Awal bulan Hijriah menjadi perhatian penting bagi seluruh umat Islam. Pergantian bulan dapat menjadi momen untuk memperbaiki diri dan lebih giat beribadah. Penetapan bulan baru harus tepat agar dapat melakukan amalan-amalan dengan maksimal.
Berikut informasi mengenai penetapan 1 Zulhijah 1447 H dengan metode yang digunakan Kementerian Agama dan Muhammadiyah, serta keutamaan bulan Zulhijah untuk umat Islam.
Penetapan 1 Zulhijah 1447 H
Pemerintah melalui Kementerian Agama menentukan awal bulan Hijriah menggunakan metode hisab dan rukyat, lalu menetapkannya lewat sidang isbat. Melansir dari situs MUI Digital, metode hisab adalah menggunakan perhitungan ilmu falak atau ilmu astronomi, serta matematis untuk menentukan awal bulan.
Dengan metode hisab, jika sudah diperhitungkan, hilal tidak perlu benar-benar dilihat secara langsung. Metode ini juga memungkinkan untuk mengetahui penanggalan bulan di tahun-tahun berikutnya dari sekarang.
Sedangkan metode rukyat yaitu melihat hilal atau bulan baru dengan mata kepala secara langsung atau menggunakan alat bantu, seperti teropong. Untuk menentukan awal bulan, hilal harus benar-benar terlihat secara pasti pada kriteria tertentu.
Indonesia mengikuti kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) MABIMS yaitu, ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari tenggelam dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat.
Setelah hasil dari kedua metode didapatkan, selanjutnya diselenggarakan sidang isbat untuk menyatukan kedua hasil dan menetapkan awal bulan dengan akurat.
Secara resmi, awal bulan Zulhijah 1447 H masih belum ditentukan, karena sidang isbat baru akan dilangsungkan pada 17 Mei 2026 yang bertepatan dengan 29 Zulkaidah 1447 H.
Namun untuk bersiap, Kawan dapat melihat perkiraan awal bulan Zulhijah melalui kalender Hijriah yang telah dirilis oleh Kemenag. Berdasarkan kalender Hijriah tersebut, 1 Zulhijah 1447 H akan jatuh pada 18 Mei 2026.
Melansir dari situs Kemenag, pemantauan hilal untuk bulan Zulhijah tahun ini dilakukan di 88 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan untuk perhitungan hisabnya, ijtimak menjelang Zulhijah 1447 H akan terjadi pada 17 Mei 2026, sekitar pukul 03.00.55 WIB.
Saat rukyat dilaksanakan, perkiraan posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 3° 37’ 51” hingga 6° 54’ 23”. Serta sudut elongasinya berada di antara 8° 58’ 23” hingga 10° 36’ 52”.
Berbeda dengan metode yang digunakan Kemenag, Muhammadiyah menggunakan metode hisab yang dikembangkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid dengan menggunakan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sehingga tanggal yang telah ditetapkan tidak akan berubah.
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 yang dirilis di Yogyakarta pada 22 September 2025, Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada 18 Mei 2026.
Keutamaan Bulan Zulhijah
Bulan Zulhijah sebagai bulan penutup tahun hijriah berisi berbagai kemuliaan dan keautamaan di dalamnya. Bulan termasuk ke dalam bulan haram yaitu, bulan suci yang dicintai Allah SWT. Pada bulan ini, seluruh umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal, karena setiap amal yang dikerjakan pahala yang didapat akan dilipat gandakan.
Bulan ini dibuka dengan ibadah puasa sunah di 10 hari pertama yang disukai Allah SWT. Dilanjutkan dengan rangkaian ibadah haji yaitu, wukuf di Arafah pada hari ke-9 di bulan Zulhijah yang dikenal dengan hari Arafah. Bagi umat muslim yang tidak sedang menjalankan ibadah haji, sangat dianjurkan untuk berpuasa pada hari ini.
Selain ibadah haji, pada bulan ini juga terdapat Hari Raya Iduladha dan ibadah kurban. Ibadah kurban bukan hanya proses menyembelih hewan, namun menjadi cerminan dari rasa ikhlas, takwa, serta kepedulian terhadap sesama.
Lalu ada hari tasyrik di tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Melansir dari situs jombang.nu.or.id, pada hari tasyrik umat islam tidak boleh berpuasa karena dianjurkan untuk bersyukur dan menikmati nikmat yang telah diberikan Allah SWT dengan makan dan minum.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ بِشْرِ بْنِ سُحَيْمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ فَقَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ هَذِهِ الْأَيَّامَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Bisyr bin Suhaim berkata bahwa pada hari-hari Tasyrik, Rasulullah pernah berkhutbah, beliau mengatakan, “Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang bersih, dan ini adalah hari-hari makan dan minum.” (HR. Ibnu Majah)
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


