culture dan care xpedition 1 arah pemuda sinergi merawat budaya dan aksi sosial di labuan bajo waerebo - Culture | Good News From Indonesia 2026

Culture & Care Xpedition #1 Arah Pemuda : Sinergi Merawat Budaya dan Aksi Sosial di Labuan Bajo-Waerebo

Culture & Care Xpedition #1 Arah Pemuda : Sinergi Merawat Budaya dan Aksi Sosial di Labuan Bajo-Waerebo
images info

Culture & Care Xpedition #1 Arah Pemuda : Sinergi Merawat Budaya dan Aksi Sosial di Labuan Bajo-Waerebo


Kawan GNFI, wajah pemberdayaan masyarakat di Indonesia perlahan mulai berubah. Model pengabdian lama yang sekadar membagikan bantuan materi kini mulai ditinggalkan. Anak-anak muda semakin sadar bahwa dampak yang benar-benar bertahan lama hanya bisa lahir dari kolaborasi yang erat dan pemahaman mendalam terhadap identitas lokal.

Membaca pergeseran inilah, Arah Pemuda Indonesia (API) meluncurkan program strategis bernama Culture & Care Xpedition #1 (CCX #1). Program ini hadir untuk menjadi standar baru dunia kerelawanan nasional, dengan menggabungkan dua hal yang sering kali berjalan terpisah, yaitu pelestarian warisan budaya nusantara dan aksi sosial yang terukur.

baca juga

Mengapa Memilih Labuan Bajo dan Waerebo?

Edisi perdana ekspedisi ini akan digelar pada 17–23 Juli 2026, dengan mengambil lokasi di Labuan Bajo dan Desa Adat Waerebo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemilihan lokasi ini tentu bukan tanpa alasan, Kawan.

Di tengah pesatnya pembangunan Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), daerah penyangga seperti Waerebo justru menghadapi tantangan yang cukup berat. Kearifan lokal masyarakatnya rentan tergerus arus modernitas yang kian deras.

Lewat CCX #1, Arah Pemuda ingin menjaga eksistensi "Kampung di Atas Awan" tersebut, sekaligus menghadirkan solusi konkret untuk isu sanitasi, literasi, dan kesehatan yang masih menjadi pekerjaan rumah masyarakat sekitar.

Konsep Human Centered Development yang Diusung

CCX #1 mengusung pendekatan Human Centered Development, yaitu konsep yang menjembatani kebutuhan relawan dengan aspirasi masyarakat lokal dalam sebuah sinergi yang saling menguntungkan.

Pada tahap awal, peserta akan menjalani imersi budaya selama tiga hari dua malam di Desa Waerebo. Para relawan menginap di Mbaru Niang, rumah adat berbentuk kerucut khas Waerebo, sambil mengamati langsung tatanan sosial setempat. Pengalaman ini menjadi fondasi agar program pengabdian yang dirancang nantinya benar-benar kontekstual, bukan sekadar tempelan.

Penguatan kapasitas peserta juga dilanjutkan lewat seminar intelektual bersama Sherly Annavita di Loccal Collection Hotel. Sesi ini dirancang khusus untuk menanamkan jiwa kepemimpinan strategis pada para peserta.

Secara operasional, pengabdian fisik akan dilakukan di Manggarai Barat melalui intervensi sanitasi dan literasi berbasis data lapangan. Tidak hanya itu, pengalaman peserta juga diperkaya dengan edukasi kemandirian pangan di Dapur Tara, serta ekspedisi bahari menggunakan kapal Phinisi dalam sesi Sailing Komodo. Ini menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap kekayaan nasional.

Tiga Pilar Penjamin Dampak Jangka Panjang

Agar dampaknya tidak berhenti saat program usai, strategi CCX #1 bertumpu pada tiga pilar utama yang patut Kawan ketahui.

Pertama, dokumentasi budaya. Para relawan diberdayakan sebagai kreator konten digital untuk memperluas jangkauan promosi kearifan lokal ke ranah global.

Kedua, aksi sosial berbasis data. Bantuan yang diberikan diarahkan untuk mendorong kemandirian komunitas, bukan sekadar bantuan konsumtif yang habis dipakai lalu selesai begitu saja.

Ketiga, lokakarya pemberdayaan. Di sini terjadi transfer pengetahuan praktis soal tata kelola wisata dan UMKM kepada penduduk lokal.

Ketiga pilar ini sebenarnya bermuara pada satu tujuan, yakni memberikan "instrumen kemandirian" pada masyarakat, supaya mereka memiliki daya saing ekonomi yang kuat dan bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Membangun Harapan dari Pelosok Negeri

Culture & Care Xpedition #1 menjadi bukti nyata bahwa sinergi anak muda dalam menanggapi isu lokal bisa menjadi motor penggerak kemajuan nasional. Program ini bukan sekadar paket wisata biasa, melainkan kurikulum lapangan yang dirancang untuk mengasah empati dan integritas melalui kerja nyata.

Harapannya, pasca-ekspedisi Juli 2026 nanti, akan lahir gelombang relawan baru yang memiliki kepekaan tinggi terhadap kearifan lokal dan mampu menjadi inisiator perubahan di lingkungan asalnya masing-masing.

Arah Pemuda pun berharap inisiatif ini mampu mengajak seluruh elemen kepemudaan untuk menciptakan dampak nyata dari pelosok, demi mewujudkan Indonesia yang lebih tangguh, mandiri, dan berbudaya.

Bagaimana Kawan, tertarik untuk menjadi bagian dari gerakan anak muda yang membawa perubahan ini?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.