Ada yang pernah mendengar soal Pulau Morotai? Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar sekaligus terdepan di Maluku Utara.
Secara administratif, Pulau Morotai setingkat dengan kabupaten. Dengan total luas sekitar 2.336,15 km2, Kabupaten Pulau Morotai baru diresmikan pada 29 Oktober 2008 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Halmahera Utara.
Morotai dikelilingi oleh perairan. Bagian utaranya berbatasan dengan Samudra Pasifik, sebelah timur dengan Laut Halmahera, selatan dengan Selat Morotai, dan sisi barat dengan Laut Halmahera.
Daerah Terluar yang Dikembangkan Jadi Kawasan Ekonomi Khusus
Meskipun menjadi salah satu daerah terluar sekaligus terdepa Indonesia, Pulau Morotai ternyata merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). KEK Morotai ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2014.
Dengan luas area KEK yang mencapai 1.101,76 hektare, KEK Morotai dianggap menjadi kawasan yang unggul, utamanya dari sisi geostrategis. Pulau Morotai berada di sisi timur laut Indonesia dan “dekat” dengan negara-negara ASEAN serta Asia Timur.
Disadur dari situs resmi KEK, pulau cantik ini memiliki keunggulan bahari yang ciamik. Banyak wisata alam, utamanya pantai, yang sangat indah. Hal ini cocok untuk dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisata unggulan.
Bahkan, tahun 2016 silam, Pulau Morotai juga ditetapkan sebagai 10 destinasi wisata utama di Indonesia untuk dijadikan sebagai “Bali Baru”. Potensi wisatanya begitu besar sehingga pengelolaannya pun harus dilakukan dengan terpadu.
Selain itu, sebagai kawasan yang dilintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III sekaligus jalur migrasi ikan tuna, KEK Morotai menjadi sumber bahan baku bagi industri pengolahan perikanan. Tak hanya itu, KEK Morotai juga bisa berkembang menjadi hub internasional di kawasan timur Indonesia. Lokasi Morotai yang strategis ini menjadikannya sebagai gerbang internasional untuk akses ekspor-impor dan jalur perdagangan di Indonesia Timur.
Ditambah lagi, Morotai “cukup berbeda” dengan destinasi wisata lain di Indonesia karena memiliki sejarah panjang, salah satunya sebagai basis pertahanan saat Perang Dunia II. Dengan keunggulan ini, KEK Morotai diproyeksikan bisa menarik investasi hingga Rp30,44 triliun.
Saksi Bisu Perang Dunia II
Tak lengkap rasanya jika membahas Morotai tanpa membahas sejarah panjangnya sebagai kawasan strategis yang pernah dijadikan pangkalan militer di masa Perang Dunia II. Tahun 1942, Jepang menjadikan salah satu titik di pulau ini sebagai lapagan terbang.
Namun, pulau ini kemudian diambil alih oleh Amerika Serikat pasca pertempuran hebat pada 1944. Amerika pun menggunakan pulau ini sebagai salah satu pangkalan strategis Sekutu.
Uniknya, jejak-jejak peninggalan Jepang dan Amerika Serikat ternyata masih bisa ditemukan di Pulau Morotai. Peralatan perang, alat makan-minum, sampai uang-uang yang digunakan sebagai alat bertransaksi kala itu disimpan di Museum Perang Dunia II dan Museum Trikora.
Sebagai informasi, Pulau Morotai punya 33 pulau kecil di sekitarnya. Dari 33 pulau itu, hanya tujuh yang dihuni, yakni Pulau Morotai itu sendiri, Pulau Kolorai, Pulau Ngele-ngele Kecil, Pulua Ngele-ngele Besar, Pulau Golo-golo, Pulau Rao, dan Pulau Saminyamau.
Namun, meskipun banyak pulau yang tidak dihuni, pulau-pulau tersebut dijadikan sebagai tempat wisata populer. Beberapa di antaranya bahkan memiliki tempat diving yang dilengkapi dengan bangkai pesawat-pesawat Sekutu yang tenggelam di masa Perang Dunia II.
Selain itu, ada pula Patung Mac Arthur di Pulau Zum-zum. Patung ini konon dibuat untuk mengabadikan persembunyian sang Jenderal yang memimpin Sekutu saat ingin merebut Morotai dari Jepang di Perang Dunia II di kawasan Pasifik.
Uniknya lagi, ada Monumen Teruo Nakamura. Ia adalah prajurit Jepang yang kabur ke hutan saat Sekutu menyerang Morotai di bulan September 1944.
Jika Kawan GNFI pernah mendengar cerita seorang prajurit Jepang yang tinggal di hutan dan tidak sadar bahwa Perang Dunia II sudah berakhir, itulah Teruo Nakamura. Keberadaannya ini baru diketahui di tahun 1974 oleh warga.
Akan tetapi, saat akan dipulangkan ke Jepang, baru diketahui jika ternyata ia adalah orang Taiwan yang masuk ke unit sukarela Takasago Angkatan Darat Kekaisaran Jepang di Perang Dunia II. Nah, sebagai pengingat dan bukti jika Morotai adalah kawasan dengan peran strategis, dibangunlah Monumen Teruo Nakamura di sana. Unik, ya!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


