refleksi hari pendidikan nasional perlukah perempuan berpendidikan - News | Good News From Indonesia 2026

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Perlukah Perempuan Berpendidikan?

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Perlukah Perempuan Berpendidikan?
images info

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Perlukah Perempuan Berpendidikan?


Hari Pendidikan Nasional kerap menjadi pengingat untuk berhenti sejenak dan bertanya, apa sebenarnya arti pendidikan, dan sejauh mana ia membentuk cara manusia memahami dunia?

Pengalaman menempuh pendidikan dari D3, S1, hingga S2 memperlihatkan bahwa setiap jenjang tidak hanya menambah gelar, tetapi juga perlahan mengubah cara berpikir.

Pada tahap D3, pendidikan terasa sangat dekat dengan praktik. Ilmu tidak berhenti sebagai konsep, tetapi langsung digunakan dalam situasi nyata, yaitu untuk bekerja, menyelesaikan persoalan teknis, dan berhadapan dengan realitas di lapangan.

Memasuki S1, cara pandang mulai bergeser. Tidak lagi sekadar melakukan, tetapi juga mencoba memahami. Teori hadir sebagai alat untuk membaca fenomena sosial. Hal-hal yang sebelumnya tampak sederhana mulai terlihat lebih berlapis, yaitu ada pola, ada hubungan, ada proses yang saling memengaruhi.

baca juga

Di jenjang S2, cara berpikir menjadi semakin dalam. Pertanyaan tidak lagi berhenti pada apa yang terjadi, tetapi bergerak ke arah mengapa dan bagaimana sesuatu bisa terjadi. Penilaian pun tidak lagi tergesa-gesa. Ada upaya untuk melihat dari berbagai sisi, menimbang, lalu memahami.

Perubahan ini terasa nyata ketika berhadapan dengan masyarakat. Pada tahap awal, sebuah desa bisa saja terlihat sebagai “tertinggal”, memunculkan dorongan untuk membawa perubahan dan mengenalkan hal-hal baru. Ada anggapan, secara tidak sadar, bahwa yang datang mengetahui lebih banyak.

Namun, seiring waktu, cara pandang itu berubah. Menjadi lebih jelas bahwa setiap kondisi memiliki latar belakangnya sendiri, seperti sejarah, konteks, hingga alasan mengapa sesuatu berjalan seperti itu. Perubahan pun tidak pernah sesederhana yang dibayangkan.

Di titik ini, pendidikan tidak lagi sekadar menambah pengetahuan, tetapi mengajarkan kehati-hatian dalam menilai. Ada kesadaran bahwa memahami sering kali jauh lebih penting daripada sekadar menghakimi.

Dari situ, terlihat bahwa pendidikan tinggi bukan hanya soal ijazah atau pekerjaan. Ada fungsi yang lebih dalam: membuka wawasan, menumbuhkan kepekaan, dan melatih kemampuan memahami kehidupan secara lebih utuh. Pendidikan, pada akhirnya, bukan hanya membuat seseorang lebih pintar, tetapi juga lebih manusiawi.

baca juga

Lalu, Bagaimana dengan Perempuan? Perlukah Perempuan Berpendidikan Tinggi?

Jawabannya tetap perlu. Perempuan, terutama dalam perannya sebagai ibu, memiliki kedekatan yang sangat kuat dalam proses pembentukan karakter anak. Dari ruang yang paling awal dalam kehidupan, nilai-nilai dasar mulai ditanamkan, cara berpikir, cara bersikap, hingga cara memandang dunia.

Namun demikian, pendidikan tidak selalu harus dimaknai sebagai pendidikan formal yang tinggi. Tidak semua orang memiliki akses yang sama. Karena itu, yang tidak kalah penting adalah kemauan untuk terus belajar, yaitu terbuka pada hal baru, bersedia menyesuaikan diri, dan terus bertumbuh.

Di sisi lain, kematangan emosional juga memegang peran besar. Pendidikan formal dapat membantu, tetapi tidak sepenuhnya menentukan. Banyak orang tua dengan latar pendidikan sederhana justru mampu menanamkan nilai-nilai penting seperti adab, ketekunan, dan kegigihan.

Pada akhirnya, kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Kepintaran tanpa empati mudah kehilangan arah. Ia seperti gelas yang tampak utuh, tetapi tidak berisi.

Sebaliknya, ketika pengetahuan berjalan beriringan dengan kepekaan, di situlah kebijaksanaan tumbuh. Dari sana pula, seorang ibu dapat membimbing anak-anaknya menjadi manusia yang tidak hanya mampu berpikir, tetapi juga mampu memahami dan menghargai.

Sebagaimana disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah upaya menuntun potensi manusia agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Buya Hamka pun mengingatkan bahwa ilmu tanpa nilai akan kehilangan arah. Sementara Mohammad Hatta menekankan bahwa kecerdasan saja tidak cukup tanpa karakter.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang perlu atau tidaknya perempuan berpendidikan bukan lagi soal pilihan. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap perempuan memiliki kesempatan untuk belajar dalam bentuk apa pun. Karena dari sanalah, masa depan perlahan dibentuk.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RO
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.