kawasan industri kita ternyata haus tapi sekarang ada teknologi pengolah air yang hemat lahan - News | Good News From Indonesia 2026

Kawasan Industri Kita Ternyata “Haus”, Tapi Sekarang Ada Teknologi Pengolah Air yang Hemat Lahan

Kawasan Industri Kita Ternyata “Haus”, Tapi Sekarang Ada Teknologi Pengolah Air yang Hemat Lahan
images info

Kawasan Industri Kita Ternyata “Haus”, Tapi Sekarang Ada Teknologi Pengolah Air yang Hemat Lahan


Kawasan industri di Indonesia tumbuh sangat masif belakangan ini. Sampai tahun 2025 saja, tercatat ada 176 kawasan industri dengan total luas lahan hampir menyentuh 100 ribu hektare.

Pertumbuhan yang mencapai hampir 50 persen dalam lima tahun terakhir ini membawa satu konsekuensi, yaitu kebutuhan air bersih dan pengelolaan limbah yang melonjak tajam.

Selama ini, infrastruktur pengolahan air sering kali dianggap sebagai beban biaya yang membuat operasional industri terasa berat.

Hal ini bertujuan untuk menghadirkan solusi pengolahan air yang lebih terpadu dan sirkular. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggandeng Qiaoyin City Management dan Himpunan Kawasan Industri (HKI) untuk membawa teknologi baru bernama DIAB (Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor). 

Teknologi ini diharapkan menjadi jawaban bagi kawasan industri yang ingin menerapkan standar industri hijau tanpa harus mengorbankan efisiensi lahan dan modal.

 

Teknologi DIAB: Hemat Lahan dan Pangkas Biaya

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan bahwa penguatan infrastruktur pengolahan air merupakan prioritas dalam pengembangan kawasan industri hijau.

Biasanya, instalasi pengolahan air limbah pabrik identik dengan lahan luas berhektare-hektare yang isinya kolam-kolam besar.

Di sinilah teknologi DIAB mencoba masuk memberikan alternatif. Teknologi ini diklaim mampu memangkas kebutuhan lahan hingga 60 persen dibandingkan metode konvensional.

Bagi pengelola kawasan industri yang tanahnya sudah makin terbatas, efisiensi lahan ini tentu menjadi poin yang menarik.

Selain urusan lahan, sisi finansial juga menjadi daya tarik utama. Implementasi teknologi ini disebut mampu memangkas biaya pembangunan fasilitas hingga 20 persen.

Hal ini dimungkinkan karena penggunaan sistem prefabrikasi atau komponen siap pasang yang membuat proses instalasi empat kali lebih cepat. Jadi, pengelola kawasan tidak perlu menunggu bertahun-tahun hanya untuk memiliki sistem pengelolaan limbah yang layak.

Lima kawasan industri di Indonesia bakal menjadi lokasi proyek percontohan untuk teknologi ini selama enam bulan ke depan.

Model pengelolaan yang paling efektif dan gampang diterapkan secara massal juga sedang digiatkan. Jika proyek ini sukses, target industri hijau kita mungkin tidak cuma jadi jargon di media, tetapi benar-benar teruji di lapangan.

 

Mewujudkan Industri Hijau

Kerja sama ini sebenarnya adalah bukti bahwa pasar global sekarang makin cerewet soal lingkungan.

Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, menyadari bahwa jika kawasan industri kita tidak mau berbenah urusan limbah, daya saing kita bakal melorot. Investor zaman sekarang tidak hanya tanya soal akses jalan tol, tetapi juga tanya bagaimana nasib limbah yang mereka hasilkan setiap hari.

Harapannya, kolaborasi ini tidak hanya berhenti di proyek percontohan saja, tapi tetap berujung pada transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal, dan tumbuhnya industri berbasis inovasi.

Kalau infrastruktur pengolahan airnya sudah modern dan tidak merusak lingkungan, masyarakat sekitar juga tidak akan merasa terancam setiap kali ada pembangunan kawasan industri baru.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.