Buka aplikasi streaming mana pun di ponselmu malam ini, dan kemungkinan besar yang pertama muncul bukan sinetron tanah air, bukan pula serial Korea yang dulu sempat merajai layar. Yang muncul adalah wajah-wajah tampan dengan kostum hanfu megah, istana kekaisaran berornamen emas, dan kisah cinta lintas zaman yang dibungkus efek visual memukau. Drama China atau yang kini akrab disebut C-drama atau dracin sudah bukan tamu lagi di Indonesia. Mereka sudah jadi tuan rumah.
Sejak 2021 hingga 2024, judul-judul seperti The Story of Hua Zhi, Love Between Fairy and Devil, hingga Nirvana in Fire konsisten masuk tangga terpopuler di platform seperti iQIYI, WeTV, dan bahkan Netflix Indonesia. Komunitas penggemar C-drama di media sosial Indonesia kini menghitung anggota dalam hitungan ratusan ribu. Ini bukan gelombang kecil. Ini tsunami budaya.
Lalu apa masalahnya? Bukankah hiburan ya hiburan?
Ketika Layar Menjadi Panggung Politik
Tidak ada negara besar yang mengekspor budayanya secara gratis. Amerika Serikat membangun hegemoni globalnya sebagian besar lewat Hollywood. Korea Selatan secara sadar merancang Hallyu sebagai instrumen diplomasi publik yang didanai negara. Dan China? Beijing sudah lama memahami bahwa film dan drama adalah senjata soft power yang jauh lebih efektif daripada pidato di forum PBB.
Drama China yang membanjiri Indonesia bukan semata produk industri hiburan swasta. Banyak di antaranya diproduksi atau didistribusikan oleh perusahaan yang memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan kepentingan negara.
Narasi yang dibangun pun cenderung seragam: kejayaan peradaban China yang agung, nilai-nilai Konfusian tentang kesetiaan dan hierarki, serta gambaran China sebagai pusat dunia yang tak tertandingi. Penonton yang menonton puluhan episode tanpa sadar sedang “dididik” dengan cara yang jauh lebih menyenangkan dari propaganda konvensional.
Ini bukan konspirasi. Ini strategi.
Industri Lokal yang Terjepit
Sementara C-drama merajai algoritma platform, industri perfilman dan serial Indonesia menghadapi tekanan yang kian berat. Bukan soal kualitas semata tetapi soal ekosistem yang timpang. Platform streaming global lebih senang membeli konten lisensi China yang murah dan sudah terbukti diminati ketimbang berinvestasi dalam pengembangan konten lokal yang membutuhkan waktu dan risiko lebih besar.
Akibatnya, sutradara muda berbakat kesulitan mendapat pintu masuk. Penulis skenario lokal bersaing bukan dengan kreator sebaya, melainkan dengan mesin produksi industri hiburan China yang mampu merilis puluhan judul berkualitas tinggi per tahun. Ini bukan kompetisi yang adil. Ini seperti mengadu pedagang kaki lima dengan supermarket multinasional.
Penonton Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Takdir
Ada ironi besar di sini. Penonton Indonesia yang sebagian besar Muslim, yang hidup dalam konteks budaya Nusantara yang kaya begitu mudah tersihir oleh narasi kekaisaran Cina kuno yang secara kultural sangat jauh dari keseharian mereka. Ini menunjukkan dua hal sekaligus: kelaparan akan konten hiburan berkualitas tinggi, dan kegagalan industri lokal dalam memenuhi kelaparan itu.
Drama kolosal Nusantara sebenarnya punya potensi luar biasa. Kisah Gajah Mada, intrik Majapahit, romansa di balik tabir Mataram Islam semua itu jauh lebih dekat dengan jiwa penonton Indonesia dan jauh lebih kaya dari sisi sejarah. Namun di mana serial berkualitas yang menceritakannya? Di mana platform yang mau berinvestasi serius untuk mewujudkannya?
Bukan Larangan, tapi Kesadaran
Tulisan ini bukan seruan untuk memblokir drama China. Itu bukan solusi itu kepanikan. Yang dibutuhkan adalah dua hal paralel: pertama, literasi budaya yang lebih kuat di kalangan penonton agar mereka bisa menikmati hiburan asing tanpa kehilangan sudut pandang kritis. Kedua, kebijakan afirmasi yang nyata dari pemerintah dan platform untuk membesarkan ekosistem konten lokal bukan dengan jargon, tapi dengan anggaran dan regulasi yang berpihak.
Karena pada akhirnya, layar yang kita tatap setiap malam bukan sekadar hiburan. Ia adalah cermin dari peradaban mana yang sedang kita biarkan membentuk imajinasi kita.
Pertanyaannya sederhana: kita mau membiarkan cermin itu sepenuhnya dipegang oleh orang lain?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


