pameran majalah horison hadir di pds hb jassin bernostalgia dengan media sastra indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Pameran Majalah Horison Hadir di PDS HB Jassin, Bernostalgia dengan Media Sastra Terkemuka Indonesia

Pameran Majalah Horison Hadir di PDS HB Jassin, Bernostalgia dengan Media Sastra Terkemuka Indonesia
images info

Pameran Majalah Horison Hadir di PDS HB Jassin, Bernostalgia dengan Media Sastra Terkemuka Indonesia


Jauh sebelum era digital, para sastrawan Indonesia berlomba-lomba memamerkan karyanya melalui media cetak. Selain melalui media koran, karya mereka bisa terpampang pula dalam bentuk majalah yang biasanya penyeleksiannya lebih ketat.

Setelah Pandji Poestaka yang terbit pada era kolonialisme Belanda, majalah sastra Indonesia terkemuka lain yang beredar kemudian ialah Horison. Terbit pada masa awal Orde Baru atau tepatnya pada Juli 1966 di Jakarta, majalah ini didirikan oleh sejumlah tokoh sastra yang menancapkan legasinya di ranah ini yaitu Mochtar Lubis, P.K. Ojong, Zaini, Arief Budiman, dan Taufiq Ismail.

Dari puisi, cerita pendek, hingga kritik-kritik sastra dari begawan terpampang di tiap edisi Horison. Nama-nama baru pun muncul dan menjadi fondasi baru bagi dunia sastra Indonesia, sebut saja Goenawan Mohamad sampai Sapardi Djoko Damono.

Tiap edisi majalah Horison memiliki kekhasan dari segi cover hingga isi. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
info gambar

Tiap edisi majalah Horison memiliki kekhasan dari segi cover hingga isi. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)


Tidak seperti sejumlah majalah sastra lainnya, Horison terus bertahan lama sampai masuknya era internet. Karena tuntutan zaman, Horison lantas mengalihkan majalah versi cetak ke versi daring pada usianya yang ke-50. Sejumlah edisinya pun sudah bebas akses via Wikimedia Commons berkat kerja sama dengan Wikimedia Indonesia.

Kini setelah satu dekade nama majalah Horison seolah ditelan bumi, atau bahkan mungkin tidak dikenali generasi muda. Untuk membangkitkan kenangan itu, sebuah pameran bertajuk “Yang Terbit, Yang Tenggelam: 60 Tahun Majalah Horison” digelar oleh Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Cikini, Jakarta mulai pada 10 Mei 2026.

Kurator pameran, Esha Tegar Putra memberi penjelasan seluk beluk tiap edisi majalah Horison yang dipamerkan. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
info gambar

Kurator pameran, Esha Tegar Putra memberi penjelasan seluk beluk tiap edisi majalah Horison yang dipamerkan. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)


“Di pameran 60 tahun Horison ini ada beberapa section, yang pertama ada beberapa ilustrasi. Jadi Horison pada dasarnya dekat dengan seni rupa juga karena dari awal 60 tahun itu menggunakan ilustrastor,” ucap Esha Tegar Putra, kurator pameran tersebut kepada Good News From Indonesia saat memberi penjelasan di ruang pameran pada Minggu (10/5/2026).

Dalam pameran tersebut dipamerkan sejumlah koleksi majalah, informasi lini masa, hingga desain sampul yang sarat akan karya seni rupa. Tak lupa pula foto-foto pagelaran sastra tempo dulu yang masih berhubungan dengan Horison ikut dipajang.

Sejumlah foto pagelaran sastra tempo dulu turut dipajang. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
info gambar

Sejumlah foto pagelaran sastra tempo dulu turut dipajang. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)


“Ini (foto) sebenarnya arsip Dewan Kesenian Jakarta. Tapi semua acara-acara ini sebenarnya berhubungan dengan Horison karena ini membuat sastrawan menjadi tolok ukur di wadah-wadah sosial,” kata Esha.

Selain benda koleksi, tersedia pula bagian di ruang pameran yang menghadirkan permainan papan “Who Is It?” yang menampilkan paras sejumlah tokoh sastra Indonesia, sehingga pengunjung dijamin bisa jauh dari kata bosan. Pameran ini sendiri akan berlangsung hingga 24 Mei. Yuk, mari berkunjung dan bernostalgia dengan Horison!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.