aktif sehingga penyerapan di saluran pencernaan menjadi lebih optimal.
Selain itu, teknologi ini membantu melindungi kurkumin dan asam laurat dari degradasi enzimatik sehingga aktivitas biologisnya tetap terjaga. Dengan mekanisme tersebut, inovasi yang dikembangkan tim mahasiswa UGM berpotensi menjadi feed additive alami yang lebih efektif dibandingkan formulasi konvensional.
Inovasi ini juga relevan dengan arah perkembangan industri peternakan modern yang saat ini bergerak menuju sistem produksi lebih sehat dan berkelanjutan. Setelah pembatasan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP), industri pakan dituntut mencari alternatif feed additive yang aman, efektif, dan tidak meninggalkan residu berbahaya pada produk hewani. Nanoenkapsulasi kurkumin dan asam laurat menawarkan solusi berbasis bahan alami lokal yang tidak hanya mendukung performa ternak, tetapi juga membantu menjaga keamanan pangan dan kesehatan konsumen.
Prestasi yang diraih tim mahasiswa Fakultas Peternakan UGM menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kemampuan besar dalam menghasilkan inovasi ilmiah yang adaptif terhadap tantangan global.
Perpaduan teknologi nano, pendekatan molekuler, dan pemanfaatan senyawa bioaktif alami menjadi contoh bagaimana riset mahasiswa dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan industri peternakan nasional. Ke depan, inovasi semacam ini diharapkan mampu mendorong lahirnya sistem produksi unggas yang lebih efisien, berkelanjutan, dan minim risiko terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


