museum marsinah resmi dibuka - News | Good News From Indonesia 2026

Museum Marsinah Resmi Dibuka, Persembahan untuk Seluruh Kaum Buruh Indonesia

Museum Marsinah Resmi Dibuka, Persembahan untuk Seluruh Kaum Buruh Indonesia
images info

Museum Marsinah Resmi Dibuka, Persembahan untuk Seluruh Kaum Buruh Indonesia


Di sebuah desa kecil di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sejarah perjuangan buruh Indonesia kini punya rumah permanennya. Pada Sabtu, 16 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, museum yang didedikasikan sepenuhnya untuk mengenang sosok aktivis buruh yang menjadi simbol keberanian kaum pekerja Indonesia.

Presiden Prabowo dalam sambutannya mengakui bahwa museum ini, bukan museum biasa. "Ini adalah sekiranya mungkin peristiwa yang langka, mungkin di seluruh dunia baru sekarang ada museum buruh," ujar Prabowo dalam sambutannya, Sabtu (16/5).

Dibangun Empat Bulan Tanpa APBN

Museum Ibu Marsinah dibangun di atas lahan seluas 938 meter persegi dan terdiri atas dua bangunan utama: gedung museum memorial dan rumah singgah. Yang membuat pencapaian ini luar biasa adalah prosesnya, seluruh pembangunan rampung dalam waktu hanya empat bulan, tanpa sepeser pun dana dari anggaran negara.

Pembangunan museum sepenuhnya diprakarsai dan didanai oleh Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI). Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea menyebutnya sebagai bentuk nyata gotong royong kaum buruh untuk menghormati perjuangan salah satu anggota mereka.

"Kami bangun dalam waktu hanya dalam 4 bulan, kami bangun museum sekaligus rumah singgah untuk peziarah dan kami gratiskan," kata Andi kepada Presiden Prabowo saat mendampingi peninjauan museum.

Presiden Prabowo tampak terpukau mendengar penjelasan itu. Ia berkeliling museum dengan saksama, membaca setiap tulisan di dinding, berhenti lama di depan sejumlah koleksi, dan sesekali tampak termenung di depan layar interaktif yang menampilkan rekam jejak perjuangan Marsinah.

Berdiri di Desa Kelahiran Marsinah

museum ibu marsinah
info gambar

room tour presiden di museum ibu marsinah | sumber ksp go id.jpg


Museum ini berdiri tepat di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, desa yang juga merupakan tanah kelahiran Marsinah. Sebelum memasuki gedung museum, Presiden Prabowo terlebih dahulu meninjau rumah asli tempat Marsinah tumbuh besar, yang kini dipertahankan dalam kondisi semirip mungkin dengan keadaan aslinya.

Bagi para pengunjung yang datang dari luar kota, museum ini juga menyediakan Rumah Singgah yang bisa digunakan gratis oleh para pengunjung, dengan syarat maksimal satu malam agar tidak beralih fungsi menjadi tempat tinggal permanen.

Keberadaan museum ini juga direspons positif oleh Kementerian Pariwisata. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menilai museum ini mampu memperkuat daya tarik Desa Wisata Nglundo sebagai destinasi wisata berbasis sejarah dan budaya, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi lokal.

Bukan Hanya Menyimpan Sejarah, Tapi Juga Semangat Juang Kaum Buruh

persemian museum marsinah oleh presiden | sumber : prabowosubianto dot com
info gambar

persemian museum marsinah oleh presiden | sumber : prabowosubianto dot com


Museum Ibu Marsinah dirancang bukan sekadar sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, melainkan sebagai ruang edukasi dan refleksi. Di dalamnya, pengunjung akan menemukan berbagai koleksi peninggalan Marsinah yang disusun secara naratif untuk menceritakan perjalanan hidupnya.

Koleksi yang dipamerkan antara lain baju seragam kerja pabrik yang pernah dikenakan Marsinah, tas dan dompet yang menemaninya bekerja, sepeda ontel yang ia gunakan sehari-hari, hingga dokumen pribadi seperti ijazah mulai jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Sejumlah piagam penghargaan dari berbagai organisasi buruh turut dipajang sebagai rekam jejak perjuangannya.

Di salah satu sudut museum, terpajang piagam penganugerahan gelar Pahlawan Nasional yang diberikan Presiden Prabowo kepada Marsinah pada 10 November 2025 lalu, momen bersejarah yang untuk pertama kalinya memberikan pengakuan resmi negara atas perjuangan buruh perempuan ini.

Museum ini juga dilengkapi dengan layar interaktif yang menampilkan dokumentasi digital perjalanan kasus Marsinah, serta cerita rekan-rekan seperjuangannya. Pengunjung bisa menyimak rekam jejak tuntutan para buruh PT Catur Putra Surya: kenaikan upah harian, tunjangan hari raya, hingga hak cuti hamil dan layanan kesehatan pekerja, tuntutan yang terasa sangat relevan bahkan hingga hari ini.

Pemerintah menegaskan bahwa museum ini bukan sekadar monumen nostalgia. Presiden Prabowo menyebutnya sebagai lambang dan tonggak peringatan atas keberanian seorang perempuan muda yang berjuang untuk hak-hak kaum yang tidak memiliki kekuasaan.

"Museum ini didirikan sebagai lambang, sebagai simbol dan sebagai tonggak peringatan untuk memperingati keberanian seorang pejuang. Seorang pejuang muda, seorang pejuang perempuan yang berjuang untuk hak-hak kaum buruh," tegasnya.

Lebih dari itu, museum ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya keadilan sosial, perlindungan hak asasi manusia, dan penghormatan terhadap perjuangan buruh. Dalam konteks yang lebih luas, museum ini juga memperkuat visi Borobudur sebagai living heritage — sebuah pengingat bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu, melainkan tentang nilai-nilai yang terus hidup dan relevan.

Siapa Marsinah?

Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Desa Nglundo, Nganjuk. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dan dikenal sebagai murid berprestasi yang sempat bercita-cita menjadi sarjana hukum, namun keterbatasan ekonomi membuatnya harus melepas impian itu.

Setelah lulus dari SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk pada 1987, Marsinah merantau ke Surabaya dan akhirnya bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik arloji di Porong, Sidoarjo. Di sana, ia dikenal vokal memperjuangkan hak-hak rekan-rekan kerjanya.

Perjuangannya memuncak pada Mei 1993 ketika ia dan rekan-rekannya melakukan aksi mogok kerja menuntut perbaikan upah dan kondisi kerja. Situasi memanas setelah 13 buruh dipaksa mengundurkan diri oleh aparat. Pada 5 Mei 1993, Marsinah mengajukan protes kepada perusahaan, dan malam itu, ia menghilang.

Tiga hari kemudian, jasad Marsinah ditemukan dalam kondisi penuh luka di sebuah gubuk di wilayah Nganjuk. Kasus pembunuhannya memicu kecaman nasional dan internasional. Sejumlah orang sempat diadili, namun Mahkamah Agung membebaskan seluruh terdakwa pada 1995. Hingga kini, pelaku utamanya belum terungkap, dan kasus ini dicatat sebagai salah satu dugaan pelanggaran HAM berat pada era Orde Baru.

Lebih dari tiga dekade berlalu, Marsinah tidak pernah terlupakan. Pada 10 November 2025, ia resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional dan kini, namanya diabadikan dalam sebuah museum di tanah tempat ia lahir, sebagai pengingat bahwa keberanian tidak selalu datang dari mereka yang berkuasa.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Meita Astaningrum lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Meita Astaningrum.

MA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.